Berharap Dana Pensiun dari Kakao

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
cara menanam pohon coklat
budidaya tanaman coklat

“Dua tahun lagi ketika cokelat sudah berbuah semua, mungkin pendapatan lebih besar daripada gaji saya. Kalau dapat 4 sampai 5 ton per bulan, kan sudah Rp40-juta, biaya produksi paling Rp 10-juta sebulan,” ujar Parasman Pasaribu, manajer operasional sebuah pabrik pipa sekaligus pekebun kakao di Bakaukramat, Lampung Selatan.

Sejak akhir 2005 Parasman Pasaribu baru menuai rata-rata 100 kg kakao kering per pekan. Satu kilo kering berasal dari 25 buah. Itu diperoleh dari lahan 3,5 ha di Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan. Dengan 3 m x 3 m, populasi per ha sebetulnya mencapai 1.100 pohon. Namun, general manager operational perusahaan produsen pipa baja itu menanam secara bertahap sejak 2002.

Akibatnya, baru sebagian 800-an pohon  yang berbuah. Tanaman dari Amerika tengah itu mulai berbuah pada umur 3 sampai 4 tahun.

Budidaya Coklat Dan Potensi Ekonomisnya

biji coklat

Biji-biji buah Theobroma cacao dipasarkan setelah dikeringkan di bawah panas matahari. Dua tahun terakhir, harga di tingkat pekebun stabil Rp 10.500 per kg. Artinya, ayah 2 anak itu mendapat tambahan omzet Rp4.200.000 per bulan.

Menurut perhitungan alumnus Universitas Krisnadwipayana Bekasi, biaya produksi per tahun per pohon Rp500, belum memperhitungkan sewa lahan. Biaya itu relatif rendah lantaran ia mengelola puluhan ribu pohon.

Selain di Bakaukramat, Parasman membudidayakan 7.000 kakao di Kubanggajah, masing-masing 6.000 pohon di Yogaloka dan Semarangbaru, serta 15.000 pohon di Pulau Harimau semua di Provinsi Lampung. Total jenderal populasi tanaman anggota famili Sterculiceae itu 37.000 pohon.

Untuk mengelola kakao sebanyak itu, ia hanya dibantu 7 karyawan. Komoditas yang dulu berfungsi sebagai mata uang itu ditanam bertahap sejak 2004 hingga 2005. Artinya, bila tak ada aral 2 sampai 3 tahun ke depan ia menuai berton-ton kakao.

Pada umur 4 tahun, umumnya produktivitas mencapai 250 kg. Jika rata-rata produktivitas 250 kg per ha, diperkirakan Parasman memetik 8 ton atau Rp84-juta dalam setahun. Setelah dikurangi biaya produksi, laba bersih yang ditangguk Rp65-juta alias Rp5,4-juta per bulan. Produktivitas meningkat seiiring penambahan umur pohon. Contoh, pada umur 6 tahun produksi mencapai 600 kg. Dengan begitu laba yang diraup anak ke-2 dari 7 bersaudara itu bakal menggelembung.

Memilih Pensiun Demi Berkebun Coklat

Parasman Pasaribu
Parasman Pasaribu

Untuk membiayai penanaman kakao, Parasman selalu menumpangsarikan dengan jagung dan beragam pisang seperti barangan, emas, raja, dan uli. Jagung dan pisang yang ditanam berbarengan dengan kakao sekaligus berfungsi sebagai tanaman pelindung.

Mereka ditanam berselang-seling. Pada umur 3 bulan, jagung dipanen untuk membiayai pisang yang dituai pada umur 1,5 tahun. Sayang, data populasi dan volume panen jagung tak tercatat.

Sedangkan hasil penjualan pisang digunakan untuk mengongkosi perawatan kakao. Volume panen pisang sekitar 2 truk setara 200 tandan per 2 pekan. Ia tak perlu repot-repot memasarkan pisang. Sebab, pengepul datang dan menebang sendiri di lahannya.

Parasman menperoleh harga rata-rata Rp5.000 per tandan. Itu berarti rekeningnya kian gemuk lantaran bertambah Rp 1-juta per 2 pekan. Ketika kakao berumur 2 sampai 3 tahun tajuknya melebar, budidaya pisang dihentikan.

Dengan perhitungan seperti itu pantas bila pria 46 tahun itu mencanangkan kakao sebagai sumber dana pensiun. Ia memimpikan masa pensiunnya 10 tahun mendatang tetap mempunyai kesibukan yang mendatangkan pendapatan.

Kakao dipilih untuk mewujudkan impian itu lantaran harganya relatif stabil, mudah dan murah perawatannya. “Benih saya peroleh dari Tanggamus. Harganya Rp200 per biji, sama dengan harga sebatang rokok. Kita tanam sekali, setelah 3 tahun sudah berbuah dan terus panen sepanjang tahun,” katanya.

Hasilnya dapat dipetik hingga tanaman berumur 30 tahun. Oleh karena itu ia amat serius menekuni usaha agribisnis itu. Buktinya, sebelum berangkat kerja atau ketika rehat ia menyempatkan diri mengontrol kebun. Jarak kantor ke kebun amat dekat, sekitar 1,5 km.

Pada kesempatan itulah ia memantau kesehatan tanaman dan pertumbuhan buah. Malahan hampir setiap malam, Parasman mengelilingi kebun di Bakaukramat, lahan terdekat dari rumahnya. Tangannya menggenggam senter agar ia dapat melihat buah-buah kakao di batang.

Padahal, belakangan ini jam kerjanya amat padat. “Saya bekerja 20 jam sehari,” katanya. Maklum, perusahaan pipa tempatnya bekerja tengah menggarap pesanan dari berbagai negara. “Saya tidur jam 02.00 dan bangun jam 05.00,” katanya menggambarkan kesibukannya bekerja. Meski demikian ia mencuri-curi waktu untuk melongok perkembangan kakao.

Melirik Potensi Ekonomis Kayu Jati

Kontrol ketat bukan berarti melancarkan segalanya. Tetap saja Parasman tersandung untuk meraih laba. Beberapa tahun lalu, misalnya, 10.000 pohon berumur beberapa bulan mengering akibat terpercik herbisida. Mereka gagal diselamatkan sehingga ia harus menanam ulang. Herbisida itu semula dimaksudkan untuk mengatasi gulma yang menyemak di sekitar pohon. Sejak itu kelahiran Medan pada 26 Maret 1960 itu enggan menyemprotkan herbisida.

Hambatan budidaya lain seperti serangan hama dan penyakit sejauh ini hampir tak terjadi. Oleh karena itu mantan manajer keuangan sebuah perusahaan galangan kapal itu optimis, kakao sumber dana pensiunnya pada 10 tahun mendatang. Untuk memperbesar uang pensiun, ia menanam jati, mahoni, medang, dan mimba di tepi lahan. Dari 46 ha lahan kakao yang ia kelola di 5 lokasi, terdapat 9.000 pohon jati, 3.000 mimba, dan 1.000 mahoni serta medang berumur 2 sampai 3 tahun.

“Sepuluh tahun lagi kayu semakin langka sehingga harganya mahal. Kebutuhan akan papan tak ada habis-habisnya. Walau ada substitusi terhadap kayu, kayu tetap dicari,” katanya. Perpaduan komoditas itulah yang diharapkan Parasman sebagai sumber dana pensiun kelak.