Sabtu, 02 November 2019

Raja Fahd Bin Abdul Aziz Al-Saud membawa Arab menjadi negara modern

Dengan berpegang teguh pada hukum-hukum Islam sebagai landasannya bertindak, Raja Fahd membangun negaranya menjadi salah satu negara Islam yang modern di Jazirah Arab. Karena jiwa sosialnya tinggi dan selalu berusaha membantu sesama manusia, ia menjadi pemimpin negara yang sangat disegani di seluruh dunia. Berkat perhatian besarnya pada bidang kesehatan, kesejahteraan rakyatnya, ia dinominasikan untuk meraih penghargaan internasional di bidang kesehatan dari WHO.

Raja Fahd lahir tahun 1921 di Riyadh. la adalah putra Raja Abdul Azis bin Abd al-Rahman bin Faysal Al-Saud dengan istri ke enam yang paling disayanginya , Hussa binti Ahmed Al-Sudairi. Raja Fadh adalah anak pertama dari tujuh bersaudara yang dikenal dengan nama “The Sudairi Seven", yaitu Raja Fahd, Pangeran Sultan (Deputy Kedua Perdana Menteri dan juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan),Pangeran Abdul Al-Rahman (Deputy Menteri Pertahanan), Pangeran Nayif (Menteri Dalam Negeri), Pangeran Salman (Gubernur Propinsi Riyadh), Pangeran Ahmad dan Pangeran Turki. Raia Fahd memiliki 3 orane istri (Anud,Jawza dan Jawara) serta dikaruniai 8 orang putra dan 5 orang putri.

MENOMORSATUKAN PENDIDIKAN

Raia Fahd menehabiskan masa muda dengan menuntut ilmu di sek negeri pertama yang berdiri di A la banyak di pengaruhi ayahnya, Abdul Aziz, yang mengajarkannya tang agama, sejarah dan kebuda Arab. Tahun 1953, ia menjadi Menteri Pendidikan yang pertama di Arab. Di bawah kepemimpinannya, kementerian baru ini membangun sebuah yayasan yang menjalankan sistem pendidikan sekolah secara internasional. Beberapa tahun kemudian, ia mencoba mengingat kembali ke masa tersebut, dan mengatakan, “Saat itu hanya ada satu sekolah lanjutan di Kerajaan kita ini, yaitu di Mekkah. Dan jumlah siswa yang bersekolah di Arab Saudi pada masa itu hanya sekitar 30 ribu orang."

Saat ini, sekitar 3,2 juta mahasiswa berkuliah di tujuh universitas, 83 akademi dan lebih dari 18 ribu sekolah, di seluruh negeri. Di bawah kesuksesan rencana pembangunan selama lima tahun, negara ini telah meletakkan landasan yang sangat kuat bagi Pembangunan sumber daya manusianya dan membuat beberapa program pelatihan tehnik yang sangat penting di beberapa institusi pendidikannya.

Di semua level dasar, Raja Fahd terus melanjutkan usahanya untuk meyakinkan betapa pentingnya pendidikan kepada seluruh rakyatnya.

“Semua usaha untuk mencapai kesuksesan membangun sebuah masyarakat yang sedang berkembang tidak akan bisa tercapai,” katanya, “kecuali kita bisa menghapuskan buta huruf dari negeri kita ini. Anggaplah ini adalah tugas penting dan tanggung jawab kita bersama."

Ketika ia terpilih sebagai Menteri Dalam Negeri pada tahun 1962, Raja Fahd, yang saat itu masih berstatus sebagai Pangeran, secara rutin berkeliling ke seluruh negeri, dan mencoba untuk lebih mendekatkan diri dengan rakyatnya yang tersebar di berbagai propinsi.

Pada tahun 1967, ia juga menjabat sebagai Deputy Kedua Perdana Menteri. Sebagai Deputy Kedua Perdana Menteri ia sering menghadiri pertemuan reguler di Kantor Perdana Menteri.

la menjabat sebagai pemimpin Arab sekaligus sebagai Perdana Menteri, pada tanggal 13 Juni 1982, menggantikan saudara tirinya, Pangeran Khalid. Berbeda dengan kerajaan lainnya, Raja Fahd mengangkat saudara tirinya, Pangeran Abdullah, sebagai Putra Mahkota dan Deputy Pertama Perdana Menteri. Adiknya, Pangeran Sultan, otomatis menjadi orang di urutan kedua setelah Pangeran Abdullah, yang akan menggantikannya sebagai pemimpin Arab.
King Fahd University
King Fahd University

MENJALIN HUBUNGAN INTERNASIONAL YANG BAIK

Raja Fahd tergolong masih muda ketika mulai diperkenalkan ke dunia politik dan diplomasi internasional. Pada tahun 1945, saat masih berusia 24 tahun, ia menemani kakaknya, Pangeran Faisal Bin Abdul Aziz, ke acara penandatanganan Piagam PBB di San Francisco. Beberapa tahun kemudian, tahun 1953, ia berkunjung ke Inggris Raya pada saat upacara pemahkotaan Ratu Elisabeth II. Tujuannya untuk lebih memperkenalkan Arab.

