Makuto Dewo Bebaskan Spasmofilia

Sudah 5 jam Lina terbaring tak sadarkan diri di rumahnya. Tetangga yang perawat medis pun tak mampu berbuat banyak. Sang ibu yang menjaga mulai panik. Betapa tidak, gadis cantik itu sebentar sadar sebentar pingsan lagi. …

Sudah 5 jam Lina terbaring tak sadarkan diri di rumahnya. Tetangga yang perawat medis pun tak mampu berbuat banyak. Sang ibu yang menjaga mulai panik. Betapa tidak, gadis cantik itu sebentar sadar sebentar pingsan lagi. Beruntung di saat kritis

Tista Hukama, sang ayah menyuruh mengunyah daging makuto dewo dan menelan sarinya. Akhirnya buah simalakama itu membebaskan Lina dari spasmofilia yang menyiksa.

Peristiwa pada 1999 itu bukan yang pertama. Sejak 1995, saat masih duduk di bangku kelas III SMU Lina sudah sering mengalaminya. “Kena panas sebentar saja mata sudah berkunang-kunang dan akhirnya pingsan.” Pemeriksaan medis di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta menyebutkan ia menderita spasmofilia, suatu gangguan kepekaan saraf motorik terhadap rangsangan mekanik dan listrik.

Spasmofilia membuatnya tak berdaya. Selain merasakan gangguan emosional, ia pun didera nyeri kepala sangat hebat. “Membaca pelajaran sebentar saja membuat kepalanya sakit,” jelas Tista.

Bahkan menyentuh seujung rambut pun merupakan siksaan. Akibatnya, ia tak pernah lagi tidur beralaskan bantal. Meski begitu, rambut panjang bak mayang terurai yang dibanggakan tetap saja rontok hingga makin lama makin menipis.

Tak hanya itu. Bila sakit menyerang, karyawan salah satu restoran di Jakarta ini bahkan sampai tak mampu melihat apa-apa.

Ini lantaran gangguan pusat syaraf yang mempengaruhi syaraf penglihatan. Puncaknya, Lina tak mampu lagi mengingat pelajaran sekolah walau hanya sesaat.

Menurut dokter yang memeriksa, spasmofilia disebabkan kerusakan saraf pusat. y Benturan kepala akibat kecelakaan lalulintas yang dialami ketika berusia 8 bulan mungkin salah satu penyebab.

“Perlu penanganan serius untuk menyembuhkannya,” kata dokter seperti ditirukan Tista. Itupun tak akan memberikan penyembuhan total, melainkan hanya untuk mengurangi gejala sakit.

Pengobatan Alternatif

Sebagai karyawan kecil di perusahaan swasta, Tista tak sanggup menerima saran dokter. “Bukan saya tak sayang anak, tapi saya tak mampu menanggung biaya pengobatan.” Pil penguat saraf saja harus ditebus Rp80.000/butir, padahal harus dikonsumsi jangka panjang.

Keluhan disampaikan kepada sanak keluarga dan kerabat. Ia disarankan mencoba pengobatan alternatif yang lebih murah Saran itu ditanggapi serius. Satu per satu pengobat tradisional disambangi, tapi belum ada yang bisa memberikan solusi.

Setelah bertahun-tahun mencari, seorang pengobat tradisional menyarankan ramuan benalu kelor, benalu alpukat, benalu teh, dan daun mindi. Karena ingin putri tercinta terselamatkan, perburuan tanaman dimaksud pun dilakukan.

Meski mencari tanpa kenal lelah, toh tak semua tanaman bisa ditemukan. “Benalu teh memang banyak dijual di daerah Puncak, namun yang namanya benalu kelor tak bisa saya temukan.” Begitu pula daun mindi, ia tak tahu di mana bisa didapat. Padahal sudah dicari ke mana-mana.

Namun karena tak tega melihat kondisi sang anak, karyawan Pondok Ikan Patin di bilangan Buncit ini tetap mencarinya. Termasuk saat Lina pingsan di hari Jumat, awal 1999. Di sela-sela usaha pencariannya, sebagai seorang muslim taat ia tak melewatkan ibadah sholat Jumat di perjalanan.

Selesai menjalankan sholat Jumat itulah Ustadz Waryo menghampiri. Tista menyampaikan keluhan kepada sang ustadz. Mendengar penuturan itu, ustadz Waryo menyarankan mencoba makuto dewo yang kebetulan sedang berbuah di halaman rumah sang ustadz. Tujuh butir buah pun dibawa pulang.

Sesuai petunjuk ustadz, daging buah dimakan mentah oleh sang anak yang baru saja siuman. Karena ingin sembuh daging buah yang, berserat, agak keras, dan gatal di bibir itu dikunyah dan ditelan hingga tuntas. “Beberapa saat setelah makan, saya rasakan reaksi hebat,” papar Lina.

