Belanja Durian di Kaki Lima

Duapuluh menit sebelum buka puasa Ny. Shanti sudah pilih-pilih durian. Pas adzan maghrib berkumandang dua buah durian seukuran kepala bayi dibukanya. Tanpa menoleh kiri-kanan pongge demi pongge ludes dilahap. “Lumayan, cukup enak,” ungkapnya.

Kualitas durian di pedagang kaki lima memang tak sekelas monthong. Bahkan durian-durian unggul lokal pun tak pernah ada di sana.

Namun, kaki lima menjadi pilihan banyak orang. Mudah didapat, lokasi terjangkau, dan murah, adalah beberapa alasan yang mereka kemukakan. Begitu juga Shanti dari Sawangan, Depok, “Saya pilih kaki lima karena kapan pun pengen tinggal datang dan makan sepuasnya. Bayangkan kalau harus ke kebun, sudah jauh belum tentu ada yang matang.”

Di kaki lima yang tersebar hampir di setiap sudut kota Jakarta dan daerah pinggiran seperti Depok, Bogor, serta Bekasi, keberadaan durian seolah tanpa musim. Maklum, durian dipasok secara bergantian dari seluruh sentra di Jawa dan Sumatera. “Durian dari Medan habis, giliran Bengkulu, Padang, Lampung, lalu Jawa. Jadi tak pernah kosong, maksimal 3 bulan dalam setahun,” tutur Gunawan. pedagang di sepanjang jalan Bojongsan menuju pasar Parung, Bogor.

Banjir Duren saat puasa

makan di lapak lebih afdol

Di beberapa tempat “musim” durian malah sepanjang tahun, seperti di Jl. Gunung Sahari Raya (Jakarta Pusat). Kalibata (Jakarta Selatan), dan Klender (JakartaTimur). “Kalau sedikit-sedikit sih durian ada terus sepanjang tahun. Masa istirahat paling 1 sampai 4 minggu. Tapi, yang disebut musim besar berlangsung 2 kali dalam setahun,” tutur Dani yang mangkal di Gunung Sahari Raya sejak 1976.

Menurut Dani, musim durian selalu berubah dari tahun ke tahun, tergantung iklim. Berdasarkan pengalaman, memasuki bulan puasa hingga 4 bulan ke depan biasanya panen besar.

Seperti di luar Jawa dan Pekalongan, Pati, Wonosobo, Serang, dan Bogor durian turun ke Jakarta. Saat itulah lapak-lapak kaki lima di semua tempat dipenuhi durian. Termasuk dijalan tol Jagorawi, pedagang asong mulai beraksi manawarkan durian.

“Bulan puasa tak mempengaruhi penjualan. Justru laku lebih banyak, sehari 100 butir habis,” ujar Hery, pedagang di Jl. Bungur, Jakarta Pusat. Puasa bagi para mania durian tak menjadi halangan untuk melampiaskan hobi. Di antara mereka bahkan berbuka dengan durian.

Memang, sebagian besar pembeli datang di atas pukul 19.00. Siang hari jarang. Kalaupun ada untuk dibawa pulang. Oleh karena itu Hery dan teman-temannya berjualan hingga larut malam.

Hery berjualan hanya 4 bulan pada musim besar pertama. Pada musim besar kedua, yang jatuh 6 bulan setelah usai musim besar pertama hanya 3 bulan. Pasalnya, produksi musim kedua tidak sebanyak pertama. Di luar musim lelaki yang tinggal di Bekasi itu berjualan buah-buahan lain di Cikarang.

Sama seperti Gunawan yang bisa menjual 50 buah/hari, ketika stok durian menipis sekitar Juni sampai Agustus, dimanfaatkan bekerja di kebun. “Dari jualan durian saya bisa hidup,” tambahnya.

Hati-hati duren suntikan

Hati hati durian suntikan

Sayangnya, citra jelek melekat pada durian kaki lima. Para penikmat buah beraroma menyengat itu sering ragu menyambanginya. Sebab, banyak kejadian, durian yang dibeli anyep dan kadang busuk.

