Sejarah, Keyakinan, dan Praktik Keagamaan Druze

Sejarah dan keberagaman agama di Timur Tengah telah membawa banyak pengaruh dan kontribusi bagi perkembangan sejarah dunia. Salah satu kelompok agama yang unik dan menarik untuk dipelajari adalah Druze, sebuah kelompok agama minoritas yang tersebar di negara-negara Timur Tengah seperti Lebanon, Suriah, Israel, dan Yordania. Meskipun mereka merupakan kelompok minoritas, Druze memiliki pengaruh yang signifikan dalam sejarah dan budaya Timur Tengah.

Dalam artikel ini, kami akan membahas sejarah, keyakinan, dan praktik keagamaan Druze. Kami akan menjelaskan secara rinci tentang kepercayaan dasar mereka, serta bagaimana keyakinan dan praktik keagamaan mereka mempengaruhi cara hidup sehari-hari dan hubungan dengan orang lain. Dengan memahami tempat Druze dalam sejarah dan keberagaman agama Timur Tengah, kita dapat memperkaya pemahaman kita tentang sejarah dan agama di kawasan ini.

Para pemeluk agama Druze berkumpul untuk upacara keagamaan
Para pemeluk agama Druze berkumpul dalam upacara keagamaan untuk memperkuat ikatan komunitas dan penghormatan terhadap tradisi mereka.

Siapa itu orang orang Druze?

Druze adalah sebuah komunitas agama minoritas yang misterius dan eksklusif di wilayah Levant, yang mencakup wilayah Lebanon, Suriah, dan Israel. Komunitas Druze memiliki sejarah yang panjang dan unik yang mencakup aspek-aspek dari Islam, Kristen, Yahudi, Zoroastrian, dan agama-agama lainnya.

A. Asal-usul Nama dan Penamaan "Druze"

Kata "Druze" sendiri berasal dari nama seorang tokoh religius bernama Muhammad al-Darazi, yang merupakan pendukung dari Hamza ibn 'Ali, seorang imam Ismailiyya pada abad ke-10. Namun, komunitas Druze sendiri tidak mengakui al-Darazi sebagai pendiri agama mereka.

B. Identitas dan Kepercayaan Druze

Druze mengidentifikasi diri mereka sebagai orang-orang yang beriman pada satu Tuhan yang sama dengan umat Muslim, namun mereka memiliki kepercayaan dan praktik agama yang berbeda. Mereka percaya pada kekekalan jiwa dan reinkarnasi, serta memegang keyakinan bahwa hakikat Tuhan tidak dapat dipahami atau diwakili dengan bentuk manusia atau simbol-simbol.

Druze juga mengakui Al-Hakim bi-Amr Allah, seorang pemimpin Fatimiyah pada abad ke-11, sebagai manifestasi Tuhan di bumi. Hal ini merupakan salah satu ciri khas kepercayaan Druze yang membedakan mereka dari umat Islam lainnya.

C. Jumlah Populasi dan Distribusi

Meskipun tidak ada data pasti tentang jumlah populasi Druze secara global, diperkirakan ada sekitar 1 juta hingga 2 juta Druze di seluruh dunia, dengan mayoritas tinggal di wilayah Levant. Lebanon memiliki populasi Druze terbesar, diikuti oleh Suriah dan Israel.

D. Struktur Sosial dan Politik

Komunitas Druze memiliki struktur sosial dan politik yang unik, dengan keluarga-keluarga yang diakui sebagai entitas independen dan terorganisir secara hierarkis. Mereka juga memiliki sistem kepemimpinan yang kuat dan terpusat di sekitar keluarga-keluarga yang berpengaruh.

Selain itu, Druze juga terkenal sebagai pendukung setia negara di mana mereka tinggal, dengan banyak anggota komunitas yang terlibat dalam militer dan politik. Hal ini terutama terlihat di Israel, di mana Druze memiliki status yang unik sebagai kelompok minoritas yang diakui secara resmi dan memiliki perwakilan di Knesset, parlemen Israel.

