Kelomangku Sayang

Kesukaan Martha pada kelomang hingga kini terus dipelihara. “Saya suka karena mereka lucu dan cantik. Kadang geli karena suka menjepit jari,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti itu.

Di rumahnya di Jakarta Pusat, puluhan kelomang dari 5 jenis seperti Coenobita rugosus, C. perlatus, C. violacens, C. brevimanus, dan C. capives menempati habitat baru di bak fiber dan kotak kaca sepanjang 60 cm. Semuanya beralaskan pasir laut.

Nun di Jakarta Barat, Felix J. Wang memiliki hobi serupa. Meski baru 5 tahun memelihara, alumnus Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung itu sudah mengoleksi 6 jenis kelomang. Selain 5 jenis seperti milik Martha, jenis lain yang dimiliki C. purpureus asal pesisir pantai Jepang. “Semuanya ada sekitar 150 ekor,” ujar Felix yang belakangan raiin berburu kelomans ke berbagai daerah.

Termasuk dalam Kerabat udang

Selama ini kumang sebutan kelomang di Jawa Barat dianggap kerabat siput dari keluarga Gastropoda. “Padahal ia termasuk kerabat crustacea,” kata Dr Triyanto, kepala Departemen Perikanan dan Kelautan, Universitas Gadjah Mada. Sebab itu, seperti kepiting dan udang, kumang tidak dapat membuat rumah sendiri.

Ia terpaksa meminjam cangkang lain untuk menutupi perutnya yang lunak. “Baju” itu dipilih sesuai bobot dan ukuran tubuh. Namun, biasanya cangkang yang dipilih memiliki putaran ulir ke kanan (dekstral).

Menurut Felix sebenarnya ada 3 jenis pong-pongan sebutan kelomang di Jawa Tengah yakni kelomang darat, tawar, dan laut. Pong-pongan tawar dan laut memiliki keragaman jenis terbesar, mencapai 600 jenis. Bandingkan dengan pong-pongan darat yang berjumlah 18 jenis. Meski demikian kelomang darat paling banyak dipelihara.

Selain mudah dirawat, ia pun tidak butuh tempat besar. Cukup ditaruh dalam hermitarium (akuarium kelomang, red), minimal berukuran panjang 40 cm dan lebar 25 cm bisa memuat 10 ekor.

Dekorasi hermitarium dapat dibuat sederhana. Cukup disediakan tempat bersembunyi dan memanjat dari batu karang dan koral sudah memadai. Kedua batuan itu dapat menjamin ketersedian kalsium bagi kelomang. Tanaman hidup seperti selada bisa dijadikan hiasan.

Yang terpentng pastikan bibir hermitarium dan titik tertinggi panjatan minimal dua kali besar bentangan kaki depan. Tujuannya agar kelomang tidak kabur.

Agar tampak eksotik, cangkang boleh dicat. Jenis cat yang dipakai harus tahan air dan tidak beracun. Secara alami kelomang menghindari cangkang siput kepala kambing Cassis cornuta, Cypraecassis rufa, kuwuk Cypraea sp, Ovula sp, dan siput gong-gong Strombus canarium.

Demikian pula cangkang bivalvia asal kerang, kima, dan tiram. “Cangkang-cangkang itu terlalu berat, sehingga susah bila kelomang mau berganti cangkang saat sudah sempit,” ujar Felix. Untuk itu di dalam hermitarium perlu disediakan cangkang beragam ukuran.

Di antara sekian banyak jenis kelomang, ada beberapa yang menjadi favorit para kolektor:

  1. Coenobita perlatus


    Sebutan stroberi melekat lantaran Coenobita perlatus1 itu memiliki corak merah menyala dihiasi pori-pori bertutul putih bak stroberi segar. Selain corak merah, stroberi masih ada warna lain yang tidak kalah menarik yaitu jingga dan belang merah.

    Jenis ini banyak ditemukan di daerah tropis yang lembap seperti pantai timur Afrika dan Kepulauan Polynesia. Kelomang itu bisa mencapai ukuran 10 sampai 13 cm. Jenis yang aktif siang dan malam hari itu dijual Rp50-ribu sampai Rp60-ribu/ekor.

  2. Coenobita Brevimanus


    Coenobita brevimanus2 termasuk kelomang darat terbesar. Ukurannya bisa mencapai panjang 15 sampai 20 cm. Meski besar, brevimanus bercupit tangan kecil, dengan daya cengkeramnya kuat. Ia sering dianggap raja kelomang, karena sering menang kala bertarung.

    Keahlian itu juga dimiliki brevimanus lain berwarna ungu, nila, merah jambu, dan cokelat. Jenis yang di Indonesia populer dengan sebutan indonesian land hermid crab (indos) atau round-eyed itu terletak pada mata berbentuk silinder dan kecil.

