Jeruk Krong Battambang Usir Memori Pol Pot

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
358 anak tangga menuju kuil banon

Sebuah motor putih bertuliskan kata “police” bersandar di batang pohon mangga. Sang pemilik ada di dalam sebuah gubuk berdinding anyaman bambu. Tinggi dinding hanya setengah badan orang dewasa, sehingga terlihatlah bale-bale tempat duduk polisi pemilik motor itu. Atapnya terbuat dari anyaman bambu. Di atas pintu masuk tanpa daun pintu terpampang tulisan “police office”.

Hanya ada seorang polisi di tempat wisata itu. Mungkin bayang-bayang suram 28 tahun lalu masih berbekas di ingatan, sehingga diperlukan seorang polisi untuk menjaga kawasan wisata itu. Apa pun alasannya, kehadiran polisi itu memberi rasa aman saat mendaki 318 anak tangga menuju puncak gunung, tempat berdirinya Banon Temple. Kuil yang dibangun oleh 2 era kerajaan pada abad ke-10 dan 12 itu kini menjadi objek wisata andalan Provinsi Battambang.

Patung lambangnya

Menuju puncak Gunung Battambang

Dari kuil berketinggian 400 m dpl itulah dulu tentara Pol Pot dan Khmer Merah mengintai musuh. Dari tempat yang sama pula kini pengunjung bisa melihat hamparan kebun Krong battambang. “Namanya Krong battambang. Artinya, jeruk battambang,” kata Chhim Vachira. Deputy Director Provincial Department of Agriculture Battambang itu meyakinkan, “Jeruk lokal Battambang paling enak di Kamboja,” tambahnya.

Ucapan master di bidang agronomi itu tampaknya bukan bualan. Kim San, pemandu Kami, menceritakan pelancong dari Thailand yang masuk melalui jalan darat pasti singgah di Battambang membeli jeruk lokal itu.

Penduduk Siem Reap dan Phnom Penh 350 km dari Battambang menjadikannya sebagai buah tangan. Di Sa le (= pasar Le), Battambang, harga Krong cuma US$7,5 per 144 butir. Para penjaja buah di Siem Reap, 200 km dari Battambang, menjajakannya US$12 per 40 butir.

Transaksi jeruk di Kamboja unik. Yang dipakai hitungan butir buah, bukan kilogram. Tak heran kalau yang tersedia di warung para penjual bukan timbangan, tetapi keranjang bambu, segunduk karton, dan selotip. Begitu transaksi disetujui memakai dolar Amerika atau baht Thailand jeruk dihitung satu per satu, masuk ke dalam karton dan diselotip, siap dibawa pembeli.

Kami berkunjung ke sana pada waktu yang tepat, awal Oktober. Musim panen jatuh pada Agustus—Oktober. Saat itu kota tua peninggalan Perancis itu penuh penjual jeruk. Jika persediaan menipis, para pemasok membawa jeruk di bak terbuka bertutup tikar bambu, bukan terpal.

Mobil boks mampir di gerai para pemesan dan menurunkan jeruk sesuai jumlah yang diminta. Semua jeruk berasal dari kaki Gunung Battambang. “Daerah itu sentra buah-buahan terbesar di Kamboja,” kata Tuy Rong, Chief of Tourism District of Battambang. Sebuah patung wanita menyunggi jeruk di kepala dan tangan kanan menenteng nanas jadi salah satu bukti.

Tiga bulan

Lokasi kebun ada di seputar Banon Temple sampai ke Bat Sala Village, Choer Teal Commune, Banon District. Luas penanaman 2.000 ha. Pada awal Oktober itu ada kebun yang sudah selesai panen, tetapi banyak pula yang pohonnya masih penuh buah. Ketika didatangi, kebun yang masih dipenuhi buah ada di bawah Banon Temple.

Layaknya pekebun di negara yang baru saja membangun, kebun itu tak terurus sesuai standar kebun. Rumput setinggi lutut bertebaran di berbagai pojok. Ranting-ranting kering dibiarkan “mengotori’ tajuk tanaman. Banyak daun kuning.

Di pojok-pojok kebun bahkan terlihat pohon yang meranggas tanpa daun. Semua memakai jarak tanam 4 m x 4 m, padahal idealnya 5 m x 5 m. Tajuk di kebun itu memang belum saling bersentuhan. Tinggi tanaman berkisar 1,50—1,75 m.

“Pekebun di Battambang hanya memakai pupuk kandang sapi,” tutur Chhim Vachira. Tambahannya, jerami padi yang ditumpuk di bawah tajuk. Mereka tak kenal pupuk dan pestisida kimiawi, sehingga label organik sering digadang-gadang untuk menambah nilai jual.

Toh, jeruk yang diperbanyak dengan teknik okulasi itu sanggup berproduksi sampai 500 buah pada umur 6—10 tahun. Saat pertama kali berbuah umur 3 tahun muncul 80 butir. Masa puncak hanya sampai umur 8 tahun. Dua tahun berikutnya, sampai 10 tahun, produksi 500 buah/pohon bisa dipertahankan jika perawatan intensif. Lewat 10 tahun langkah terbaik adalah peremajaan.

Makan Jeruk Dengan Cara Di Hisap

Begini cara warga Kamboja menikmatinya

Jeruk andalan kota ketiga terbesar di Kamboja itu dari kejauhan sosoknya seperti siem. Namun, ketika dijamah langsung terasa kulitnya yang keras. Karena ukurannya hanya sebesar bola kasti, ia bagaikan pentil pamelo Citrus maxima.

Yang menarik cara memakannya. Chorn Chuon, anak lelaki berusia 16 tahun yang mengantar Kami ke kebun memperagakan cara menikmati Krong. Kulit buah yang hijau dikupas dengan pisau sampai terlihat putihnya kulit bagian dalam.

Cara mengupasnya, berputar mengelilingi buah sehingga kulit tidak terpotong. Setelah itu salah satu ujung buah dilubangi. Lewat lubang tersebut air jeruk dikecup. Supaya cairan yang keluar banyak, buah dipencet-pencet sambil terus diisap.

Kalau buah dipotong melintang, terlihat daging buah mirip pamelo. Menurut Hendro Soenarjono, pakar buah yang dikirimi Krong battambang, ia termasuk orange Citrus sinensis. “Salah satu ciri, kulitnya memang tebal,” tutur Hendro. Jeruk siem dan keprok masuk kelompok tangerine Citrus reticulata. Sayang, buah yang dicicipi mantan kepala kebun percobaan milik Deptan di Cipaku, Bogor, itu masam dan hambar.

“Jenis orange memang ada 2: sweet orange seperti valensia dan sour orange seperti jeruk tanin,” kata Hendro. Battambang termasuk valensia. Valensia bisa bercitarasa manis, hambar, agak getir, tergantung kondisi tempat tanam dan iklim setempat. Di tanah gambut rasanya menjadi agak masam dan hambar.

Dari kaki gunung Battambang, di bawah Banon Temple, Krong battambang merambah kota besar di Kamboja. ‘Kesegaran Krong battambang diharapkan melunturkan ingatan 28 tahun lalu, saat terjadi pembunuhan besar-besaran di kebun jeruk itu.