Legenda, Kutukan Dan Latar Belakang Dibalik Tomino’s Poem

kutukan tomino's poem

Kutukan tomino’s poem memanifestasikan dirinya dalam berbagai bentuk dan cara. Seorang gadis muda akan meninggal setelah membaca puisi itu keras-keras untuk pertama kalinya.

Menurut mitos dan legenda yang ada, Tomino, diperkirakan sebagai anak laki-laki tetapi kejelasan tentang gendernya tidak diketahui secara pasti, tinggal di Jepang. Orang tua Tomino tidak senang dengan isi puisi yang ditulis oleh Tomino. Hal ini dikarenakan karena budaya jepang yang sangat kaku dan formal, tetapi puisi itu juga mengandung beberapa fakta mengerikan.

Orang tua Tomino akhirnya menghukumnya dengan mengurungnya di ruangan bawah tanah. Namun tak hanya mengurung, Orang tua Tomino pun tidak memberikan makanan dan minuman untuknya. Hingga pada akhirnya Tomino Meninggal terserang penyakit Bronkitis, Tomino terserang Bronkitis akibat buruknya keadaan ruangan bawah tempatnya terkurung.

Kemarahan, kebencian dan amarah Tomino tergambar dengan jelas di momen-momen terburuk puisi tersebut. Puisi Ini akan menimbulkan kutukan jika Anda membacanya dengan keras.

Tomino sebenarnya tidak gila, Namun ia menulis puisi tersebut didasari rasa frustrasi yang tak berkesudahan akan keterbatasan fisiknya. Tomino terlahir dengan cacat kaki yang parah dan tidak mampu bergerak tanpa bantuan kursi roda.

Puisi tersebut menangkap kemurungan dan rasa tidak berdaya yang mungkin menyertai para penyandang disabilitas, terutama pada anak-anak.

Tominos poem1

Table of Contents

Apa itu Legenda Tomino’s poem?

El poema de tomino Atau Tomino’s poem adalah sebuah puisi kutukan yang cukup terkenal dalam kebudayaan masyarakat jepang. Dikatakan puisi ini akan mengutuk atau bahkan membunuh mereka yang membacanya dengan keras.

Puisi tersebut ditulis oleh Saijo Yaso, seorang penyair terkenal Jepang, setelah Perang Dunia I berakhir. Banyak orang yang percaya dia menggunakan puisi itu sebagai sarana untuk mengungkapkan kesedihannya ketika ayahnya tewas dalam kancah Perang Dunia I.

Namun ada pula sebagian masyarakat jepang yangmenafsirkan puisi itu secara berbeda, Mereka menafsirkannya sebagai gambaran perjalanan Tomino ke neraka sebagai penderitaan seorang prajurit selama pertempuran.

Seorang gadis muda juga dilaporkan telah meninggal tak lama setelah membaca puisi itu. Setelah membaca puisi itu, orang-orang mengeluh sakit kepala akut, kejang otot, dan lesu, sehingga puisi itu diberi label Puisi terkutuk.

Tominos poem2

Karya Sasta Penyair Terkemuka Saijo Yaso

Tomino’s poem ditulis oleh Saijo Yaso, seorang penyair terkemuka yang berasal dari jepang. Tidak banyak informasi tentang hidupnya. Saijo, di sisi lain, lulus dari Universitas Sorbonne dan bekerja sebagai profesor universitas di Prancis secara paruh waktu.

Karya sastra Saijo Yaso penuh dengan simbolisme aneh dan permainan kata yang menakutkan. dan Karya Saijo Yaso sangat dipengaruhi oleh seni dan sejarah Prancis. Target audiens utama dari karya sastra Saijo Yaso adalah kalangan anak-anak muda.

Sakin, kumpulan puisi ke-27 yang ditulis oleh Saijo Yaso , Sakin diterbitkan pada tahun 1919. (Terjemahan Bahasa Inggris: Debu emas). Salah satu puisi Sakin yang paling menonjol adalah tomino’s poem, atau Tomino no Jigoku.

Selama Perang Dunia I, Saijo kehilangan saudara perempuan atau ayahnya, dan puisi tomino’s poem ditulis setelah perang. Pada awalnya, secara luas diasumsikan bahwa tomino’s poem adalah representasi metaforis dari kesedihan Saijo.

Saijo mungkin dalam keadaan sedih terus-menerus setelah kehilangan orang-orang terdekat, seperti yang terlihat dari bagian terparah pada puisi itu.

Tomino’s poem

Ane wa chi wo haku, imoto wa hibaku,
Kawaii Tomino wa tama wo haku.
Hitori jigoku ni ochiyuku Tomino,
Jigoku kurayami hana mo naki.
Muchi de tataku wa tomino no ane ka,
Muchi no shubusa ga ki ni kakaru.
Tatakeya tatakiyare tatakazu totemo,
Mugen jigoku wa hitotsu michi.
Kurai jigoku e anai wo tanomu,
Kane no hitsuji ni, uguisu ni.
Kawa no fukuro niya ikura hodo ireyo,
Mugen jigoku no tabijitaku.
Haru ga kite soro hayashi ni tani ni,
Kurai jigoku tani nana magari.
Kago niya uguisu, kuruma niya hitsuji,
Kawaii tomino no me niya namida.
Nakeyo, uguisu, hayashi no ame ni
Imouto koishi to koe kagiri.
Nakeba kodama ga jigoku ni hibiki,
Kitsune botan no hana ga saku.
Jigoku nanayama nanatani meguru,
Kawaii tomino no hitoritabi.
Jigoku gozaraba mote kite tamore,
Hari no oyama no tomebari wo.
Akai tomebari date ni wa sasanu,
Kawaii tomino no mejirushini.