Aquarama dari Balik Lensa Kamera

Acara Aquarama yang digelar 24 sampai 28 Mei 2019 itu mendapat perhatian luas. Mulai dari importir, eksportir, produsen aksesori dan pakan, hingga
hobiis, dari 82 negara hadir di sana. “Inilah ajang bisnis ikan hias yang terbesar,” kata Dr Kenny Yap, pemilik Qian Hu Fish Farm dari Singapura.

Karena termasuk even penting, banyak eksportir tanahair meluangkan waktu untuk hadir. Tercatat nama eksportir besar seperti Jap Khiat Bun, Hendra Iwan Putra, Herman Oei, dan Apin Kamadi. Dari kalangan birokrat, tampak pula dirjen Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perikanan DKP, Dr Martani Huseini. “Saya ke sini untuk memberi dukungan pada peserta Indonesia,” ujar Martani.

Bacaan Lainnya

Pesona Singapura

Aquarama 2007 itu memasuki perhelatan ke-10 sejak pertama kali diselenggarakan pada 1989 di World Trade Center di Telok Blangah. Setelah pindah lokasi pada 2001 ke Singapore Expo, kini even 2 tahunan itu beralih lagi ke Suntec City yang terletak di jantung kota Singapura. “Kami ingin setiap peserta Aquarama lebih nyaman menikmati pesona Singapura,” kata Jeniffer Kwok, panitia Aquarama.

Suntec memang dikepung berbagai tempat wisata. Ke arah selatan, berjarak 10 menit jalan kaki, mata dimanjakan air mancur terbesar di dunia. Ke barat, Esplanades, gedung theater terkenal, siap memuaskan dahaga peserta dengan aneka kegiatan seni. Hobi berbelanja pun akan terpuaskan saat berjalan ke utara. Di sana berdiri megah mal City Hall dan Raffles Center.

Lokasi pameran yang menempati areal seluas lebih dari 10.000 m2 itu terkesan luas. Jarak antaranjungan yang berhadapan pun lebar, sekitar 2,5 m. Kecil peluang untuk berdesak-desakan seperti kerap terjadi di Singapore Expo. “Tempatnya lebih enak dan nyaman,” kata Ir Ignatius Mulyadi, peternak dari Bandung.

Untuk segala kenyamanan itu, panitia menetapkan harga sewa stan cukup lumayan sekitar US550/m2. Beruntung biaya sewa di anjungan Indonesia ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah melalui DKP. “Kami hanya keluar biaya untuk sewa akuarium dan alat lain yang diperlukan seperti tabung oksigen,” kata Edo Kristanto. Pemilik Elkindo di Jakarta Barat itu menanggung biaya tambahan sekitar Rp 15-juta.

ikan eksotis

Event berlangsung Agak sepi

Meski sudah berlokasi di pusat kota, pengunjung lokal yang hadir tidak terlalu banyak. Padahal, dengan biaya masuk $Sin8/orang pengunjung dapat terpuaskan melihat stan, ikan-ikan kontes, hingga mengikuti seminar-seminar gratis. Boleh jadi penyebabnya di waktu bersamaan juga berlangsung even besar lain seperti Singapore Food Festival, Art Festival, hingga Worlds Book Fair. Yang disebut terakhir malah hanya berbeda 2 lantai dengan lokasi Aquarama.

Yang menarik, acara farm visit ke 6 lokasi farm di seputar Lim Chu Kang dan Pasir Ris, yang digelar panitia, sudah tutup buku sejak sebulan sebelumnya. Padahal biaya yang ditarik panitia naik menjadi $Sin l36 dari sebelumnya $Sin l20 per orang. “Mayoritas peserta yang ikut dari negara-negara Eropa,” kata Jeniffer.

Nah soal makanan yang kerap sulit didapat saat perhelatan di Singapore Expo, tidak dialami di Suntec City. Semua mudah didapat. Bayangkan lantai dasar gedung, hampir seluruhnya diisi stan-stan makanan hingga cafe seperti Starbucks. “Singapura memang pintar memanjakan orang,” kata Kuo Kwan, rekan sesama wartawan dari Taiwan.

Pos terkait