Anton-Nb

Buah Merah: Primadona dari Rimba Papua

Satu set kursi di ruang tamu berukuran 3 m x 5 m itu tak mampu menampung tamu yang datang sore itu. Tak kurang dari 12 orang memenuhi ruangan. I Mode Budi, pemilik rumah, terpaksa mengeluarkan kursi tambahan. Para tamu datang dengan satu tujuan, memperoleh sari buah merah langsung dari sang produsen.
Sejak mempromosikan buah merah Pandanus coinedeus sebagai obat aneka penyakit seperti kanker, tumor, hepatitis, diabetes, hingga asam urat 2 tahun lalu, kesibukan Made bertambah. Selain melayani tamu yang datang langsung ke rumah, ia pun menyanggupi pengiriman sari buah merah. Selama sejam Trubus di sana, telepon di ruang tengah berkali-kali berdering. “Mereka pesan sari buah merah,” papar Made setelah gagang telepon dilepas. Permintaan juga datang lewat surat atau pesan singkat telepon genggamnya.
Dalam seminggu minimal 5 liter sari buah merah disiapkan. “Setiap pemesan minimal minta 0,5 liter,” ujar dosen di Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih itu. Sari buah merah dalam kemasan botol berisi 100 ml dijual Rp60.000 pranko Jayapura. Untuk pengiriman ke luar kota harganya menjadi Rp100.000 sampai Rp125.000 per botol, termasuk ongkos kirim. Dari perniagaan itu omzet diraup Rp4-juta sampai Rp5-juta/ minggu.

Laku keras

Tak hanya Made yang kebagian rezeki dari sari buah merah. Sejak memproduksi sari buah merah 1 tahun terakhir, Roslina Tasrip di Sentani, Kabupaten Jayapura,kebanjiran pesanan. “Hampir setiap hari ada yang meminta kirimkan sari buah merah,” tutur ibu 3 anak itu. Dalam sebulan ia harus menyiapkan minimal 10 liter sari buah merah untuk memenuhi permintaan.
Hal serupa dialami AserWakur. Warga Kelurahan Inakombe, Kecamatan Sentani Tengah. Padahal, mengolah sari buah merah hanya usaha sampingan petugas penyuluh pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura itu. Demi memenuhi permintaan, ia terpaksa mendatangkan sari buah merah dari Wamena, Jayawijaya.
Di berbagai ajang pameran berskala nasional, sari buah merah di anjungan Provinsi Papua memang mendapat sambutan luar biasa. “Pada Penas XI di Tondano, Sulawesi Utara, 40 botol yang dibawa kontingen laku keras,” kata Roslina. Sebelumnya, di arena Agro and Food Expo 2004 di Jakarta, sebanyak 90 botol yang dibawa istri kepala Kantor Penyuluhan dan Intensifikasi Pertanian (KPIP) Kabupaten Jayapura itu pun ludes.

Buah mahal

merah12 Buah Merah: Primadona dari Rimba Papua
Potensi ekonominya makin meningkat

Larisnya produk sari buah merah membuat banyak masyarakat Papua tertarik memproduksinya. Apalagi lingkungan perguruan tinggi dan dinas pertanian setempat gencar melakukan pembinaan cara pengolahan buah merah. Termasuk mengupayakan peralatan penunjang proses pengolahan. “Sasaran pembinaan terutama kelompok ibu-ibu PKK,” ungkap Ir La Achmadi MMT, kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura. Tujuannya, agar masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan untuk menunjang ekonomi keluarga.
Menurut La Achmadi, di Distrik Sentani dan sekitarnya saja minimal 10 pengolah mulai aktif. Berarti semakin banyak buah merah segar diburu orang. Imbasnya, harga famili Pandanaceae itu pun meningkat tajam.
Di kawasan Dok Tujuh, Sentani, buah merah dijual Rp30.000 sampai Rp50.000 per buah saat musim panen pada April sampai Mei. Di luar musim harga naik menjadi Rp70.000 sampai Rp75.000/buah. Padahal, “Dulu buah tak laku di pasar. Ia hanya ditanam untuk dikonsumsi sendiri,” tutur Aser Wakur.
Di pedalaman Jayawijaya, buah merah menjadi barang bernilai. Kondisi serupa terjadi di sentra-sentra lain seperti di Dokondim dan Karubaga di Kabupaten Tolikara, maupun di Membramo Hulu, Kabupaten Sarmi.