Pengalaman menjengkelkan itu juga dialami Ny. Shanti waktu pertama kali berburu durian. “Salahnya saya percaya saja ke pedagang. Eh tahu-tahu, sampai di rumah durian tidak bisa dimakan karena busuk,” tuturnya.

Pedagang kaki lima cenderung membodohi konsumen yang dianggap baru. Oleh karena itu mesti hati-hati, jangan mudah percaya pada ocehan pedagang. Pedagang biasanya menyodorkan durian yang sudah terbuka. Maksudnya, agar cepat terjual, tidak telanjur busuk.

Andai sebatas retak, tidak masalah, masih bisa dipilih. Namun, jika terbuka menyeluruh dan bagian ujung diikat tali rafia, sebaiknya ditolak. Durian yang sudah terbuka atau “masuk angin”, berasa asam.

Pembeli pun harus jeli memperhatikan kulit. Bila ditemukan , bekas sayatan, segera singkirkan. J Kualitas durian pasti di bawah standar. Ia diapkir setelah dicicipi pembeli sebelumnya. Cuma, karena pedagang tak mau rugi, sayatan dirapikan kembali pakai lidi.

Saking rapinya, seolah durian masih utuh, sehingga pembeli jl berikutnya tak curiga. Lebih tidak kentara lagi bila pedagang menyuntikan air gula ke salah satu juring. Praktis hanya manis ketika dicicipi.

Makan di lapak Penjual lebih afdol

durian di lapak penjual

Untuk meminimalkan risiko tertipu “Sebaiknya punya langganan. Dengan begitu mereka tidak berani macam-macam,” kata Eddy dan istri yang sore itu tengah mCmborong durian. Eddy yang berdomisili di Sunter Podomoro, Jakarta Utara, punya 2 tempat favorit berburu durian yakni di Jl. Gunung Sahari dan Jl. Bungur, Jakarta Pusat. Dinilai Eddy kedua tempat itu cukup representatif. Lebih-lebih mereka bersedia mengganti jika dilaporkan durian busuk.

Kualitas, “Imbanglah dengan harganya, ada yang bagus, ada juga yang biasa-biasa saja,” sebut Eddy. Lain jika dibandingkan dengan durian di pasar swalayan. Karena harganya mahal, kualitas pun terjamin.

Durian kaki lima berkisar Rp 15.000 sampai Rp20.000 untuk yang berbobot sekitar 1 kg dan Rp25.000 sampai Rp35.000/buah berbobot 2 kg ke atas. Itu pun tergantung tempat dan kepiawaian menawar. Di Kalibata, Gunung Sahari, dan Bungur, termurah Rp20.000/buah. Sementara di Parung, Akses UI (Depok), Gunungsindur maupun Klender masih bisa ditawar hingga Rpl5.000/buah.

“Gimana bisa lebih murah Mas, durian didatangkan dari Medan menggunakan pesawat. Biaya transportasinya tinggi,” jelas Muhdi, pedagang di Gunung Sahari asal Rangkasbitung saat ditemui Trubus. Harga dari bandar Rp420.000 per dus isi 18 sampai 20 buah. “Untung dari mana kalau dijual Rpl5.000/buah.

Belum lagi risiko busuk,” tambahnya. Durian Medan bisa lebih murah jika didatangkan lewat darat saat musim besar. Wajar, jika pedagang-pedagang kaki lima menyodorkan harga 2 kali lipat harga jadi.

Bagi hobiis sebetulnya harga tidak terlalu masalah, yang penting puas mendapat durian enak. Karena itu supaya tidak menyesal mengeluarkan uang banyak makanlah durian di lapaknya.

Toh pedagang tak membedakan harga, dimakan di lapak atau dibawa pulang sama saja. Asal, ada perjanjian . “Awas lho kalau enggak enak tak jadi beli