Anton-Nb

Buah Tangan Suku Indian bagi Kesembuhan

Di halaman parkir, tampak hamparan bunga bermahkota ungu berpadu dengan benangsari berwarna merah. Tinggi tanaman mencapai 70 sampai 100 cm. Itulah Echinacea purpurea yang menghampar di lahan seluas separuh lapangan sepakbola. Panorama indah itu hanya dapat disaksikan saat musim panas. “Echinacea hanya berbunga setahun sekali. Pada saat musim dingin echinacea biasanya mengalami dormansi,” ujar dr Jen Tan, direktur A. Vogel cabang Inggris yang memandu Kami.
Tanaman anggota famili Asteraceae itu bukan sekadar penghias taman, melainkan sebagai bahan baku obat. Di balik keindahannya, echinacea memang menyimpan segudang khasiat. Menurut dr Jen Tan, echinacea mengandung senyawa alkilamid, asam sikorat, polisakarida, glikoprotein, flavonoid, dan minyak esensial. “Senyawa-senyawa itu berperan merangsang pertumbuhan natural killer (NK) cell pada sistem kekebalan tubuh,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Newcastle University itu. Sel pembunuh alami itu ibarat benteng pertahanan tubuh dari agresi patogen seperti bakteri dan virus.

Memancing walet Dengan Efektif

Gambar echinacea1 1024x763 Buah Tangan Suku Indian bagi Kesembuhan
Di Swiss, echinacea dibudidayakan besar-besaran

A. Vogel memproduksi 40.000 liter obat cair berbahan echinacea setiap tahun. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, perusahaan itu membudidayakan echinacea di lahan 8 ha. Dari sanalah perusahaan yang berdiri sejak 40 tahun silam itu memanen sekitar 56 ton echinacea segar setiap tahun.
Echincaea segar termasuk batang yang baru dipanen dihancurkan dengan alat pencacah. Cacahan itu kemudian direndam dalam larutan air dan alkohol hingga berkadar 64%. Setiap 2 pekan rendaman itu diperiksa di laboratorium untuk mengontrol aktivitas bahan aktif. Setelah itu, ekstrak alkohol echinacea dikemas dalam botol isi 150 ml.
Untuk membuat echinacea tablet, ekstrak alkohol dicampur dengan tepung khusus lalu dipadatkan sehingga membentuk tablet. Obat berbahan echinacea itu dijual ke berbagai negara, seperti Jerman, Finlandia, Perancis, Kanada, Afrika Selatan, India, dan Indonesia.
Echinacea purpurea sejatinya bukan tanaman asli Swiss. Ia imigran asal Amerika Utara. Kehadirannya di Swiss berkat Alfred Vogel. Pada 1950, ahli naturopati asal Teufen, Swiss, itu mengawali petualangannya berburu tanaman obat di seluruh dunia dengan menyambangi Dakota Selatan, Amerika Serikat.
Di sana ia menetap dan berguru pada Ben Black Elk, pengobat suku Indian. Di akhir perjumpaan, sang pengobat menyematkan buah tangan: benih Echinacea purpurea. Benih itu kemudian dibudidayakan di kediamannya di Teufen.
Echinacea dikenal suku Indian di Amerika Utara sejak 1600-an. Menurut keyakinan mereka, echinacea kaya khasiat sehingga digunakan sebagai obat berbagai penyakit seperti sakit gigi, gangguan saluran pernapasan, batuk, demam, infeksi, gigitan ular, gigitan serangga, dan menambah stamina.

Khasiat Echinacea

Popularitas tanaman obat purba itu seakan abadi hingga era modern. Menurut catatan Drs Mono Rahardjo MS, peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik, di negeri asalnya, Amerika Serikat, pemakaian echinacea untuk produksi obat meningkat 67,9% pada kurun 1998 sampai 1999. Penjualan produk berbahan echinacea juga melonjak hingga 56,3%.
Nun di Benua Eropa, echinacea juga sohor. Kerabat bunga aster itu dikenal mujarab mengatasi flu akut. Di negara subtropis, flu ibarat penyakit musiman yang menyerang tatkala musim dingin. Para pasien biasanya mengatasi flu dengan menggunakan obat tetes hidung, minuman hangat, atau mengkonsumsi suplemen multivitamin dosis tinggi.
Hasil uji in vitro yang dilakuke Bioforce menunjukkan, echinacea ternyata berefek antiradang dan menghambat pertumbuhan bakteri, virus, dan cendawan. Hasil penelitian itu diperkuat uji klinis terhadap pasien flu di beberapa rumahsakit di Austria. Hasilnya, angka indeks gejala pada pasien menurun signifikan’ alias kondisi pasien membaik.
Berbagai penelitian lain menyebutkan, echinacea juga membawa harapan kesembuhan bagi para penderita kanker. Salah satunya hasil riset Sandra C Miller, dari Departemen Anatomi dan Biologi Sel, McGill University, Montreal, Kanada, yang meneliti keampuhan echinacea sejak 2002. Uji dilakukan terhadap mencit yang diinjeksi sel leukemia.
Hasilnya, jumlah natural killer cell (NK cell) pada kelompok yang diberi ekstrak echinacea meningkat signifikan ketimbang kelompok kontrol. Sepertiga dari jumlah mencit yang diberi asupan echinacea bertahan hidup. Sedangkan semua mencit pada kelompok kontrol meregang nyawa.
Menurut Sandra, echinacea juga berperan sebagai antineoplastik alias penghambat terbentuknya jaringan baru sehingga menghambat pertumbuhan tumor.

Tumbuh di tanah air

Gambar echinacea2 850x768 Buah Tangan Suku Indian bagi Kesembuhan
Alfred Vogel, membawa benih echinacea dari suku Indian

Pada 1998, Drs Mono Rahardjo MS membawa kabar baik bagi para pendamba kesehatan. Ia mencoba membudidayakan echinacea di Bogor, Jawa Barat. Dari hasil uji coba selama 2 tahun, kerabat kenikir itu ternyata tumbuh subur dilahan berketinggian 45 sampai 1.100 m dpi, beriklim basah maupun kering dengan kelembapan udara 84 sampai 94%. “Oleh sebab itulah echinacea sangat berpotensi dikembangkan di Indonesia,” ujar Mono.
Sayang, potensi itu tidak dimanfaatkan para produsen obat. Mereka lebih memilih mengandalkan pasokan impor ketimbang membudidayakan sendiri di tanah air. Salah satu perusahaan yang memproduksi suplemen berbahan echinacea adalah PT Nutren Internasional. Anak perusahaan PT Sido Muncul itu memadukan ekstrak echinacea dengan bahan herbal lain seperti madu, royal jeli, ginseng, dan klorela.
Beberapa perusahaan juga mengimpor obat berbahan echinacea. Salah satunya PT Totalcare Nutraceutical. Perusahaan di Jakarta Barat itu mendatangkan produk yang diproduksi A. Vogel dari Swiss. Kini, khasiat buah tangan suku Indian itu dapat dirasakan di tanahair.

Most popular

Most discussed