Anton-Nb

Ketika Wagub Tau Samawa Cinta Ikan

Saat ayam jantan berkokok tanda subuh tiba, teriakan Drs H Bonyo Thamrin Rayes menggelegar. “Siapa yang berani melakukan ini. Ayo mengaku!” ujar wakil Gubernur
Nusa Tenggara Barat itu. Wajah sedikit memerah tanda marah. Di depannya 4 staf hanya bisa berdiri menunduk. Amarah Bonyo meledak bukan karena menumpuknya tugas pemerintahan atau kemalasan karyawan. Pagi itu 40 koi kesayangan menolak pemberian pakan dari tangannya lantaran sudah didahului staf. Tak pelak, koi-koi itu tak mau mendekatinya.
Dengan perasaan dongkol, Bonyo  begitu beliau dipanggil melangkah ke kolam patin. Untungnya, kolam seluas 15 m2 itu belum “dijamah” pembantu. Bonyo pun memulai ritual, setiap Subuh itu. Dengan cekatan Bonyo mengambil segenggam pelet dari wadah. Berselang sesaat, tawa dan senyumnya mengembang ketika 200 patin itu berebut pakan di tangannya. “Lain kali jangan pernah memberi pakan ke semua ikan, kalau saya ada di Mataram,” ujarnya tegas.
Sejam lebih Bonyo memuaskan batin di tepi kolam. Perasaan marah, kesal, dan jengkel musnah sudah. Saat matahari mulai menampakkan diri, ia pun meluncur kerja. “Dari kolam ikan, ide dan semangat kerja muncul. Makanya saya marah kalau ada yang memberi pakan,” katanya. Langkah pun terasa ringan saat memulai aktivitas kerja rutinnya.
Ritual itu terulang sepulang kerja. Dengan pakaian dinas lengkap, ia kembali menyapa koi dan patin. Cukup menepuk kedua belah tangan, ikan-ikan itu berkumpul di tepi kolam. “Ini obat stres dan lelah saya,” ujar mantan wakil ketua DPRD Kabupaten Sumbawa pada 1971 itu. Sebelum masuk peraduan, ia pun masih menyempatkan diri bercengkerama 2—3 jam dengan semua ikan.

Hobi ikan Hias

hobi1 Ketika Wagub Tau Samawa Cinta IkanTak ada yang menandingi kecintaan anak kedua pasangan Lalu Muhammad Yasin Rayes dan Juweriah itu pada ikan. Dua rumah miliknya di kota Mataram dilengkapi masing-masing sebuah kolam koi, kolam patin, dan kolam besar berisi campuran nila, mas, dan gurami. Agar mereka hidup nyaman, semua kolam dipasang seperangkat filter.
Kolam lain juga dibangun di kebun buah miliknya di Kabupaten Sumbawa. Kolam tanah seluas 25—50 m2 itu berisi ratusan nila dan mas. “Sambil berkebun juga bisa menikmati ikan,” ucap Bonyo. Lelah mengurus rambutan, durian, dan lengkeng, ayah 9 putra-putri itu menyegarkan diri dengan bercengkerama bersama ikan.
Semua ikan-ikan dijaga penerima The Best Award Insan Berprestasi Nasional 2001 itu bak harta karun. Klangenan itu dirawat penuh perhatian dan kasih sayang. Saking perhatiannya, kelahiran Tal Juran Alas, Kabupaten Sumbawa, itu hafal semua jenis ikan berikut jumlahnya. Setiap kali memberi pakan dan mengecek kesehatan ikan, ia tak lupa menghitung. “Koi ada 40 ekor, patin 200 ekor, nila dan mas ratusan ekor. Semua itu butuh pelet sekitar 40 kg/bulan,” ujar alumnus IIP Jakarta pada 1979 itu.
Demi kesehatan ikan, mantan sekretaris Daerah Provinsi Kabupaten Sumbawa, NTB, pada 2001 itu tak sungkan menguras kolam sendiri. Sebulan sekali Saat senggang Bonyo berbasah ria membersihkan kotoran, lumut, dan daun-daun dari kolam. Filter kolam koi juga rutin dibersihkan. Demikian juga pergantian air sebanyak 20—30%, rutin dilakukan setiap hari. “Ikan akan sehat kalau airnya juga sehat dan bersih,” ucap ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan di Kabupaten Dompu itu.
Kecintaan pada ikan membuat Bonyo enggan memberi koleksinya pada teman atau kerabatnya. “Saya sudah memelihara mereka sejak kecil,” ujar pengagum tokoh nasional Muhammad Natsir itu. Bonyo tidak pernah mau memasak ikan nila, mas, dan gurami dari kolam. “Kalau mau makan ikan tinggal beli di pasar,” katanya.

Koleksi Aneka binatang eksotik

Selain ikan, mantan ketua Bappeda Kabupaten Dompu pada 1994 itu juga menyukai burung. Di rumah dinasnya di Mataram beragam jenis burung hias seperti beo, merpati, kakatua, dan macaw dipelihara. Semua ditaruh di kandang berukuran 3 m x 10 m tepat di samping kolam ikan. “Kalau pagi, setelah memberi pakan ikan langsung ke kandang burung,” ujar Bonyo.
Di kandang burung itu ia kerap bertutur sapa dengan klangenan. Perasaan bahagia membuncah burung-burung itu mau mendekat dan mengambil pakan di tangannya. “Saya bisa sejam lebih dalam kandang. Di sana segala kepenatan bisa hilang,” katanya tersenyum.
Puas bermain dengan burung, suami Marwati Adam dan Siti Kohinur Rayes itu beranjak ke depan rumah. Di sana berdiri kandang berukuran 10 m x 15 m berisi 12 rusa timor. “Rusa ini hampir punah. Makanya saya berinisiatif menangkarkan,” katanya. Cervus timoriensis asli Sumbawa itu dipelihara dengan telaten. Setiap hari mereka diberi pakan campuran rumput gajah dan ampas tahu.

Gemar beternak

hobi Ketika Wagub Tau Samawa Cinta Ikan
Rusa timor, salah satu satwa koleksinya

Walaupun gelar bangsawan melekat pada dirinya, Bonyo rela bergelimang lumpur dan tanah. Beternak sapi, bebek, mentok, dan kambing dilakoninya saat berada di kebun di Desa Marente, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Dengan pakaian santai ia menjadi peternak. Sebanyak 70 bebek, 14 mentok, 12 sapi bali, 2 kerbau, dan 3 kuda diberi pakan sendiri. Semua ternak itu selalu diperiksa kesehatannya. Bila sakit, Bonyo langsung mengobatinya atau memanggil mantri kesehatan. Usai mengurus ikan dan ternak, putra Sumbawa kelahiran 28 Juli 1945 itu berkebun buah-buahan.
Tak ada kesan lelah dan capai walau harus mengurusi puluhan pohon di lahan seluas 8 ha itu. “Saya senang berkebun. Jalan-jalan di antara pohon bisa menghilangkan beban pikiran,” kata Bonyo yang tak sungkan menyemprot pestisida bila tanamannya terserang penyakit.
Semua aktivitas bersama ikan, ternak, dan pohon buah-buahan memberi kebahagian tersendiri bagi Bonyo. Tak heran bila raut wajahnya selalu berhias senyum dan tawa. Setiap pikirannya kalut, ikan, burung, dan kebun menjadi pelipur lara. .“Kalau tidak ada di kamar, saya pasti ada di kolam,” katanya sambil melempar pakan di tepi kolam koi.

Sunandar Agus

Most popular

Most discussed