    Brevimanus hidup di daerah bercurah hujan kering dan dataran rendah. Pantai berbatu karang mulai dari Kepulauan Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik menjadi tempat favorit. Di Indonesia jenis ini banyak terdapat di pantai selatan Yogyakarta.

  3. Coenobita Violascens


    Coenobita violascens3 memiliki tubuh ungu kebiruan dan abu-abu kebiruan. Penampilannya mirip brevimanus dengan perbedaan di kaki dan cupit yang tampak berwarna jingga, cokelat, atau merah tua.

    Jenis yang mudah di dapati di Kepulauan Okinawa hingga pulau-pulau di Asia Tenggara itu memiliki karakter pendiam. “Dia tidak segalak brevimanus,” ujar Felix.

  4. Coenobita Cavipes


    Yang tak kalah menarik adalah jenis Coenobita cavipes4. Cav sebutan cavipes  terdiri dari 5 jenis. Mereka dibedakan dari warna seperti hitam, cokelat tua, cokelat muda, jingga, dan merah bata. Bentuk matanya pun unik: pipih, kecil, dan membulat di ujung. Cavipes banyak ditemukan di daerah tropis terutama hutan bakau, seperti di pantai timur Afrika, Taiwan, dan Nusa Tenggara.

Perawatan kumang

Pelihara sebentar, mati. Pelihara sebentar, mati lagi. Kejadian itu sering menimpa hobiis baru. Padahal jika tahu cara merawatnya, kelomang bisa bertahan hingga 10 tahun. “Mudah dan tidak sulit merawatnya,” ujar Felix J. Wang.

Kelomang perlu air untuk menjaga kelembapan insangnya. Agar kebutuhan air dipenuhi, sediakan 2 mangkok kecil air tawar dan air garam tak beryodium. Namun, bila hermitarium tak cukup, pakai tempat minum berisi air garam. Air tawar diberikan dengan menyemprot sekali sehari ke sekujur tubuh.

Lokasi minum dipilih yang mudah dipanjat dan digapai kelomang. Penggunaan tempat air terlalu licin sebaiknya hindari untuk mencegah kelomang kecil tenggelam.

Kelomang termasuk omnivora. Apapun akan disantapnya. Menurut Felix, kelomang menyukai kelapa, sawi, tomat, daging, dan pelet. Pakan itu cukup diletakkan dalam mangkok kecil. Supaya kelomang sehat, hindari pemberikan pakan berlebihan dan segera buang yang tersisa.

Dalam setahun kelomang mengganti kulit hingga 3 sampai 4 kali. Penggantian itu seiring bertambahnya bobot kelomang. Untuk itu dalam hermitarium perlu disediakan rongga batu karang, kayu, dan pasir sebagai tempat berlindung. Proses pergantian kulit memakan waktu 7 sampai 10 hari.

Setelah itu kelomang siap keluar dari persembunyian dengan penampilan baru, cupit, kaki, dan sungut kembali utuh. Warna kulit pun sering terlihat berbeda.

Kelomang darat hidup nyaman pada suhu 14 sampai 40°C dan kelembapan 78%. Agar kelembapan hermitarium terjaga, sesekali lakukan penjemuran. Sebelum dijemur, kelomang perlu dipindah agar ia tidak mengalami dehidrasi. Bila itu dibiarkan, kelomang akan keluar dari cangkang dan lama-kelamaan mati.

Tubuh kelomang suka dihinggapi parasit berwarna cokelat seperti kutu. Bila didiamkan parasit itu menyebabkan kematian.Parasit dapat diambil menggunakan pinset. Bila parasit menempel di perut, paksa kelomang keluar dahulu dari cangkang.

Antena kelomang sakit mengatup ke bawah, sehingga tubuh mudah dikeluarkan. Setelah itu lubangi bagian belakang cangkang di putaran kedua atau ketiga. Lubang itu kemudian ditiup atau dipanaskan. Hati-hati! Jangan mengenai bagian belakang perut, karena itu bagian sensitifnya.

  1. Coenobita Perlatus, Strawberry Hermit Crab. https://www.sealifebase.ca/summary/Coenobita-perlatus.html. Accessed 22 Feb. 2021..
  2. WoRMS – World Register of Marine Species – Coenobita Brevimanus Dana, 1852. http://www.marinespecies.org/aphia.php?p=taxdetails&id=208656. Accessed 22 Feb. 2021.
  3. Kato, Saori, et al. “Larval Development of the Land Hermit Crab Coenobita Violascens Heller, 1862 (Decapoda, Anomura, Coenobitidae) Described from Laboratory-Reared Materia.” Zootaxa, vol. 3915, no. 2, Feb. 2015, pp. 233–49. www.biotaxa.org, doi:10.11646/zootaxa.3915.2.3.
  4. “Coenobita Cavipes.” Aquarium Glaser GmbH, 10 Jan. 2011, https://www.aquariumglaser.de/en/fish-archives/coenobita_cavipes_en/.