Peta persebaran pemeluk agama Druze di Timur Tengah
Peta menunjukkan wilayah-wilayah di Timur Tengah di mana terdapat komunitas pemeluk agama Druze.

Shia Islam dan Cabang-Cabangnya yang Beragam

Shia Islam adalah salah satu dari dua cabang utama Islam, selain Sunni Islam. Seperti namanya, Shia Islam mengacu pada kelompok umat Islam yang menganggap Ali, sepupu dan menantu Nabi Muhammad, sebagai pemimpin sah dan pewarisnya yang pertama. Namun, ada beberapa cabang dalam Shia Islam, yang memiliki perbedaan dalam keyakinan dan praktek keagamaan.

  • Shia imam 12
    Shia imam 12 atau dikenal juga dengan Twelver Shia, juga dikenal sebagai Imami Shia, adalah cabang terbesar dari Shia Islam. Mereka menganggap bahwa terdapat dua belas imam yang diangkat oleh Allah untuk memimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad. Imam terakhir dalam tradisi Twelver Shia dianggap telah menghilang dan akan kembali di kemudian hari sebagai Mahdi, sosok yang dianggap akan membawa keadilan di seluruh dunia.
  • Ismaili Shia
    Ismaili Shia adalah cabang kedua dari Shia Islam. Mereka menganggap bahwa imam ketujuh mereka, Ismail bin Jafar, adalah pewaris sah keempat belas imam dalam tradisi Shia. Ismaili Shia memiliki keyakinan yang berbeda dengan Twelver Shia dalam hal pewarisan kepemimpinan dalam keluarga Nabi Muhammad. Dalam tradisi Ismaili, imam keempat belas dan terakhir mereka, yang dikenal sebagai Aga Khan, memiliki peran penting dalam mengarahkan kehidupan keagamaan mereka dan menghadapi masalah-masalah modern. Aga Khan juga dikenal sebagai tokoh global yang aktif dalam mempromosikan pengembangan sosial dan ekonomi di negara-negara di seluruh dunia.
  • Zaidi Shia
    Zaidi Shia, juga dikenal sebagai Fiver Shia, adalah cabang ketiga dari Shia Islam. Mereka menganggap bahwa pewaris sah keempat belas imam dalam tradisi Shia adalah Zaid bin Ali, seorang cucu dari Husayn bin Ali, putra dari Ali dan Fatimah, putri Nabi Muhammad.

Meskipun ketiga cabang tersebut memiliki perbedaan dalam keyakinan dan praktek keagamaan, mereka semua memiliki akar yang sama dalam tradisi Shia Islam dan memegang nilai-nilai penting seperti keadilan sosial, pemberdayaan umat, dan cinta kepada Ahlul Bayt, keluarga Nabi Muhammad.

Namun, di tengah-tengah berbagai cabang dalam Shia Islam, terdapat sebuah kelompok yang memiliki keyakinan yang unik dan berbeda dari kedua cabang tersebut. Kelompok ini dikenal sebagai Druze, sebuah komunitas keagamaan minoritas yang tersebar di wilayah Levant.

Masjid Khalwat Al Bayada, tempat ibadah Druze

Dinasti Fatimiyah dan Ismailiyyah

Dinasti Fatimiyah merupakan sebuah dinasti yang berdiri pada awal abad ke-10 di Tunisia dan memerintah wilayah-wilayah di Afrika Utara, Mesir, dan Syam. Dinasti ini didirikan oleh Ubbaydallah al-Mahdi, yang menyatakan dirinya sebagai khalifah dari keturunan Nabi Muhammad. Salah satu cabang dari penganut Syiah yang dipraktikkan oleh Dinasti Fatimiyah adalah Ismailiyyah.

