Anda pasti pernah melihat kaktus centong. Di pasar swalayan ia dijual sebagai tanaman hias pot. Batangnya dihias pita atau kancing berwarna, membentuk orang orangan. Di Meksiko kaktus itu juga banyak dijumpai di pasar.

Bentuknya sudah berupa selai, keju, madu, atau anggur. Namanya juga keren: melcocha, queso de tuna, miel de tunas, coloncho, dan vina de tuna. Kaktus sebagai keluarga dragon fruit memapg banyak yang bisa dimakan.

Sejak ratusan tahun lalu kaktus centong dan kerabatnya disantap orang. Yang paling kondang ialah Opuntia ficus indica. Oleh ibu-ibu di Meksiko pucuk tunas cabang kaktus dijadikan sayuran.

Khasiat Obat

Bagi orang Amerika, napoles-panggilannya dalam bahasa Spanyol itu identik dengan okra. Setelah duri dan tunas muda dibuang, ia dimasak menjadi salad atau sup. Buahnya, disebut tuna, diolah menjadi selai atau pasta.

Nenek moyang mereka rupanya mempunyai alasan bagus untuk menyantap kaktus. Setiap 142 gram Opuntia mengandung 5% karbohidrat, serat 20%, kolesterol 0%, vitamin C 32%, kalsium 8%, besi 2%, dan lemak 1%. Penelitian modem membuktikan, pektin pada buah dan batang menurunkan kadar kolesterol jahat.

Buahnya yang berserat cocok sekali untuk penderita diabetes karena dapat menurunkan kadar gula darah. Bahkan di Amerika beredar obat farmasi pencegah kanker prostat berbahan baku Opuntia 1.

Opuntia ficus indica dan saudara-saudaranya yang dapat dimakan diberi nama prickly pear cactus. Ciri khas mereka ialah berbatang pipih, mirip daun berukuran besar. Batang ini berfungsi sebagai penyimpan air, alat fotosintesis, dan memproduksi bunga. Bunga kebanyakan berwarna kuning, merah, atau ungu. Sosoknya bisa pendek, seperti kaktus centong atau memanjang sehingga pantas ditanam sebagai pagar.

Buah gurun

Meksiko, Italia, Israel, dan Amerika Utara adalah negara-negara yang menanam kaktus secara intensif. Di negara-negara itu pendapatan dari kebun kaktus melebihi hasil panen apel, jeruk, atau peach. Tanaman itu memang cocok dengan iklim di sana.

Ia mampu beradaptasi pada tanah yang tidak subur dan kering. Suhu di atas 55° C pun tidak mampu membuatnya layu. Ini karena stomata (mulut daun) terbuka pada malam hari, sehingga penguapan pada siang hari sangat minim. Pantaslah jika Israel menobatkan kaktus sebagai tanaman masa depan.

Yang dikembangkan oleh Israel bukanlah Opuntia. Alasannya sederhana, yaitu ingin mencari sesuatu yang baru. Lacakan mereka ke Gurun Kalahari di Bostwana menghasilkan 40 spesies kaktus, sebagian besar belum dikenal di pasar dunia. Setelah melalui penelitian panjang, muncullah kandidat terbaik, yakni dragon fruit Hylocereus undatus dan kaktus apel Cereus peruvianus.

Israel memang bukan satu-satunya pemasok dragon fruit ke pasar dunia. Soalnya buah naga itu juga banyak dikembangkan di negara lain. Namun, tidak demikian untuk kaktus apel. Satu-satunya kebun intensif kaktus apel ada di negara Yahudi itu. Kuobo, nama dagangnya di pasar, tumbuh sangat cepat dan berbuah sepanjang tahun. Daya tahannya terhadap stres air sangat tinggi. Benihnya masuk dari Camarillo, sebelah selatan California sebagai tanaman hias.

Edible Kaktus

Prickly pear, buahnya tidak beracun. Rasanya ada yang manis

Kaktus apel ini diduga sama dengan Cereus jamacaru. Batang berbentuk tabung dan berduri dengan banyak cabang. Kalau dibiarkan tingginya bisa sampai 9 m. Bunganya yang putih mekar pada malam hari.

Buah berukuran sedang dan tanpa duri. Warna buah kuning atau merah, tetapi daging buah putih. Kalau didekatkan ke hidung, aroma wangi langsung teruar. Ketika digigit, terasa asam manis di lidah.

Daging buah itu memang berbiji hitam, tetapi bisa dimakan, mirip sekali dengan kiwi.

Israel negara pertama yang menjual kuobo ke Eropa. Rasa kaktus apel itu tampaknya sesuai selera masyarakat di sana. Buktinya, mereka meminta 300 ton kaktus apel per tahun, tetapi hanya terpenuhi 70 ton.