Pengalamannya di bidang hubungan internasional sangatlah berharga bagi negaranya. Karena ketika Kerajaan Arab Saudi mulai menjadi salah satu negara pemimpin dunia, Raja Fahd, yang saat itu masih menjabat sebagai pangeran, adalah orang yang bertanggung jawab terhadap hal itu.

la memimpin delegasi Arab Saudi ke konferensi negara-negara Liga Arab di Maroko pada tahun 1959 dan di Libanon pada tahun 1960. la juga mengadakan diskusi mengenai perkembangan Semenanjung Arab dengan Presiden Perancis, Charles de Gaulle, pada tahun 1967, dan dengan Inggris pada tahun 1970.

Tahun 1974, Pangeran Fahd mengadakan kunjungan kerja yang pertama ke Amerika Serikat, dan melakukan diskusi panjang dengan Presiden Richard Nixon, la juga bernegosiasi dengan pihak AS tentang hubungan Arab Saudi-Amerika Serikat, yang akhirnya bermuara pada terbentuknya Komisi Gabungan Arab Saudi-AS dalam bidang Ekonomi di Cupertino.

Pangeran Fahd menyambut baik persetujuan ini. “Sebuah pembukaan yang sangat baik dalam hubungan baru ‘antara dua negara’ yang diharapkan akan berjalan dengan baik.” Perdana Menteri Amerika Serikat, Henry Kissinger melihat hubungan ini sebagai “sebagai batu loncatan yang baik bagi hubungan Arab dan Amerika”.

Di bidang hubungan internasional dengan negara-negara asing, Raja Fahd berhasil ikut membantu penyelesaian masalah Palestina, Libanon dan Afghanistan. la turut berperan aktif dalam konferensi atau pertemuan yang diadakan sehubungan dengan pencarian jalan keluar untuk menyelesaikan permasalahan negara-negara tersebut. Dalam masalah Perang Teluk, sebagai perwakilan negara-negara muslim, Raja Fahd sangat aktif membantu mencari jalan keluar bagi penyelesaian perang antara Kuwait dan Irak, la juga memberikan bantuan yang sangat besar bagi rakyat Bosnia, bahkan ia mengetuai sebuah yayasan pengumpul dana bantuan bagi rakyat Bosnia.

Memang diakui oleh dunia bahwa Raja Fahd merupakan salah seorang pemimpin yang berpandangan jauh ke depan berjiwa sosial dan memberi perhatian pada kehidupan sesama manusia.
king fahd mosque bosnia
king fahd mosque bosnia
PEMIMPIN YANG BERPANDANGAN MODERN
Pangeran Fahd menjadi Pangeran Mahkota dan Deputy Perdana Menteri pada bulan Maret 1975, ketika Khalid Bin Abdul Aziz dinobatkan men jadi Raja. Pertumbuhan kerajaan Arab dan Islam, meminta perhatian Pangeran Mahkota Fahd untuk meningkatkan peran aktifnya dalam hubungan internasional.

Salah satu peran pentingnya di bidang politik luar negeri adalah menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat: Pertemuannya dengan Presiden Jimm, Carter berhasil menemukan penyelesaian konflik antara Arab dengan Israel. Jalan keluar permasalahan tersebut akhirnya dituangkan dalam “Delapan Rencana Perdamaian”, yang diumumkan pada bulan Agustus 1981.

Selain itu ia juga mengetuai langsung pembangunan yang intensif di Arab. Ia juga berperan aktif dalam pembangunan masa lima tahun yang kedua dan ketiga, yang dicanangkan di Arab pada tahun 1975-79 dan 1980-84.

Raja Fahd menaruh perhatian yang sangat besar pada kehidupan dan kesejahteraan rakyatnya, la selalu beri saha untuk terus meningkatkan pembangunan di negaranya. Bahkan ia tak segan-segan me nggunakan mete de baru dalam usahanya meningkatkan taraf ke hidupan dan ke sejahteraan rakyatnya.

Pada tanggal 1 Maret 1992, ia memperkenalkan Hukum Dasar Kepemerintahan, dan pada tahun yang sama lajuga mengadakan restrukturisasi Majlis Al-Shoura (Dewan Penasehat). la mulai menggunakan sistem pembagian wilayah propinsi di Arab. Pada tahun berikutnya ia mulai memperkenalkan sistem pemerintahan baru dengan Perdana Menteri sebagai pemimpin pemerintahan.