A. Ismailiyyah dan Kepercayaannya

Ismailiyyah merupakan salah satu cabang dari Syiah yang mempercayai bahwa Ismail, anak sulung Imam Jafar al-Sadiq, merupakan imam yang sah dan diakui. Ismailiyyah meyakini bahwa ada dua belas imam yang sah, sama seperti cabang Syiah lainnya, tetapi imam yang terakhir belum muncul. Ismailiyyah memandang keberadaan imam-imam ini sebagai pilar utama dari ajaran mereka.

Ismailiyyah memiliki banyak variasi dalam kepercayaan mereka, dan setiap varian memiliki kelompok pengikutnya sendiri. Namun, satu hal yang menonjol dalam kepercayaan Ismailiyyah adalah keyakinan mereka pada tarekat atau jalan mistik, yang dianggap sebagai cara untuk mencapai pemahaman spiritual yang lebih dalam.

B. Peran Ismailiyyah dalam Dinasti Fatimiyah

Dinasti Fatimiyah didirikan oleh Ubbaydallah al-Mahdi pada tahun 909 M, dan kemudian dipimpin oleh putranya, Abdullah al-Qaim. Pada masa pemerintahan Abdullah al-Mansur, Fatimiyah mulai mengambil tindakan agresif terhadap pemerintah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Pada tahun 969 M, pasukan Fatimiyah berhasil merebut Mesir dari tangan Kekhalifahan Abbasiyah.

Dalam Dinasti Fatimiyah, Ismailiyyah memiliki peran penting, terutama dalam pemerintahan. Fatimiyah dipimpin oleh seorang imam yang juga menjadi khalifah, dan kebijakan pemerintahan mereka didasarkan pada ajaran Ismailiyyah. Selain itu, Fatimiyah juga menyediakan dukungan finansial dan politik bagi komunitas Ismailiyyah di wilayah kekuasaannya.

C. Kontribusi Dinasti Fatimiyah pada Budaya dan Masyarakat Islam

Selama masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, ada banyak kemajuan dalam bidang seni, arsitektur, dan ilmu pengetahuan. Fatimiyah dikenal sebagai salah satu dinasti Islam yang paling toleran terhadap non-Muslim, terutama di bidang seni dan budaya. Selain itu, Fatimiyah juga dikenal sebagai pusat penyebaran ilmu pengetahuan di dunia Islam pada saat itu.

Al-Hakim bi-Amr Allah: Khalifah Keenam Dinasti Fatimiyah dan Imam Ismailiyyah ke-16

Al-Hakim bi-Amr Allah, juga dikenal sebagai Al-Hakim the Mad, adalah Khalifah keenam Dinasti Fatimiyah dan Imam Ismailiyyah ke-16. Ia memerintah dari tahun 996 hingga 1021 di wilayah Mesir dan Suriah.

I. Kehidupan dan Kepemimpinan Al-Hakim

Al-Hakim lahir pada tahun 985 di Kairo, Mesir. Ia mengambil alih kekuasaan pada usia 11 tahun setelah kematian ayahnya, Al-Aziz Billah. Pada saat itu, kekuasaan sebenarnya dipegang oleh para wazirnya. Namun, Al-Hakim tumbuh dewasa dan mengambil alih kendali penuh atas kekuasaannya.

Al-Hakim dikenal sebagai seorang penguasa yang kontroversial dan sering didekati dengan sifat gila atau gila. Beberapa kebijakan kontroversialnya termasuk melarang minum anggur dan menghancurkan pohon anggur, melarang permainan catur, dan melarang kaum perempuan keluar dari rumah tanpa pengawasan laki-laki. Namun, Al-Hakim juga dikenal sebagai penguasa yang menciptakan lapangan kerja dan memperbaiki jalan-jalan dan infrastruktur lainnya.

