Sabtu, 05 Oktober 2019

Menghilangkan Budaya Korupsi Melalui Pendidikan Dalam Keluarga & Sekolah

Tidak dapat disangkal lagi, bangsa kita menghadapi masalah yang sangat serius, yaitu kemerosotan moral. Kehidupan kita telah menyimpang dari nilai-nilai budaya dan cita-cita mulia kehidupan berbangsa. Gejalanya Nampak dalam :

  • Perilaku yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepada Alloh dan sesama manusia.
  • Perbuatan yang secara materi dan jasmani menguntungkan
  • Dalam kehidupan bersama, terutama kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, semakin tampak gejala meningkatnya egoism, konsumerisme dan materialism.
  • Ajaran agama seakan hanya sebagai tudung, tidak benar-benar dilaksanakan dalam perilaku dan hati nurani semakin di abaikan.
  • Untuk memperoleh harta dan jabatan, orang sampai hati mengorbankan kepentingan orang lain.
  • Uang menjadi segala-galanya / didewa-dewakan, sehingga harkat kemanusiaan di abaikan.
Karena gejala-gejala tersebut, masyarakat kita semakin dalam kondisi yang memprihatinkan. Keadilan dan kesejahteraan sangat sulit diwujudkan karena korupsi dan kerakusan meraja lela dan sepertinya sudah mengakar kuat. Mengapa korupsi / kerakusan menjadi begitu membudaya di Negara kita sehingga menjadi sesuatu yang sulit untuk di berantas? Jawabannya, kemungkinan karena kebiasaan-kebiasaan, perilaku dan sikap yang tertanam sejak anak masih kecil, dalam lingkungan keluarga atau sekolah.
Budaya Korupsi


Sebagai contoh, dalam manajemen pendidikan kehidupan keluarga sehari-hari, ayah atau ibu berperilaku menyimpang di depan anaknya. Ibu mengambil uang dari saku ayah  tanpa sepengetahuannya, belanja berlebihan / boros meski keuangan tidak sesuai, tidak jujur dalam mengelola uang, utang sana-sini, sering bohong untuk menutupi sesuatu. Ayah mungkin mengembangkan bisnis secara tidak sehat atau melakukan kecurangan-kecurangan yang diketahui oleh anaknya. Pengelolaan uang gaji yang tidak beres, sikap yang kurang menghargai pembantu dan orang-orang disekitarnya, secara tidak langsung memberi contoh yang kurang baik di depan anaknya.

Bila hal-hal yang menyimpang tadi sudah biasa dilakukan didepan anak-anak, lama kelamaan anak akan menyimpulkan bahwa kecurangan-kecurangan semacam itu adalah hal yang biasa dan akhirnya menyerapnya sebagai suatu budaya yang akan dibawanya kelak mereka dewasa dan harus memimpin kehidupan mereka sendiri-sendiri. hal buruk ini akan semakin kuat bila dalam keluarga tidak ada penggemblengan nilai-nilai luhur agama dan budi pekerti.

Sikap, perilaku dan kebiasaan yang kurang baik ini pun, kemungkinan bisa juga berkembang di lingkungan sekolah. Meskipun berfungsi sebagai lembaga pendidikan, sekolah kemungkinan juga bisa memberi iklim bagi tumbuhnya budaya buruk ini. Sebagai contoh, kurang ketatnya pengawasan sehingga memberi peluang bagi anak untuk melakukan kecurangan misalnya nyontek. Dengan nyontek, anak belajar mengambil makna bahwa seorang bisa mendapatkan jalan pintas : tidak belajar / bekerja keras tapi hasilnya bagus.

System pendidikan di sekolah yang terlalu menekan pengembang pada aspek kognitif (pengetahuan) yang lebih mengutamakan kecerdasan otak saja, juga bisa berdampak kurang bagus bagi perkembangan-perkembangan kepribadian anak didik. Mereka menjadi mengabaikan nilai-nilai luhur yang seharusnya terwujud dalam sikap dan prilaku. Prestasi / nilai ulangan menjadi prioritas, sehingga kurang memperhatikan keseimbangan kepribadian.

Bentuk bentuk korupsi disaat Kegiatan seleksi penerimaan siswa baru juga sering kali memungkinkan tumbuhnya kecurangan-kecurangan. Misalnya ada istilah “lewat pintu belakang” bagi yang tidak diterima lewat seleksi resmi. Munculnya isu “Tim sukses UAN” juga merupakan indikasi bahwa sekolah memungkinkan juga bisa memberikan iklim bagi berkembangnya budaya menghalalkan kecurangan.

Bagaimana mungkin kita mengharapkan muncul generasi yang baik bila pendidikan dasar di dalam keluarga sendiri mendukung berkembangnya kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik ? lebih-lebih bila hal ini di perkuat di sekolah. Bagaimana mungkin kita dapat mengharapkan lahirnya para pemimpin yang baik bila tidak dari awal di berikan iklim yang mendukung kearah itu?

Oleh karenanya, pemberantasan korupsi yang sulit, hendaklah jangan semata-mata menyalahkan aparat (termasuk jajaran kepolisisan), tapi juga menjadi tanggung jawab dari lembaga pendidikan, dalam keluarga maupun sekolah dan Perguruan Tinggi.
Marilah kita awali dari keluarga kita sendiri, pendampingan seperti apa yang perlu kita lakukan pada anak-anak kita, calon pemimpin di masa yang akan datang :
  • Pendidikan keagamaan sejak dini. Orang tua hendaklah menjadi teladan yang pertama dan utama dalam keluarga. Lewat tutur kata, sikap dan perbuatan baik. Ajaran agama hendaklah benar-benar dilaksanakan, bukan sekedar teori / dalam kata/kata.
  • Tumbuhnya iklim yang baik dan sehat di dalam keluarga : komunikasi yang terbuka, jujur, saling menghargai, penggunaan uang / materi/harta secara tepat guna, pemberian sanksi yang tepat pada saat anak melakukan pelanggaran, pujian/penghargaan saat anak berbuat baik dll.
Demikian juga di lingkungan sekolah. Sekolah hendaklah berfungsi benar-benar sebagai lembaga pendidikan. Proses pendidikan cirinya adalah dengan sengaja mengadakan perubahan kea rah yang lebih baik, dengan mengembangkan aspek kognitif (kecerdasan), psikomotorik (keterampilan) dan efektif (sikap). Sekolah-sekolah yang tertib dan berkualitas, akan menjaga kedisiplinan, sehingga tidak memberi peluang akan tindakan-tindakan curang.

Semoga lewat pentingnya pendidikan yang baik di dalam keluarga, kita dapat membantu menghadirkan generasi muda yang lebih berkualitas dan bebas dari korupsi

Menghilangkan Budaya Korupsi Melalui Pendidikan Dalam Keluarga & Sekolah Diposkan Oleh: Anton