Anton-Nb

Deteksi Dan Kiat Menghindari Infeksi Payudara Mastitis

Perawatan payudara yang kurang memadai saat menyusui menjadi penyebab utama infeksi payudara.

Menyusui bagi seorang ibu merupakan suatu kebahagiaan, karena dapat memberi sesuatu yang berharga untuk buah hati. Jika menyusui tidak disertai perawatan yang memadai, dapat mengakibatkan infeksi jaringan payudara yang dikenal dengan mastitis.
Mastitis biasanya terjadi pada 6 bulan pertama menyusui, disebabkan lecet puting susu, atau ASI (Air Susu Ibu) terlalu penuh karena produksinya terus berjalan, namun tidak dikeluarkan. Kondisi tersebut menyebabkan payudara rentan mengalami infeksi [1].
Jenis bakteri penyebab mastitis adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus. Bakteri tersebut biasanya ditemukan di kulit dan tidak menimbulkan masalah. Mastitis terjadi jika bakteri masuk ke dalam tubuh melewati kulit yang terluka.
Mastitis berdampak buruk pada ibu dan bayi. Ibu merasa tidak nyaman dan seringkali memilih berhenti menyusui.
Untuk bayi, ASI terasa berbeda sehingga malas menyusu.
Mastitis sering terjadi pada masa menyusui. Meski begitu, perempuan yang tidak menyusui juga dapat terkena mastitis. Kondisi yang dapat menyebabkan mastitis di luar waktu menyusui misalnya infeksi di daerah kulit dekat payudara. Penyakit tertentu misalnya tuberkulosis, sifilis, atau actinomikosis juga dapat mengakibatkan mastitis. Merokok meningkatkan risiko mengalami mastitis, yang dikenal dengan periduktal mastitis.
Adanya kerusakan kulit sekitar payudara, misalnya akibat radiasi atau pembedahan mengakibatkan payudara rentan terkena infeksi. Selain itu jika daya tahan tubuh menurun, misalnya sedang menjalani kemoterapi, menggunakan steroid jangka lama, atau pengidap HIV, juga membuat perempuan rentan mengalami mastitis.

Gejala Mastitis

infeksi Deteksi Dan Kiat Menghindari Infeksi Payudara MastitisGejala mastitis diantaranya payudara menjadi bengkak dan nyeri. Kulit terlihat kemerahan yang merupakan tanda peradangan. Penderita juga merasa demam dan seluruh tubuh menjadi tidak nyaman. Kelenjar getah bening daerah ketiak dekat payudara yang sakit terkadang mengalami pembengkakan akibat proses infeksi [2].
Untuk memastikan seorang menderita mastitis atau tidak, selain melakukan pemeriksaan fisik, dokter dapat melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan infeksi. Jika sudah diobati, namun tidak membaik, dilakukan pemeriksaan kultur ASI untuk memastikan bakteri penyebab sehingga pengobatan lebih terarah.

Faktor Risiko Mastitis

Meskipun semua perempuan dapat terkena mastitis, ada beberapa kelompok perempuan yang memiliki faktor risiko lebih tinggi, diantaranya:

  1. Pernah menderita mastitis sebelumnya
  2. Menunda jadwal pemberian atau pemompaan susu. Karena produksi susu terus berjalan, jika tidak dikeluarkan maka ASI akan penuh,sehingga rentan terjadi mastitis
  3. Terjadi luka atau lecet pada puting susu, disebabkan posisi menyusui yang tidak tepat atau karena gigitan bayi.
  4. Penurunan daya tahan tubuh, misalnya karena kemoterapi, penggunaan steroid atau terinfeksi HIV.
  5. Penggunaan BH dan breast pad, yang terlalu ketat, sehingga dapat menyumbat saluran payudara. Selain itu penggunaan breast padyang kotor juga dapat memicu tumbuhnya bakteri.

Pengobatan

Meskipun mastitis cukup mengganggu, ibu tidak perlu kuatir, karena dapat sembuh dengan pengobatan. Dokter akan memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Pemeriksaan ASI dilakukan untuk menentukan jenis bakteri dan disesuaikan dengan antibiotik yang diberikan. Pemilihan antibiotik didasarkan pada faktor keamanan bayi. Selain antibiotik, dokter juga akan memberikan obat penurun demam, misalnya asetaminofen (parasetamol).
Saat menderita mastitis, ibu dianjurkan banyak istirahat dan minum lebih banyak air. Untuk mengurangi nyeri dapat menggunakan air es yang dibungkus, kemudian ditempelkan ke payudara yang sakit
Terapi lainnya dengan memperlancar aliran ASI. Sebelum menyusui, hangatkan payudara yang sakit dengan kain yang diberikan air hangat, sekitar 15 menit. Lakukan 3 kali dalam sehari. Dengan cara itu diharapkan aliran ASI pada payudara lebih lancar.
Cara lain mengosongkan ASI dengan memompa menggunakan breast pump. Selain itu, pemijatan dengan arah yang benar juga bisa memperbaiki aliran ASI.
Posisi menyusui yang benar, perubahan posisi secara berkala dan posisi mulut bayi yang tepat, merupakan cara tepat agar pemberian ASI dapat dilakukan dengan efektif sekaligus mencegah mastitis.Tidak ada salahnya berkonsultasi dengan ahli laktasi untuk mendapatkan pengetahuan yang memadai tentang bagaimana cara menyusui yang benar.
Menunda pengobatan mastitis dapat menimbulkan komplikasi, misalnya terjadi abses (terbentuknya nanah) di payudara. Hal itu dapat menjadi masalah serius bila tidak diatasi dengan tepat. Pengobatan abses payudara lebih sulit dibanding mastitis.

Jika Telah Terjadi Abses

Infeksi payudara yang tidak diatasi dengan baik dapat mengakibatkan terjadinya abses atau terkumpulnya nanah di payudara. Biasanya penderita merasa nyeri bertambah parah disertai demam. Payudara semakin membengkak dan terdapat benjolan yang berisi nanah.
Jika terjadi abses, dokter akan melakukan tindakan yang dikenal dengan drainage (pengeluaran nanah). Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kultur nanah yang keluar untuk mengetahui jenis bakteri yang mengakibatkan abses. Setelah drainage, penderita diberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis bakteri. Jika bakteri belum diketahui jenisnya, biasanya diberikan antibiotik spektrum luas. Untuk mengatasi demam dapat diberikan obat penurun panas, misalnya asetaminofen.
Meskipun abses, pemberian ASI dapat diteruskan melalui payudara sehat. Payudara yang mengalami abses selanjutnya dapat digunakan menyusui jika gejala sudah reda.

Referensi

[1] “Mastitis.” Nhs.Uk, 3 Oct. 2018, https://www.nhs.uk/conditions/mastitis/.

[2] Breastfeeding – Dealing with Mastitis | Betterhealth.Vic.Gov.Au. http://www.betterhealth.vic.gov.au/health/HealthyLiving/breastfeeding-dealing-with-mastitis. Accessed 24 Apr. 2021.

Most popular

Most discussed