II. Kejadian Penting Selama Pemerintahan Al-Hakim

Salah satu kejadian paling terkenal selama pemerintahan Al-Hakim adalah ketika ia menghilang secara misterius pada tahun 1021. Beberapa orang berpikir bahwa ia telah meninggal atau dibunuh, sementara yang lain percaya bahwa ia mengasingkan diri secara sukarela dan akan kembali suatu saat nanti. Hingga saat ini, kebenaran di balik hilangnya Al-Hakim masih menjadi misteri.

III. Kontroversi di Sekitar Kebaktian Al-Hakim oleh Komunitas Druze

Salah satu hal yang paling menarik tentang Al-Hakim adalah tempatnya dalam keyakinan Druze. Beberapa anggota komunitas Druze menganggap Al-Hakim sebagai Tuhan atau inkarnasi Tuhan. Namun, pandangan ini tidak umum di kalangan Druze dan dianggap kontroversial oleh banyak orang.

IV. Kehidupan Peninggalan Al-Hakim

Meskipun Al-Hakim meninggalkan warisan yang kontroversial, ia tetap dihormati oleh banyak orang di seluruh dunia. Di Mesir, ia dianggap sebagai salah satu khalifah terbesar Dinasti Fatimiyah dan banyak monumen dan tempat bersejarah yang terkait dengan pemerintahannya masih berdiri hingga saat ini.

V. Pentingnya Memahami Peran Al-Hakim dalam Sejarah Druze

Sebagai Khalifah dan Imam, Al-Hakim memiliki peran penting dalam sejarah dan keyakinan Druze. Memahami tempatnya dalam keyakinan dan sejarah ini dapat membantu kita memahami lebih baik komunitas keagamaan Druze dan peran penting yang dimainkan oleh Al-Hakim bi-Amr Allah dalam mengembangkannya.

Seiring berjalannya waktu, Druze terus beradaptasi dan berevolusi, tetapi tetap mempertahankan keyakinan dan praktik mereka yang unik. Meskipun kadang-kadang dianggap sebagai kelompok yang misterius dan kontroversial, Druze adalah kelompok yang penting dan terus berkontribusi pada sejarah dan budaya di Timur Tengah.

Dalam menghargai warisan Al-Hakim bi-Amr Allah dan keyakinan Druze yang kompleks, kita dapat memperluas pemahaman kita tentang keberagaman agama dan budaya yang ada di dunia ini. Dengan memahami peran yang dimainkan oleh tokoh-tokoh seperti Al-Hakim bi-Amr Allah, kita dapat memperkaya perspektif kita tentang sejarah dan kebudayaan, dan mempromosikan toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman di dunia ini.

Gambar seorang pemeluk agama Druze sedang berdzikir

Penghormatan Druze terhadap Al-Hakim

Dalam keyakinan Druze, Al-Hakim bi-Amr Allah dipandang sebagai figur yang sangat penting dan dihormati. Ada beberapa cerita legendaris tentang Al-Hakim yang menjadi dasar penghormatan ini.

Kehadiran Al-Hakim sebagai Khalifah

Al-Hakim diangkat sebagai Khalifah pada usia 11 tahun setelah kematian ayahnya. Saat itu, orang-orang meragukan kemampuannya untuk memimpin dan banyak dari mereka yang meragukan legitimasinya sebagai Khalifah.

Namun, Al-Hakim membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang efektif dan adil. Dia memerintahkan reformasi yang memperbaiki kondisi keuangan dan sosial di wilayah kekuasaannya. Dia juga mengambil langkah-langkah untuk memperkuat posisi kekuasaannya, termasuk dengan membentuk milisi khusus untuk melindungi dirinya.

Legenda tentang Kehadiran Gaib

Ada cerita legendaris tentang kehadiran gaib Al-Hakim, di mana ia tiba-tiba menghilang dan tak terlihat selama beberapa waktu. Beberapa orang percaya bahwa ini adalah tanda dari keilahianannya dan kekuasaannya yang lebih besar dari manusia biasa.

Dalam keyakinan Druze, penghilangan Al-Hakim dianggap sebagai sebuah peristiwa penting yang menunjukkan kedalaman kekuasaannya dan hubungannya dengan alam semesta.