Seluruh tubuh terasa meregang lalu ia tak sadarkan diri. Hal itu menurut sang ustadz memang merupakan efek dari reaksi obat ke pusat syaraf. Penderita akan siuman setelah reaksi selesai. Benar saja, sekitar 1 jam kemudian Lina siuman dan tak pingsan lagi.

Satu buah per hari

Sejak itu 1 buah makuto dewo dimakan setiap hari. Tista pun tak segan-segan meminta pasokan makuto dewo dari Ustadz Waryo begitu stok habis.

Memang sebulan mengkonsumsi Lina masih suka pingsan. Namun, frekuensinya makin berkurang. Kalau biasanya seminggu bisa 2 – 3 kali pingsan, sejak makan buah itu ia kadang tak pingsan lagi dalam 1 sampai 2 minggu. Kalau pun pingsan tak lagi berjam-jam. “Paling-paling 15-20 menit saja,” papar Tista.

Perkembangan lain, selain kondisi emosional berangsur-angsur stabil, sakit kepala jarang dirasakan meski harus berjam-jam membaca. Rambut mulai jarang rontok.

Lina mulai bisa tidur beralaskan bantal tanpa merasakan nyeri hebat di kepala. Karena mengalami perkembangan yang baik ia tetap memakan makuto dewo hingga setahun kemudian.

Sampai sekarang ia masih suka mengkonsumsi makuto dewo meski tidak lagi mengunyah mentah-mentah daging buahnya, melainkan dibuat jus. Caranya, daging diiris tipis, dicampur segelas air, lalu diblender. Jus itulah yang diminum seminggu 2 sampai 3 kali.

Berkat makuto dewo, kini gadis berusia 23 tahun itu bebas beraktivitas. Bahkan aktif sebagai karyawan di salah satu restoran ikan patin di Jakarta. Apalagi pemeriksaan terakhir beberapa bulan lalu di RS Fatmawati menyimpulkan fungsi syarafnya tak lagi terganggu.

Penghapus Duka Kiriman Para Dewa

Masih ingat cerita buah simalakama? Konon dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati. Nyatanya, simalakama yang satu ini tak seseram cerita itu. Bahkan, ia terbukti ampuh menyembuhkan spasmofilia, penyakit gangguan fungsi syaraf pusat yang menakutkan.

Makuto dewo (Phaleria macrocarpa atau P. papuana) ditemukan pertama kali di Irian. Di beberapa daerah dikenal sebagai pohon dewa, derajat, simalakama, mahkota ratu, atau trimahkota.

Kaya kandungan kimia

Sejak zaman nenek moyang ia sudah dipakai untuk menyembuhkan lever, kanker, jantung, kencing manis, asam urat, rematik, ginjal, dan tekanan darah tinggi. Sebagai obat luar, buah dan biji makuto dewo berkhasiat mengatasi luka, jerawat, gatal kulit, hingga eksim.

Malahan dalam cerita wayang purwa perdu setinggi 5 meter ini dikeramatkan. Barangsiapa hendak memetik buahnya harus menyembah terlebih dahulu. Prajurit yang akan maju ke medan laga harus makan buah itu supaya sehat, kuat, dan selamat.

Menurut pengobat tradisional, Ning Hermanto, rebusan buah dewa mengurangi sakit rematik dan asam urat bila dikonsumsi setiap hari, la sendiri punya pengalaman pribadi dengan makuto dewo.

Dra. Sri Sugati Samsuhidayat dan DR. Johny Ria Hutapea dari Departemen Kesehatan dalam Inventaris Tanaman Obat mengungkapkan tanaman makuto dewo kaya kandungan kimia. Di antaranya alkaloid, saponin, dan flavonoid.

Hasil penelitian Dr Regina Sumastuti dari Fakultas Kedokteran UGM mengungkapkan, daun dan buah makuto dewo memiliki efek antihistamin.

Namun belum diketahui senyawa yang berperan sebagai penyembuh. Dr Regina sendiri sedang menguji khasiat makuto dewo terhadap rahim dan efek penurun panas pada penderita rematik. Namun hasilnya belum diketahui.

R. Broto Sudibyo, herbalis di Klinik Obat Tradisional RS Bethesda Yogyakarta juga belum banyak mengetahui kandungan kimia makuto dewo. Yang jelas menurutnya, secara empiris tanaman itu banyak dipakai sebagai obat luar untuk mengobati penyakit kulit. Soal khasiat menyembuhkan spasmofilia, Broto mengaku belum pernah mendengarnya.

“Belum banyak yang mengungkap khasiat tanaman ini secara ilmiah,” jelasnya. Karena itu Klinik Obat Tradisional RS Bethesda pun belum menggunakan makuto dewo sebagai salah satu tanaman obat rujukan. Meski begitu Broto menduga kandungan flavonoid-nya yang paling berperan. Sebab ia punya efek antiradang dan antibiotik

Tinggalkan komentar