Fitofarmaka: Setelah Khasiat Obat Tradisional Teruji

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Tubuh renta itu menjadi lebih cnudah letih. Persendian juga nyeri mirip serangan rematik. Biang kerok gangguan kesehatan itu tersingkap ketika Khaerudin (60 tahun) memeriksakan diri ke dokter. Kadar total kolesterol melambung, 280 mg/dl ambang batas, 200 mg/dl. Pensiunan guru di Lahat, Sumatera Selatan, itu malah enggan menukar resep dokter, la memilih ekstrak temulawak yang diresepkan R Broto Sudibyo BSc, pengobat tradisional di Yogyakarta.

Setiap pukul 08.00 dan 18.00 Khaerudin mengkonsumsi sesendok ekstrak temulawakyang dilarutkan dalam segelas air. Dua bulan berselang, kadar total kolesterol turun menjadi 220 mg/dl. Kadar normal dicapai sebulan kemudian. Temulawak ampuh mengatasi kolesterol? Begitulah hasil uji klinis yang ditempuh Prof Dr Suwijiyo Pramono Apt dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada belum lama ini.

Bacaan Lainnya

Dalam uji klinis, doktor Fitokimia alumnus Universite Toulouse Perancis itu melibatkan 80 pasien hiperlipidemia alias berkolesterol tinggi. Sebuah kelompok diberi 2 kapsul ekstrak temulawak 2 kali sehari selama sebulan. Hasilnya kadar kolesterol mereka turun 18,25%. Kadar LDL (low density lipoprotein) yang dikenal sebagai kolesterol jahat juga turun 25,98% [1].

Anggota famili Zingeberaceae itu mengandung kurkumin dan xanthorrisol yang berperan menurunkan kolesterol. Xanthorrisol pun tokcer mencegah penyumbatan pembuluh darah ke otak. “Temulawak berfungsi sebagai antiplatelet,” ujar Prof Sidik, guru besar Jurusan Farmasi Universitas Padjadjaran. Setelah melalui ujiklinis, temulawakyang dimanfaatkan sebagai jamu sejak zaman Majapahit itu menjadi fitofarmaka. Kini ia bisa disebut sebagai obat.

Lebih aman

Kumis kucing atasi hipertensi

Menurut direktur produksi Phapros Sayekti Sulisdiarto, dengan fitofarmaka keamanan konsumen lebih terjamin karena telah terbukti. Khasiat pun teruji. “Dengan fitofarmaka konsumen mendapat terapi lebih aman dalam jangka panjang dan secara ilmiah bermanfaat,” ujar apoteker alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Itu juga disampaikan oleh manajer produk PT Kimia Farma Wahyudi Setiawan. “Fitofarmaka dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena telah diuji,” katanya [2].

Dalam jagat obat bahan alam, fitofarmaka tingkatan tertinggi. Bahan alam disebut fitofarmaka setelah melewati uji klinis untuk membuktikan khasiat dan keamanannya. Minimal 80% pasien harus sembuh dalam uji itu. Pembuktian khasiat bahan alam melalui uji praklinis menghasilkan herbal terstandar. Sedangkan bahan alam yang digunakan secara turun-temurun, tanpa riset ilmiah untuk membuktikan khasiatnya disebut jamu.

Supaya konsumen paham, produsen mencantumkan logo di sudut kiri atas kemasan (baca: Metamorfosis Jamu, Jadilah Fitofarmaka halaman 106). Setelah naik pangkat menjadi fitofarmaka, obat itu dapat diresepkan di tempat pelayanan kesehatan formal seperti poliklinik dan rumahsakit. Bahan fitofarmaka sudah terstandarisasi dengan baik. Sayekti membandingkan dengan jamu yang umumnya berupa simplisia seperti daun, akar, atau bagaian lain tanaman yang dikeringkan.

Khasiat dan keamanan jamu berdasar bukti empiris yang diwariskan secara turun-temurun. Jadi para produsen fitomarmaka menetapkan standarisasi bahan baku meliputi budidaya tanaman, pemilihan bibit bermutu, dan proses pemeliharaan yang mengharamkan pestisida kimiawi. Ketinggian tempat, cara, metode, dan masa panen juga diperhatikan. Sebab, keistimewaan tanaman obat berupa kandungan senyawa aktif.

