Ketimbang melampiaskan hobi berenang, pada Agustus November, Ir Insyaf Malik lebih senang ke Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Mantan direktur PTPN VIII itu bukan sekadar berlibur. Insyaf selalu ketagihan memetik dan menikmati Macadamia dari lahan sendiri seluas 2 hektar. Setelah mengupas, ia memukulkan martil untuk memecah tempurung yang keras. Tanpa pengolahan, daging buah yang mirip kemiri itulah yang disantap.

“Rasanya lebih gurih daripada I kacang mete,” ujar Insyaf Malik Kenikmatan itu yang mendorongnya mengunjungi kebun di ketinggian 1.300 m dpl. Di sana, selain teh dan berbagai sayuran, Insyaf yang tinggal di Slipi, Jakarta Barat, juga menanam 40 pohon Macadamia. Sekarang umurnya 5 tahun setinggi 2 meter. Sebuah pohon rata-rata menghasilkan 1 sampai 2 kg buah. Selama ini, wakil ketua Komisi Tetap Pengembangan Produk Bioteknologi di KADIN itu hanya menikmati buah segar.

Buah Macadamia yang dipetik masih berkelembapan 10 sampai 15%. Karena itu menikmatinya harus dikeringkan terlebih dahulu selama 2 sampai 3 minggu. Namun, buah yang matang di pohon dan jatuh, siap konsumsi tanpa proses pengeringan. Buah kering jika kulit terbuka dan terlihat tempurung.

Tempurung dikupas dengan alat pengupas kacang mete atau kemiri. Daging buah pun langsung dinikmati. Namun, akan lebih lezat bila dikeringkan kembali pada suhu 38°C pada hari pertama dan kedua, selanjutnya dengan suhu 70°C hingga kelembapannya 3%. Saat itulah gurih kacang Macadamia lebih terasa.

Sejatinya Macadamia integrifolia dapat diolah menjadi beragam penganan. Contoh, sangrai asin. Daging buah kering dioven pada suhu 120°C selama 20 sampai 30 menit. Pindahkan ke nampan dan diberi minyak salad serta garam agar lebih nikmat. Dalam dunia industri, kacang mirip buah kemiri itu digunakan sebagai pengganti kacang-kacangan seperti mete, hazelnut, dan pistasio. Ia diolah dalam cokelat batangan, es krim, biskuit, dan permen.

Kaya Kandungan gizi


Anggota famili Proteaceae itu tak hanya lezat, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan. Itu dibuktikan oleh Catherine G Calvaletto. Periset dari University of Hawaii, Amerika Serikat itu mengungkapkan Macadamia mengandung kalori, protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Itu belum termasuk antioksidan, polifenol, asam amino, dan flavonoid, serta sterol tumbuhan.

Seperti dilansir Journal of Food Sciences and Nutrition, Macadamia mengandung 12,2% alfa tokoferol. Itu berarti Macadamia mampu melancarkan penyumbatan pembuluh darah bagi pengidap kolesterol tinggi. Caranya dengan menghambat oksidasi low density lipoprotein (LDL) yang dikenal sebagai kolesterol jahat. Itulah yang dibuktikan oleh Prof Manohar Garg dari Faculty of Health, University of Newcastle,Australia. Ia meneliti 17 pria berkolesterol tinggi berusia 54 tahun. Selama 30 hari, pasien mengkonsumsi 40 sampai 90 gram Macadamia setara 15% kebutuhan energi harian.

Setelah dihitung, kolesterol plasma total dan LDL menurun 3,0% dan 5,3%. Sedangkan angka high density lipoprotein (HDL) meningkat 7,9%. Apa rahasianya? Ternyata Macadamia memiliki jumlah “minyak baik” amat tinggi, 80,5%. Fakta itu menempatkan Macadamia sebagai sumber lemak terbaik. Bandingkan dengan minyak zaitun yang mengandung hanya 74% lemak tak jenuh tunggal, 58% kanola, kacang tanah 46%, wijen 40%, dan minyak bunga matahari 20%.

Kandungan gizi makadamia
Kalori727 kal
Protein9,2%
Serat6,4%
Lemak79%
Karbohidrat79%
Mineral1,3%
Potassium4,1%
Fosfor2%
Magnesium:1,2%
Kalsium6,4%
Vitamin E1,5%
Vitamin B10,7%
Vitamin B51%
Vitamin B60,4%
Vitamin B20,1%
Folat0,1%
Niacin2%

Kolesterol Jahat Dan Senyawa Antikanker


Menurut Garg, selain karena tokoferol, penurunan kolesterol jahat itu lantaran selenium, zat pembentuk enzim antioksidan. Selenium berfungsi sebagai antikanker dan antipembengkakan. Sedangkan bagi orang muda, pencegahan penumpukan kolesterol dilakukan oleh serat. Jumlahnya dalam Macadamia 7%.

