Khasiat Akar Daruju Redakan Hepatitis B

Dua minggu usai menunaikan ibadah haji Maret lalu, tubuh Supatmadja mendadak lunglai. Perut terasa kembung dan panas. Wajah memucat. Tak hanya mata, seluruh permukaan tubuh tampak menguning. Hanya 2 minggu mengkonsumsi rebusan akar daruju dipadu …

Dua minggu usai menunaikan ibadah haji Maret lalu, tubuh Supatmadja mendadak lunglai. Perut terasa kembung dan panas.

Wajah memucat. Tak hanya mata, seluruh permukaan tubuh tampak menguning. Hanya 2 minggu mengkonsumsi rebusan akar daruju dipadu mimba, mahkota dewa, sambiloto, temulawak, kunyit, pegagan, meniran, ciplukan, dan daun sukun, gejala liver mereda.

Hepatitis B bukan barang baru bagi Supatmadja. Sepuluh tahun silam, ia pernah menerima vonis serupa usai menjalankan pemeriksaan kesehatan. Saat itu, pria 47 tahun itu masih berstatus pegawai Wisma Pertamina. Pemeriksaan kesehatan memang rutin dilakukan setiap tahun.

Vonis hepatitis B kronis yang diterima kontan membuat Supatmadja kebingungan. Pasalnya, selama ini ia tak merasa mengalami gangguan kesehatan berarti. Memang, pekerjaan menuntut stamina prima. Ia harus siap bekerja kapan saja dibutuhkan, tak terkecuali hari raya.

Ayah 2 anak itu segera berkonsultasi ke Rumah Sakit Pertamina Pusat, Jakarta Selatan. Ia menjalani pemeriksaan lengkap berikut USG. Namun, hasil pemeriksaan menyatakan ia menderita gastralgia  gangguan perut. Sementara hepatitis yang dideritanya tak parah. Walhasil, ia hanya diberi vitamin.

Supatmadja pun melanjutkan aktivitas sehari-hari. Namun, beberapa waktu berselang muncul lagi rasa tak enak dan panas pada perut. Tubuh mudah lelah. “Kena flu saja seperti kena penyakit berat,” kelahiran 2 Maret 1956 itu menuturkan.

Cuka apel

Mula-mula ia mengabaikannya, tapi lantaran gejala itu kerap muncul, akhirnya Supatmadja mencoba mencari alternatif pengobatan. Atas saran seorang teman, rebusan irisan temulawak segar dicoba selama 3 bulan. Tak membuahkan hasil, laki-laki berperawakan besar itu beralih mengkonsumsi cuka apel.

Telur ayam kampung dimasukkan ke dalam cuka apel dan dibiarkan selama 36 jam hingga cangkang larut. Setelah kulit ari dibuang, telur dan cuka apel dikocok lalu diminum. Ramuan itu rutin diminum selama 3 bulan. Bahkan, saat menghadiri wisuda anak bungsu di Bandung, ramuan tak lupa dibawa serta.

Namun, pengobatan itu tak menunjukkan perubahan berarti. Selanjutnya susu kuda liar dicoba. Pengobat tradisional di Cimahi, Bandung, pun disambangi. Kesembuhan yang diharapkan tak kunjung diperoleh. Akhirnya, suami Asnariyah itu pun pasrah.

Puncaknya usai menjalankan ibadah haji Maret lalu. Selama di tanah suci ia tak merasakan gejala apa pun. Namun, 2 minggu setelah kembali ke tanah air, tubuhnya lunglai. Perut kembali terasa panas dan kembung. Wajah memucat. Mata, muka, dan kulit menguning. Urine pun pekat seperti air teh.

Tertarik pada acara pengobatan alternatif sebuah stasiun televisi swasta, pertengahan April alumnus SMA Negeri 1 Balaraja itu mendatangi Yellia Mangan, pengobat tradisional di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. “Bapak kena liver ya,” ujar Yellia begitu melihat Supatmadja memasuki ruang praktek.

Akar daruju

Usai pemeriksaan, Supatmadja dibekali berbagai ramuan tradisional untuk konsumsi selama 2 minggu. Ramuan itu: simplisia akar daruju Acanthus ilicifolius, kapsul mimba Azadirachta indica, kapsul sambiloto Andrographis paniculata, teh celup mahkota dewa
Phaleria macrocarpa, campuran temulawak Curcuma xanthorrhiza dan kunyit Curcuma domestica dalam bentuk bubuk, simplisia daun sukun Artocarpus comunisi, serta ramuan campuran herbal seperti pegagan Centella asiatica, meniran Phyllanthus urinaria, dan ciplukan Physalis angulata.

Akar daruju (Acanthus ilicifolium) dalam kemasan plastik direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas. Air rebusan diminum 2 kali sehari pagi dan sore. Kapsul diminum 3 kali sehari masing-masing 2 kapsul. Teh celup mahkota dewa diseduh dengan segelas air mendidih, diminum 3 kali sehari.

Bubuk temulawak dan kunyit sebanyak 1 sendok makan diseduh dengan air panas serta dicampur I sendok makan madu khusus. Tak lupa, simplisia daun sukun direbus dan dikonsumsi seperti laiknya teh setiap pagi dan sore. Supatmadja pun diharuskan beristirahat total.