Penghormatan orang orang Druze terhadap Al-Hakim

Sebagai hasil dari kepercayaan ini, para pengikut Druze menghormati Al-Hakim dan menganggapnya sebagai figur penting dalam sejarah dan keyakinan mereka. Mereka percaya bahwa ia memiliki pengetahuan yang mendalam tentang alam semesta dan rahasia-rahasia yang tak terjangkau oleh orang biasa.

Dalam keyakinan Druze, Al-Hakim dipandang sebagai figur yang sangat penting dan dihormati. Mereka menganggapnya sebagai imam yang diangkat oleh Tuhan dan mengambil pengaruhnya dalam banyak aspek kehidupan mereka, termasuk dalam praktik keagamaan dan sosial.

Perbedaan antara Druze dan Islam dalam Praktik Keagamaan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Druze adalah kelompok keagamaan yang unik dengan sejarah dan keyakinan yang berbeda dengan mayoritas umat Islam. Berikut adalah beberapa perbedaan antara Druze dan Islam dalam praktik keagamaan mereka:

  1. Tidak ada Salat Lima Waktu
    Salah satu perbedaan paling mencolok antara Druze dan Islam adalah dalam praktik salat. Meskipun umat Islam menganjurkan untuk melaksanakan salat lima waktu sehari-hari, Druze tidak melakukan praktik ini. Sebagai gantinya, Druze melakukan doa dan meditasi secara pribadi sebagai bentuk peribadatan.
  2. Tidak Ada Puasa di Bulan Ramadhan
    Dalam Islam, puasa di bulan Ramadhan dianggap sebagai salah satu praktik keagamaan yang penting. Namun, Druze tidak mengamalkan puasa di bulan Ramadhan. Mereka memandang bahwa puasa secara fisik tidaklah penting, melainkan pentingnya adalah memurnikan hati dan menjaga pikiran tetap fokus pada Tuhan.
  3. Tidak Ada Haji ke Mekah
    Seperti umat Islam, Druze juga memandang Mekah sebagai tempat suci yang penting. Namun, mereka tidak melakukan haji ke Mekah seperti yang dilakukan umat Islam. Druze percaya bahwa perjalanan ke Mekah tidaklah penting untuk mencapai kesucian spiritual.
  4. Tidak Ada Syariat Islam
    Druze tidak mengikuti syariat Islam seperti yang dilakukan umat Muslim. Dalam Druze, ajaran agama lebih ditujukan pada pemahaman spiritual dan peningkatan kesadaran akan hubungan dengan Tuhan.

Meskipun terdapat perbedaan dalam praktik keagamaan antara Druze dan Islam, keduanya tetap memiliki kesamaan dalam keyakinan akan keberadaan Tuhan dan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

The Druze Pada masa kini

Meskipun jumlah pemeluk agama Druze di seluruh dunia tidak terlalu besar, mereka memiliki pengaruh yang signifikan dalam sejarah dan budaya Timur Tengah. Hari ini, komunitas Druze masih eksis dan memainkan peran penting di beberapa negara di Timur Tengah.

Geografi dan demografi

Komunitas Druze terbesar terletak di Lebanon, di mana sekitar 5% hingga 6% dari populasi negara tersebut adalah Druze. Selain itu, Druze juga hadir di negara-negara seperti Suriah, Israel, Yordania, dan Palestina. Meskipun jumlah pemeluk Druze di seluruh dunia hanya diperkirakan mencapai sekitar 1 juta orang, mereka masih memainkan peran penting dalam kehidupan politik dan sosial di daerah-daerah tempat mereka tinggal.

Kepercayaan dan praktik keagamaan

Meskipun agama Druze bersifat rahasia dan hanya diberikan kepada anggota tertentu, beberapa hal mengenai keyakinan dan praktik mereka telah dikenal publik. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Druze memandang al-Hakim bi-Amr Allah sebagai inkarnasi Tuhan. Selain itu, mereka juga mempercayai reinkarnasi jiwa dan menghormati Imam Ali dan Fatimah, istri Nabi Muhammad, sebagai figur suci.