Sebagai Pelindung Dua Mesjid Agung di Mekkah, ia melakukan pembangunan besar-besaran terhadap kedua mesjid tersebut, baik ukuran dan luas, juga dari segi fasilitas yang diberikan kepada umat muslim seluruh dunia yang menunaikan ibadah haji di sana. Semua itu dilakukannya karena kecintaannya kepada negara dan agama. Dengan kata lain, Raja Fahd merupakan pemimpin Arab yang membawa Arab menjadi negara modern berlandaskan hukum Islam.
Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud
Raja Fahd bin Abdul Aziz Al-Saud. Nagarawan yang disegani dunia, berhasil membawa Arab Saudi menjadi negara Islam modern di Jazirah Arab.

KONDISI KESEHATAN YANG SEMAKIN MENURUN

Di usianya yang sudah tua, 80 tahun, Raja'Fahd mengalami banyak gangguan kesehatan, seperti orang-orang lanjut usia lainnya. Pada tahun 1999, Raja Fahd menjalani operasi pengangkatan gumpalan darah di matanya. 0-perasi tersebut dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1999 di Rumah Sakit Riyadh.

Pada tanggal 12 Agustus tahun berikutnya Raja Fahd menjalani sebuah operasi lagi untuk mengatasi pembengkakan di pembuluh darahnya. Operasi tersebut dilakukan di Rumah Sakit Khusus Raja Faisal. Ketika dimintai keterangan, pihak rumah sakit mengaku bahwa Raja Fahd memang telah mengalami banyak gangguan kesehatan sejak beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 1994, ia menjalani operasi bypass dan pada tahun 1995, ia terserang stroke untuk pertama kalinya.

Demi kesehatannya, beberapa orang terdekatnya beberapa kali menyarankan pada Raja Fahd agar berobat dan beristirahat di luar negeri serta menyerahkan urusan pemerintahan kepada mereka. Hal ini dilakukan mengingat kondisi ingatannya yang sudah sangat menurun.

Pernah suatu saat, ketika ia sedang berada dalam perawatan di rumah sakit, beberapa orang keluarganya datang untuk menjenguknya. Namun ketika para pengunjung tersebut pulang, Raja Fahd sama sekali tidak mengenali mereka.
Unmark Grave Raja Fahd
Unmark Grave Raja Fahd


DINOMINASIKAN MERAIH PENGHARGAAN DARI WHO

Mungkin berkaitan dengan kondisi kesehatan pemimpinnya, sejak tahun 1984, pemerintah Arab Saudi melarang merokok di semua kantor lembaga pemerintahan dan di tempat-tempat umum. Di samping itu, pemerintah juga menaikkan bea masuk bagi import rokok hingga mencapai 100 persen. Lalu pada tahun 1986, sebuah fatwa ulama Arab Saudi dikeluarkan untuk mengharamkan rokok, karena dianggap mengancam kesehatan manusia.

Karena program tersebut dianggap sangat berhasil dalam usaha ‘menyehatkan’ kota dan masyarakatnya, akhirnya WHO menetapkan kota Madinah Al-Munawwarah sebagai “kota bebas polusi asap rokok”. Penetapan tersebut dilaksanakan setelah pada bulan Mei, pemerintah Arab Saudi mengajukan kota Madinah Al-Munawwarah sebagai nominasi kota bebas polusi asap rokok yang dilombakan oleh WHO.

Belakangan, pemerintah Arab Saudi bekerjasama dengan kaum ulama setempat sangat gia: melancarkan kampanye anti-rokok. Bahkan, menurut kantor berita Arab SPA, dalam tahun 2001 ini, pemerintah menyediakan dana sebesar 42 juta Real (sekitar 11,2 juta dolar AS) untui-biaya kampanye nasional anti-rokok..

“Kampanye anti-rokok ini, disamping sebagai upaya menjaga kesehatar masyarakat, juga untuk meraih penghargaan WHO,” kata Ketua Komite Kampanye Nasional Anti-rokok, Ali Muhammad Al-Umri.

Setelah kota Madinah Al-Munawwa rah ditetapkan WHO sebagai kota be bas polusi asap rokok, WHO kemba menominasikan Raja Fahd bin Abdi Aziz untuk meraih penghargaan internasional menyangkut perlindungan kesehatan masyarakat.

Nominasi Raja Fahd untuk meraih penghargaan internasional itu berkaitan erat dengan penilaian WHO atas keberhasilan kampanye anti-rokok yang dilancarkan pemerintah Arab Saudi. Menurut sebuah sumber dari WHO, mereka merasa sangat terhormat karena bisa menominasikan Raja Fahd untuk meraih penghargaan internasional tersebut.

Rupanya selain menjadi pemimpin negara yang berpandangan jauh ke depan, hingga bisa membawa Arab Sauc menjadi salah satu negara modern Jazirah Arab, Raja Fahd juga sangat memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya. Kiprahnya yang sangat besar di dunia internasional akhirnya menempatkan Raja Fahd sebagai salah satu pemimpin negara yang sangat disegani dunia. AN

Raja Fahd Bin Abdul Aziz Al-Saud membawa Arab menjadi negara modern Diposkan Oleh: Anton