La Tomatina: Perang “Berdarah” di Selatan Spanyol

Tepat pukul 11.00 suara dentuman membahana di langit Bunol. Barisan truk bermuatan “amunisi” yang menyeruak masuk disambut meriah. Begitu “amunisi” dilempar keluar truk, puluhan tangan langsung menyambutnya. Tak sampai sedetik kemudian ribuan “amunisi” berdesingan di …

Tepat pukul 11.00 suara dentuman membahana di langit Bunol. Barisan truk bermuatan “amunisi” yang menyeruak masuk disambut meriah. Begitu “amunisi” dilempar keluar truk, puluhan tangan langsung menyambutnya. Tak sampai sedetik kemudian ribuan “amunisi” berdesingan di udara.

Wajah, rambut, dan baju “para prajurit” tiba-tiba menjadi merah. Namun, tak ada jeritan terluka keluar dari mulut mereka. Yang ada justru teriakan suka ria. Peristiwa itu hanya terjadi pada La Tomatina Festival, perang tomat ala masyarakat Bunol.

Ribuan calon “prajurit” sudah berkumpul di Bunol, kota kecil 30 km sebelah barat Valencia, Spanyol beberapa saat sebelum festival dimulai.

Setengahnya penduduk lokal, sisanya para turis dari Rusia, Amerika, Inggris, dan negara lain. Mereka datang berseragam celana pendek dan kaus.

Untuk melindungi wajah beberapa mengenakan kacamata bahkan helm pemadam kebakaran. Begitu festival resmi dibuka, semua orang mulai saling lempar.

Beberapa orang melempar balik tomat ke arah truk. Bunyi tomat mengenai sasaran terdengar di mana-mana sambil memuncratkan daging buah berwarna merah. Truk-truk terus berdatangan selama sekitar 1 jam.

Dua jam berlalu, terdengarlah dentuman lain. Itu merupakan tanda berakhirnya perang tomat itu. Begitu perang berhenti, peserta tidak diperkenankan lagi saling melempar. Perang yang melibatkan 35.000-an orang itu menghabiskan 100 sampai 125 ton tomat yang berubah menjadi bubur setinggi mata kaki.

Karena suara sumbang

La Tomatina Festival hanya salah satu rangkaian festival musik, makanan, dan lain-lain yang berlangsung selama seminggu. “Perang” yang diadakan setiap Rabu terakhir di bulan Agustus itu dimulai sekitar 50 tahun lalu. Banyak versi mengenai awal mula festival populer itu.

Ada yang mengatakan perang tomat berawal dari ketidaksenangan beberapa anak muda pada seorang laki-laki. Ia kerap menyanyi dan memainkan alat musik di alun-alun kota.

Sayangnya permainan laki-laki itu buruk. Karena kesal beberapa orang kemudian melemparinya dengan tomat dan sayuran lain.

Versi lain menuturkan festival itu merupakan perayaan karena hasil panen melimpah. Ada pula yang menyebutkan awal mula perang tomat adalah peristiwa makan malam yang berbuntut saling melempar tomat di antara 2 keluarga. Sementara salah seorang warga mengatakan perang tomat diadakan untuk menggantikan festival balon yang membosankan.

Namun, versi yang paling bisa dipercaya menyebutkan semua itu dimulai pada 1945. Alun-alun kota tempat festival itu sekarang diadakan dipenuhi kaum muda yang berkumpul menyaksikan Gigantes y Cabezudos sebuah festival akbar yang dicirikan dengan topeng serba aneh. Beberapa pemuda memutuskan untuk bergabung. Tanpa sengaja mereka mendorong salah seorang peserta festival hingga jatuh.

Sempat dilarang Pemerintah

Orang itu rupanya tidak menerima perlakuan tersebut. Begitu bangun ia mulai memukuli orang-orang di sekelilingnya. Akhirnya semua orang terlibat dalam perkelahian.

Kebetulan di dekat situ ada kios sayuran. Orang-orang muda yang terlibat dalam perkelahian mengambil tomat dari kios itu dan mulai saling melempar. Pertempuran itu baru berhenti setelah polisi datang.

Kehebohan itu rupanya tidak dilupakan. Pada tahun berikutnya di hari Rabu yang sama di bulan Agustus para kaum muda kembali bertemu di alun-alun kota.

Persiapan kali itu lebih matang, mereka membawa sendiri tomat untuk saling melempar. Lagi-lagi perang baru berhenti setelah polisi turut campur. Kericuhan itu berbuntut pada pelarangan perayaan itu oleh penguasa kota.

Baru pada 1950 perayaan yang telanjur dikenal sebagai the day of tomatina mendapat restu dari penguasa Bunol. Sayangnya pada tahun berikutnya perayaan kembali dilarang. Beberapa peserta ditangkap dan dimasukkan ke penjara.

Demi memenuhi keinginan masyarakat sekali lagi penguasa kota mengijinkan perayaan “tomatina” pada 1957. Namun kini ada peraturan yang ketat. Untuk mengawali dan mengakhiri festival harus ditandai dengan bunyi letusan. Peraturan itu juga melarang saling melempar sebelum dan sesudah waktu yang ditentukan.

Mulai 1975 festival diorganisasikan oleh Los Clavarios de San Luis Bertran San Luis Bertran adalah pemuka kota Bunol. Panitia inilah yang menyediakan tomat untuk perang, sebelumnya masing-masing peserta membawanya sendiri. Setelah 1980 pihak balaikotalah yang bertanggung jawab mengorganisasi dan mempromosikan festival itu. Mulai saat itu festival tomat menjadi adat masyarakat Bunol.

Tinggalkan komentar