Marak dikembangkan

merah Buah Merah: Primadona dari Rimba Papua
Aser Wakur (kanan) carter pesawat untuk datangkan bibit dari Wamena

Tingginya harga buah merah menarik minat Bastian Wakur untuk mengebunkan. Semula buah merah ditanam di pinggir kebun di Desa Dabra, Kecamatan Membramo Hulu, untuk konsumsi sendiri. Dua tahun terakhir kerabat pandan itu dikebunkan di lahan khusus seluas 2 ha.
Di Arso, Kabupaten Keerom, Yoseph Darminto mengebunkan dari bibit yang didatangkan dari Wamena. “Masyarakat sudah mengetahui nilai ekonomis buah merah,” papar Ir Ruben Kombonglangi MM, kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Keerom. Sebelumnya, sentra buah merah di kabupaten itu hanya di wilayah Ubruk,bibit. Target penanaman mencapai 1.150 ha, terutama di Kecamatan Sentani dan sekitarnya.
Menurut Achmadi, pengembangan besar-besaran itu untuk memasok kebutuhan industri pengolah yang melonjak pesat. “Kalau mengharapkan dari 1 sampai 2 tanaman di halaman rumah saja jelas tak mencukupi,” papar pria kelahiran Buton itu. Apalagi rendemen minyak yang diperoleh sangat rendah. Untuk menghasilkan 1 liter paling tidak dibutuhkan 7 sampai 8 buah, masing-masing berbobot 5 sampai 10 kg. Padahal, setiap rumpun hanya menghasilkan 10 sampai 15 buah/tahun, terselip di antara dedaunan.
Tingginya minat masyarakat mengebunkan buah merah dilirik sebagai peluang oleh Aser Wakur. Ia berani menyewa pesawat khusus untuk mendatangkan 120.000 anakan dari Wamena. Dua petak lahannya di kawasan Sentani dijadikan kebun pembesaran untuk menampung bibit-bibit itu. Sebanyak 80.000 bibit disiapkan untuk proyek dinas, sisanya dijual bebas ke masyarakat.

Pangan alternatif

Ajakan mengembangkan budidaya buah merah sebenarnya sudah lama digulirkan oleh Nicolaas Maniagasi. Sejak 1983 pria asal Serui, Papua, itu gencar mengajak masyarakat melestarikan Pandanus coinedeus yang menjadi tanaman spesifik Papua. Populasi buah merah memang berkurang antara lain karena alih fungsi lahan hutan untuk berbagai tujuan pembangunan.
Peraih Kehati Award untuk kategori Prakarsa Lestari Kehati itu mengupayakan penanaman buah merah sebagai pangan alternatif. Ia mempromosikan buah merah sebagai makanan olahan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Pada pameran Agro and Food Expo 2004 anjungan Papua mempromosikan kue kering berbahan tepung ubijalar dan minyak buah merah. Sayangnya, tak banyak masyarakat yang menggubris ajakan itu.
Setelah hampir 20 tahun barulah perjuangan Nicolaas membuahkan hasil. Apalagi setelah terungkapnya potensi buah merah sebagai obat. Kini, masyarakat dengan penuh kesadaran mulai mengembangkan buah merah. Bukan saja di tempat jauh di pinggir hutan, tapi juga di lahan-lahan khusus dengan jarak tanam teratur.

Sunandar Agus

Most popular

Most discussed