Antidiare

Cabai jawa meningkatkan libido

Sebagai negara megabiodeversitas terbesar kedua setelah Brazil, Indonesia mempunyai 9.600 jenis tanaman obat. Dari jumlah itu yang sudah dimanfaatkan baru 350 tanaman. Khasiat ratusan tanaman itu yang teruji klinis dan menjadi fitofarmaka cuma 5 buah. Kelima produk fitofarmaka yang beredar di pasaran adalah Nodiar diproduksi oleh PT Kimia Farma, Rheumaneer (PT Nyonya Meneer), Stimuno (PT Dexa Medica), Tensigard dan X-Gra keduanya diproduksi PT Phapros.

Nodiar diuji klinis di RS Hasan Sadikin Bandung melibatkan 96 pasien diare. Sebuah kelompok diberi tablet Nodiarberbahan baku daun jambu biji berdosis 2 tablet setara 600 mg 4 kali sehari selama 2 hari. Sedangkan kelompok lain diberi plasebo berdosis sama. Plasebo atau pembanding dalam uji klinis,bentuk dan warna persis sama dengan obat yang diuji atau Nodiar. Yang membedakan adalah bahan baku dan kandungan senyawa aktif.

Mereka pasien diare akut lebih dari 3 kali sehari dan paling lama 2 pekan. Selain itu mereka juga pernah mendapat antibiotik atau antidiare tetapi belum sembuh, berpenyakit saluran cerna, dan minum obat yang menimbulkan diare seperti simetidin, teofilin, dan propanolol. Hingga akhir uji klinis yang berlangsung 11 bulan, 10 pasien dikeluarkan dari riset ilmiah lantaran memberikan alamat palsu (3 orang) dan gagal ditemukan alamatnya (7 pasien).

Jadi hingga riset rampung hanya 86 pasien yang dianalisis. Mereka terbagi 2 kelompok: 42 pasien kelompok fitofarmaka; plasebo, 44 orang. Kelompok fitofarmaka yang sembuh pada hari pertama 34 pasien (80,95%); hari ke-2, 39 orang (92,86%). Efek samping berupa mual hanya dialami oleh 1 pasien kelompok fitofaramaka.
Meningkat

Herbal lain yang naik kelas menjadi fitofarmaka adalah meniran bermerek Stimuno. Obat itu diuji klinis di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, RS dr Soetomo Surabaya, RS dr M Djamil y Padang, dan RS dr M Hoesin Palembang. Dalam uji klinis itu meniran terbukti sebagai imunomodulator atau peningkat kekebalan tubuh.

Berbagai penyakit akibat anjloknya sistem imunitas seperti asma, hepatitis, herpes, infeksi saluran pernapasan akut, keputihan, dan tuberkulosis terbukti sembuh dengan terapi meniran.

Di RS Ciptomangunkusumo, Jakarta Pusat, 60 penderita tuberkulosis (TB) dikelompokkan menjadi 2 bagian, masing-masing 30 pasien. Kedua kelompok itu sama-sama diberi obat-obatan anti-TB. Hanya kelompok A yang diberi tambahan sebuah kapsul ekstrak meniran 50 mg 3 kali sehari. Selama 2 bulan kesehatan mereka dipantau. Menurut dr Zulkifli Amin PhD FCCP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, efek meniran tampak pada pekan pertama.

Jumlah bakteri tahan asam (BTA, salah satu indikator seseorang terserang TB) pasien yang diberi meniran berkurang nyata, hingga 30%. Hasil uji laboratorium menunjukkan, pasien kelompok A sembuh pada pekan ke-6; kelompok B, pekan ke-14.

Sedangkan Tensigard diuji klinis oleh Dr dr Fadilah Supari SpJP sekarang menteri kesehatan. Uji melibatkan 142 penderita hipertensi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama diberi 250 mg fitofarmaka 3 kali sehari; kelompok lain, 5 mg Amlodipin sekali sehari. Amlodipin obat yang lazim diberikan kepada pasien hipertensi. Selama 12 pekan tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, lipid plasma, kadar gula darah diukur.

Menurut Fadilah Supari, Tensigard kini diproduksi 5-juta kapsul per tahun  terbukti menurunkan tekanan darah setara dengan Amlodipin. Tensigard juga tak mempengaruhi elektrolit plasma, lipid plasma, dan kadar gula darah. Yang berperan menurunkan tekanan darah adalah senyawa apigenin (dari daun seledri) dan methylripariochromene (kumis kucing). Yang menggembirakan, obat itu tanpa efek samping.