Dua minggu berselang, kondisi membaik. Tubuh terasa segar. “Warna kuning pada mata dan kulit tubuh menghilang,” papar Supatmadja yang terlihat fit ketika ditemui kami di rumahnya di Balaraja, Tangerang, Banten. Ia pun semakin bersemangat melanjutkan pengobatan.

Pengobatan selanjutnya, ramuan sama seperti sebelumnya. Hanya saja, mahkota dewa yang diberikan kali ini berupa irisan kering yang telah dikemas dalam kantung plastik. Sebanyak 5 sampai 6 iris buah simalakama itu diseduh air mendidih dan diminum 3 kali sehari masing-masing 1 gelas.

Selama pengobatan pria berkulit gelap itu mesti berpantang. Ia tak diperbolehkan mengkonsumsi minuman bersoda, beralkohol, daging berlemak, makanan pedas, dan santan.

Simplisia akar daruju, manjur untuk hepatitis
Simplisia akar daruju

Ayam harus tanpa kulit. Konsumsi gorengan harus menggunakan minyak wijen. Penyedap rasa wajib dihindari. Tapai ketan, nangka, durian, sawi putih, jengkol, petai, dan nangka juga dipantang. Yellia menyarankan memperbanyak konsumsi jamur kancing dan bit.

HBsAg (hepatitis B surface antigen) positif

Sayang, beberapa hal membuat Supatmadja urung kembali mendatangi Yellia. Seorang kerabat mengalami musibah yang membutuhkan uluran tangan. Sang anak membutuhkan biaya kuliah. Akhirnya, rencana berobat terpaksa ditunda. Meski Yellia menyarankan untuk melanjutkan pengobatan dan memotong biaya, ia tetap enggan.

Penasaran dengan kondisinya, pertengahan Mei 2003 Supatmadja memeriksakan diri ke dokter dan menjalani tes darah di laboratorium Biomed, Balaraja. Ternyata, hepatitisnya kini tak begitu mengkhawatirkan. Nilai SGOT dan SGPT berturut-turut 15 U/l dan 18 U/l, tergolong normal dengan kisaran 5 sampai 35 U/l. Hanya saja, virus hepatitis B masih ada lantaran nilai HBsAg positif.

Menurut dokter, hepatitis B akibat virus memang sulit disembuhkan. Yang penting mencegah agar virus tak menyebar. Jika dibiarkan berbahaya karena bisa menyebabkan infeksi berkepanjangan dan berkembang menjadi sirosis, bahkan kanker hati. Terutama pengidap HBsAg yang berlanjut menjadi hepatitis kronis aktif.

Tanaman Herbal Penggempur Hepatitis

Daruju Acanthus ilicifolius merupakan tanaman tahunan bersosok mirip perdu. Tinggi bervariasi antara 0,75 sampai 1,5 m. Daun tebal, kaku, dan berduri pada tepinya. Daun, akar, dan biji anggota famili Acanthaceae itu mengandung saponin, flavonoid, dan polifenol. Dalam biji juga terkandung alkaloid, asam fenolat, asam p-kumarat, dan asam p-hidroksi benzoat. Tumbuhan itu bersifat dingin, pahit, dan berkhasiat antiradang.

Menurut Heyne dalam buku Tumbuhan Berguna Indonesia, orang Bali memanfaatkan kunyahan akar sebagai obat luar untuk racun panah. Akarnya digiling dipadu jahe bisa menyembuhkan sakit perut dan perih lambung. Beberapa kasus menunjukkan, akar tanaman berduri itu juga berkhasiat mengobati asma, hepatitis, pembesaran hati diepatosplenomegalg. dan limpa dimphadenopathp}. Daun muda yang dikunyah meredakan sakit perut.

Daruju, bersilat dingin
Tanaman Daruju

Yellia Mangan menggunakan akar daruju untuk hepatitis stadium lanjut, termasuk yang disebabkan virus. “Jika . dibiarkan berbahaya karena bisa berkembang menjadi sirosis, bahkan kanker,” tutur penggemar tanaman hias itu. Sementara untuk tahap dini ia biasa menggunakan kunyit dan temulawak.

Ramuan pendukung

Selain akar daruju, Yellia juga menggunakan mimba Azadirachta indica dalam bentuk kapsul. Tanaman itu mengatasi gangguan pencernaan akibat gangguan liver. Biasanya karena empedu kurang memproduksi cairan yang membantu pencernaan sehingga tidak sempurna menghasilkan energi.

Ramuan lainnya terdiri dari sambiloto, temulawak, dan kunyit. Sambiloto mengandung andrografolid yang berkhasiat hepatoprotektor. Temulawak membantu melancarkan peredaran darah dan meningkatkan stamina, sedangkan kunyit berkhasiat antibiotik.

Mahkota dewa bersifat antivirus dan mampu mencegah kanker. Pegagan juga berkhasiat antivirus. Ciplukan menurunkan SGOT dan SGPT, sementara meniran mengandung zat aktif filantin dan hipofilantin yang berfungsi hepatoprotektor. Rebusan daun sukun tak lupa ditambahkan lantaran baik bagi kesehatan jantung, ginjal, dan liver.

Namun, bahan utama tetap akar daruju. Bahkan, menurut ibu 4 anak itu, akar daruju berkhasiat antibiotik, antikanker, dan antineoplastik. Artinya, ia juga bisa mencegah kanker hati. (Triana)

Tinggalkan komentar