Penyebabnya ialah terbatasnya pekebun kaktus apel di Israel. Apalagi hasil panen tidak seluruhnya berkualitas ekspor. Sejumlah pekebun kerap menjual kuobo mentah, setengah matang, atau bahkan terlalu matang.

Kuobo sukses dipasarkan, tetapi Ben Gurion University di Negev tidak berhenti sampai di situ. Dua tahun mendatang dari gurun pasir di Timur Tengah itu akan muncul buah kaktus baru, namanya dragon ‘s eggs. Warna buah merah dengan daging keunguan dihiasi biji hitam kecil yang bisa dimakan. Rasanya manis. Varietas baru ini hasil silangan pitaya merah dan kuning.

Kaya Akan manfaat

myrtillocactus geometrizans, buah jadi kismis, bunga untuk lalapan

Yang saat ini sedang naik daun di Indonesia memang dragon fruit. Namun, sebenarnya di berbagai pelosok dunia saudara-saudara buah naga sudah lama akrab dengan kehidupan sehari-hari. Buktinya ada di internet. Coba ketik kata cacti di yahoo, google, atau altavista, maka seabrek resep makanan berbahan baku kaktus akan tampil. Bukti lain ada di A Source Book of Edible Plants karangan Stephen Facciola 2. Di situ tercatat 75 spesies kaktus yang bisa dimakan.

Ambil contoh kaktus terkenal saguaro Carnegiea gigantea. Di barat daya Amerika dan barat laut Meksiko, buah kaktus raksasa yang manis ini dimakan segar. Kadang-kadang buah berwarna merah itu dijadikan selai, dibuat jus atau nawait, anggur kaktus.

Saguaro tidak berkembang pesat seperti H undatus lantaran pertumbuhannya sangat lambat. Apalagi sosoknya luar biasa besar. Di alam ia tumbuh sampai setinggi 18 m dengan diameter batang 65 cm. Saguaro tahan panas dan dingin sehingga wajar kalau umurnya panjang, sampai 200 tahun.

Kalau saguaro diambil buahnya, maka Stenocereus stellatus menyediakan batang, bunga, dan buah sebagai makanan manusia. Yang memanfaatkan lagi-lagi orang Meksiko. Di sana batang dan bunga itu digoreng bersama telur dan bawang, mirip dadar telur di sini.

Buahnya yang merah bisa dimakan segar atau diolah. Konon selai kaktus paling enak dibuat dari buah ini. Ada juga yang mengekstrak buah itu untuk diolah menjadi madu.

Pohon blueberry di Meksiko memang tidak ada, tetapi kismis rasa blueberry diproduksi besar-besaran di sana. Bahannya berasal dari blueberry kaktus Myrtillocactus geometrizans. Buah kaktus itu mirip sekali blueberry.

Warnanya kebiruan dan tampak eksotis tatkala melihatnya menempel di batang yang kehijauan. Kalau bunganya diambil, maka pasti untuk digoreng bersama telur atau sekadar lalapan.

Di barat daya Amerika ada kaktus unik Marshallocereus thurberi. Kaktus berbentuk pipa ini dikombinasikan dengan prickly pears untuk bahan baku permen yang disebut dulce pitahaya. Panen dilakukan setelah bulb berkembang.

Saat itu duri-durinya rontok sehingga yang tersisa batang berbentuk pipa. Batang inilah yang diolah jadi permen. Kalau batangnya tidak diambil, ia kelak akan menghasilkan buah berukuran besar yang juga bisa dimakan segar. Rasanya manis. Diolah untuk sirup atau anggur pun sering dilakukan.

Ragam kaktus yang bisa dimakan banyak sekali jumlahnya. Toh, yang berkembang pesat di pelosok-pelosok dunia hanya beberapa jenis saja. Kelompok opuntia adalah pelopornya. Kini disusul oleh aneka ragam dragon fruit dari keluarga hylocereus.

Di masa depan yang akan ikut bersaing kemungkinan Cereus peruvianus dan dragon ’s eggs. Habitat asli mereka daerah beriklim kering. Namun dragon fruit membuktikan, tanaman-tanaman gurun pasir bisa tumbuh di Indonesia. Keberanian penangkar buah untuk mencoba yang akan membuat para edible cacti itu berkembang di sini.

  1. Hwang, Seung Hwan, et al. “Antidiabetic Effect of Fresh Nopal (Opuntia Ficus-Indica) in Low-Dose Streptozotocin-Induced Diabetic Rats Fed a High-Fat Diet.” Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 20 Feb. 2017, doi:https://doi.org/10.1155/2017/4380721.
  2. Facciola, Stephen. Cornucopia: A Source Book of Edible Plants. Kampong Publications, 1990.