Sedikit

Kunyit terbukti sebagai antibakteri

Selain Tensigard, Phapros juga memproduksi sebuah fitofarmaka lain bermerek X-Gra. Obat itu terbukti ampuh mengatasi penyakit kaum pria: disfungsi ereksi. “Disfungsi ereksi penyakit yang banyak menimpa kaum pria. Jumlah penderitanya sangat banyak, tetapi tersembunyi.

Jika penderita memakai obat kimia, mereka harus mendapat resep dokter. Itulah yang menjadi latar belakang Phapros menciptakan X-Gra yang produksinya mencapai 1-juta kapsul setahun. “Jadi penderita disfungsi ereksi dapat langsung membeli obat tanpa perlu mengunjungi dokter,” ujar Sayekti.

Kelima fitofarmaka itulah yang kini beredar di pasaran. Amat sedikit memang, ketimbang kekayaan tanaman obat Indonesia. Menurut Dr Suprapto Ma’at dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, sedikitnya fitofarmaka lantaran banyak kendala. Di antaranya, “Besarnya biaya yang harus diinvestasikan, mulai dari biaya uji praklinik, standarisasi farmasi, uji klinik, sampai promosi,” ujar Suprapto.

Di sisi lain, pengusaha ragu atas kembalinya investasi yang telah ditanam. Itulah sebabnya, “Sebagian besar para pengusaha obat tradisional terbuai dengan keuntungan besar dengan memproduksi jamu,” katanya. Menurut Dr M Syakir, kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik, obat tradisional juga bermanfaat meningkatkan kemandirian masyarakat.

Mereka tak harus bergantung pada obat-obatan sintesis yang relatif mahal. Syakir membandingkan dengan negara-negara maju yang kini lebih banyak memanfaatkan obat bahan alam. Namun, Indonesia kaya obat alami justru tak menggunakan secara optimal. “Setiap tahun kita mengimpor bahan baku obat generik US$116-juta (setara Rpl,l-triliun, red) karena pemanfaatan tumbuhan obat dalam pelayanan kesehatan formal masih terkendala,” ujar Menteri Pertanian Dr Anton Apriyantono.

Dokter percaya

Dengan status fitofarmaka, dokter lebih percaya meresepkan obat bahan alam. Menurut Wahyudi Setiawan dokter-dokter di berbagai rumahsakit dan Puskesmas terbiasa meresepkan Nodiar. Demikian pula Tensigard dan X-Gra. Produksi Nodiar 10.000 unit dalam 3 bulan terakhir. Nilai itu memang turun sekitar 50% ketimbang produksi sebelumnya ketika masih menggunakan merek Fitodiar.

Belum jelas penyebab penurunan produksi Nodiar yang notabene fitofarmaka. Banyak faktor berpengaruh seperti perubahan merek, misalnya. Wahyudi mengatakan, yang menentukan brand image di masyarakat bukan hanya status fitofarmaka, tetapi juga promosi yang gencar. Contoh yang gamblang adalah pertarungan Nodiar dan Diapet. Keduanya berbahan baku sama: daun jambu biji sekaligus berfaedah sama: antidiare.

Status Nodiar yang fitofarmaka lebih tinggi ketimbang Diapet yang herbal terstandar. Namun, menurut Wahyudi masyarakat lebih mengenal Diapet yang diproduksi PT Soho Industri Pharmasi. Mengapa?

Sebab, Diapet lebih gencar berpromosi. Beberapa fitofarmaka seperti Stimuno dan Tensigard belum mempunyai pesaing di pasaran.

Bagi konsumen, gelar fitofarmaka memang menguntungkan dan melindungi. Sebab, keamanan, dosis, dan khasiat terbukti secara ilmiah. Namun, bagi produsen, perlu biaya miliaran rupiah untuk membuktikan khasiat.

Itu saja belum cukup, diperlukan promosi agar masyarakat lebih mengenal fitofarmaka dan strategi pemasaran. Dengan begitu, “Dalam waktu dekat obat asli Indonesia dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, bahkan menjadi tamu yang dikehendaki di negara lain,” ujar Suprapto Ma’at.

[1] CDC. “LDL and HDL Cholesterol: ‘Bad’ and ‘Good’ Cholesterol.” Centers for Disease Control and Prevention, 31 Jan. 2020, https://www.cdc.gov/cholesterol/ldl_hdl.htm.

[2] “Menjawab Tantangan Pengawasan Obat Tradisional Di Era Globalisasi.” Insetgalus.Com, https://www.jamudigital.com/berita?id=Menjawab_Tantangan_Pengawasan_Obat_Tradisional_di_Era_Globalisasi. Accessed 20 Apr. 2021.

Pos terkait