Druze sangat menekankan kerahasiaan dan kebersamaan dalam komunitas mereka. Mereka juga memiliki praktik-praktik keagamaan yang unik, seperti upacara zikir dan doa di dalam gua-gua yang dianggap suci.

Peran dalam politik dan masyarakat

Komunitas Druze masih memainkan peran penting dalam kehidupan politik dan sosial di beberapa negara di Timur Tengah. Di Lebanon, Druze memiliki partai politik mereka sendiri dan memainkan peran yang signifikan dalam politik negara itu. Selain itu, banyak pemimpin politik dan militer Lebanon yang berasal dari komunitas Druze, seperti Kamal Jumblatt dan Walid Jumblatt.

Di Israel, Druze juga memainkan peran penting dalam kehidupan politik dan militer. Meskipun mayoritas Druze di Israel adalah warga negara Israel, mereka juga menyatakan solidaritas dengan saudara-saudara mereka di Lebanon dan Suriah.

Dalam masyarakat Druze, keluarga dan komunitas sangat dihormati dan dianggap penting. Perkawinan di dalam komunitas Druze sangat ditekankan dan biasanya dilakukan antara anggota komunitas Druze yang sama. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ada juga peningkatan jumlah perkawinan campuran di antara Druze dan orang-orang dari latar belakang agama lain.

Gambar para pemeluk agama Druze merayakan festival
Para pemeluk agama Druze sedang merayakan festival dengan sukacita dan kebersamaan

Kesimpulan

Meskipun sejarah Druze telah melalui banyak perubahan dan tantangan selama berabad-abad, komunitas Druze terus bertahan dan berkembang. Mereka tetap setia pada ajaran-ajaran agama dan kepercayaan mereka, termasuk keyakinan dalam eksistensi satu Tuhan yang tidak dapat dipahami oleh manusia dan pentingnya ilmu pengetahuan dan pemahaman spiritual.

Meskipun Druze tetap menjadi minoritas di banyak negara, mereka telah membawa kontribusi penting bagi budaya dan masyarakat setempat. Mereka terus menjaga identitas mereka yang unik dan merayakan festival dan ritual yang memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah mereka.

Namun, tantangan dan perubahan masih ada di depan. Komunitas Druze terus beradaptasi dengan zaman, termasuk dengan cara berintegrasi dengan masyarakat modern dan teknologi. Namun, dengan warisan yang kaya dan unik serta kepercayaan yang kuat, mereka memiliki pondasi yang kokoh untuk memperjuangkan masa depan yang cerah.

Penutup

Artikel ini membahas tentang sejarah dan kepercayaan Druze, serta bagaimana mereka mempertahankan identitas mereka sebagai minoritas agama yang unik. Meskipun kecil, komunitas Druze telah memberikan kontribusi penting bagi masyarakat di mana mereka tinggal. Semoga artikel ini memberikan wawasan yang lebih dalam tentang komunitas ini dan mendorong pemahaman yang lebih baik tentang keragaman agama di dunia.

Referensi

  • . The Origins of the Druze Religion. Islamic Studies, 14(1), 47-84, . .
  • . The Psychosocial Function Of Reincarnation Among Druze In Israel. Culture, Medicine and Psychiatry, 30(1), 29-53, . .
  • . Reshaping Druze Particularism in Israel. Journal of Palestine Studies, 30(3), 40-53, . .
  • . The Druze Faith: Origin, Development and Interpretation. Arabica, 58(1–2), 76-99, . .
  • Ritual Practices among the ʿAlawis, the Druze, the Ahmadis, and Black Muslims

    Routledge Routledge Handbook of Islamic Ritual and Practice
Lebih baru Lebih lama