Kelompok karbohidrat berupa hemiselulosa, lignan, selulosa, dan gum menghambat keasaman dan membentuk enzim pencernaan lebih sempurna. Makanan dicerna secara lambat agar seluruh komponen gizi terdegradasi dengan baik tanpa penumpukan.

Makanya konsumsi kacang yang ditemukan Ferdinand von Mueller itu, menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Pembuktiannya dilakukan The Diamond Head Nutrition Research Study di Kapiolani Community College. Riset melibatkan 30 pria dan wanita berusia 18 sampai 35 tahun. Mereka dibagi 3 kelompok. Masing-masing kelompok mengkonsumsi makanan 37% berlemak, Macadamia, dan makanan berlemak 30% asal buah-buahan contohnya alpukat.

Setelah 3 bulan, kadar lemak dianalisis. Ditemukan, jumlah kolesterol dan gula darah pengkonsumsi Macadamia mirip dengan pengkonsumsi buah-buahan. Yaitu berlemak dan berkadar gula rendah lantaran terjadi penurunan.

Kaya minyak

Selain kaya gizi dan antioksidan, Macadamia juga kaya minyak. Jumlahnya 30% dari pada bobot buah total. Walau tinggi lemak, bukan berarti konsumsi Macadamia menyebabkan bobot tubuh meningkat. Sebaliknya, konsumsi Macadamia menurunkan bobot tubuh. Prof Katsumi Ikeda dan Professor Yukio di Mukogawa Women’s Univerisity, Hyogo, Jepang menelitinya pada tiga kelompok beranggotakan masing-masing 20 orang berusia 18 sampai 23 tahun.

Para “kelinci percobaan” itu diberi penganan tambahan Macadamia, kelapa atau mentega selama 3 minggu. Setelah pengujian berakhir, bobot tubuh dihitung. Ternyata konsumen Macadamia mengalami penurunan bobot tubuh dan indeks massa tubuh sebesar 0,4 kg dan 0,2 kg/m2.

Kelompok lain tidak ada penurunan. Penelitian itu membuktikan, konsumsi Macadamia yang diolah sebagai penganan dan dimakan secara rutin mampu menurunkan bobot tubuh maupun indeks masa tubuh secara bertahap.

Macadamia tak hanya sebagai bahan makanan. Kulit Macadamia terbukti mengandung protein, seperti ditunjukkan hasil riset Ailsa M. McManus dari Centrefor Drug Designand Development, The University of Queensland, Brisbane, Australia [1]. Ia menemukan 76 asam amino dalam kulit Macadamia. Faedah asam-asam amino itu menghambat pertumbuhan mikroba pada tanaman tanpa efek samping terhadap tanaman dan manusia. Oleh karena itu kulit Macadamia diracik menjadi fungisida.

“Pemupukan menggunakan limbah Macadamia juga lebih baik,” kata Dr Maharani Hasanah, peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik, Bogor. Limbah seperti kulit buah dan batok sebagai pupuk memasok 100% kebutuhan hara nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Tempurung Macadamia juga berguna sebagai karbon aktif. Ahmadpour dari Department of 71 I A Chemical Engineering, University of Queensland, Australia, memanfaatkan tempurung Macadamia sebagai serbuk halus berfungsi sebagai pengekstrak besi, penjernih air, udara dan gas, bahkan obat [2].

Bernilai Ekonomis Tinggi


Tanaman serbaguna itu menjadi andalan Hawaii meraup devisa. Negara bagian Amerika Serikat itu produsen utama Macadamia. Setidaknya 73% pangsa pasar dunia dipasok Hawaii. Selebihnya diperebutkan oleh Australia, Kenya, Kosta Rica, Malawi, Brazil, Meksiko, Selandia Baru, dan Cina.

Kacang asli Australia itu ketika diintroduksi di Hawaii hanya 384 hektar; produksi 630 ton pada 1947. Kini, pada 2005, luasnya menjadi 7.500 hektar dengan produksi 67.000 ton. Harga kian meningkat, dari US$73/ton pada 2004 menjadi US$74 per ton pada 2005 setara Rp 740.000.

Di Indonesia? Meski diperkenalkan sejak 36 tahun lampau, Macadamia belum begitu berkembang. Selain Perkebunan Gedeh, Cianjur, Jawa Barat yang membudidayakan 300 pohon, penanaman Macadamia sporadis dengan populasi maksimal 40 pohon. Persis seperti yang kini tumbuh di kebun milik Insyaf Malik di Ciwidey.

Referensi

[1] “MiAMP1, a Novel Protein from Macadamia Integrifolia Adopts a Greek Key β-Barrel Fold Unique amongst Plant Antimicrobial Proteins.” Journal of Molecular Biology, vol. 293, no. 3, Oct. 1999, pp. 629–38. www.sciencedirect.com, doi:10.1006/jmbi.1999.3163.

[2] “The Preparation of Activated Carbon from Macadamia Nutshell by Chemical Activation.” Carbon, vol. 35, no. 12, Jan. 1997, pp. 1723–32. www.sciencedirect.com, doi:10.1016/S0008-6223(97)00127-9.