Mengatasi Yoyo Effect Paska Menjalani Program Diet

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Diet ketat kalau tak sesuai aturan bukannya membuat tubuh langsing, malah membuat tersiksa. Berat badan pun jadi naik-turun bagaikan mainan yoyo. Mungkin perlu dikaji ulang tujuan berdiet dan penyebab kegagalan

Menjalani program diet, ibarat mengikuti lomba maraton. Semua peserta ingin mencapai tujuan, tapi tak sedikit yang meninggalkan gelanggang sebelum mencapai garis finish. Hanya bedanya, dalam berdiet jika tujuan sudah tercapai bukan berarti selesai permasalahan. Sebab, “peserta” diet masih harus berjuang mempertahankan berat badan, walau berat badan yang diidamkan sudah di tangan. Sebaliknya, andaikata ‘kalah’ berat badan naik lagi, bahkan bisa jadi lebih berat dari semula.

Bacaan Lainnya

Tentang Yoyo Effect

Kemudian bertekad diet lagi, berat badan memang turun. Begitu diet dilepas, berat badan melonjak lagi. Turun-naiknya berat badan akibat salah diet inilah yang dalam istilah kedokteran dan gizi dikenal dengan sindrom yoyo/Yoyo effect (weight cycling). Apabila Anda merasa sindrom ini sudah menimpa diri, segeralah cari penyebabnya dan temukan jalan keluarnya.

Bila Sindrom Yoyo Menimpa

Naik-turunnya berat badan, membuat orang jera menjalankan diet. Ini lumrah saja, siapa yang mau menjalankan upaya sia-sia dibumbui rasa menderita lagi. Atau keadaan ini sebaliknya menimbulkan masalah lain. Karena keinginan diet begitu menggebu-gebu, orang tersebut mencoba diet gaya baru yang lebih ketat lagi yang belum tentu baik dan aman. Apalagi mempertanyakan efektivitas dan hasilnya, rasanya tak terpikirkan.

Yang pasti, sindrom yoyo akan menekan metabolisme tubuh. Tubuh menjadi terbiasa dengan pengeluaran energi yang sedikit, hemat energi. Ibarat mobil yang irit bensin. Dengan sendirinya sindrom yoyo mengakibatkan diet tak bisa berjalan efektif.

Van Italie, pakar obesitas, menuturkan bahwa penurunan berat badan selalu akan diikuti dengan penurunan metabolisme tubuh. Pada penurunan berat badan yang drastis, sebagian lemak tubuh dijaringan otot ikut dibakar.

Padahal, jaringan otot inilah yang banyak andilnya menentukan kebutuhan energi tubuh. Otomatis, apabila jaringan otot berkurang, kebutuhan tubuh akan energi pun menurun pula. Hal ini berlaku untuk segala macam diet.

Anehnya lagi, jika berat badan naik setelah diet, yang bertambah banyak bukannya jaringan otot, malah jaringan lemak. Karena, mereka yang tadinya diet ini lepas kendali. Semua pantangan, seperti coklat tarcis, kue-kue yang serba manis, makanan yang gurih, kacang-kacangan, disantap saja untuk memuaskan nafsu yang selama ini dibatasi. Malah mungkin tak bisa di stop, meski bobot tubuh sudah merangkak naik melebihi ukuran semula.

Kelebihan energi yang berlarut-larut ini akan disimpan dalam tubuh berbentuk energi cadangan atau lemak tubuh. Program diet baru yang lebih ketat sekalipun tak akan memecahkan pengaruh sindrom yoyo ini.

Tetapkan Tujuan

Langkah ampuh mengatasi sindrom yoyo, pertama ditetapkan secara jujur, apa sih tujuan sesungguhnya menjalani diet. Karena ikut-ikutan mode atau takut terjangkit penyakit tertentu yang sering menghinggapi orang gemuk, seperti hipertensi, diabetes, jantung koroner.

Bila alasannya karena trend, tubuh langsing sedang diminati, bila dipastikan menjalani program diet dengan setengah hati. Kalaupun berhasil tak bisa bertahan lama. Ada baiknya kita kilas balik, berapa berat badan yang biasa dicapai setelah dewasa, terutama antara umur 20 – 25 tahun. Katakanlah, berat yang paling sering dicapai 55 kg. Lalu melonjak jadi 65 kg. Nah, apabila ingin diet, sebaiknya jangan terlalu berharap atau mimpi mampu menurunkan jadi 53 kg. Sebab, untuk mencapai 55 kg saja tak mudah. Yang penting, dengan berdiet mampu mengerem diri dari kegemukan dan badan terasa enak. Itu saja!

Menurut Van Italie, penurunan bobot yang baik maksimal perminggu sekitar 1,5% dari berat badan. Sehingga, tidak sampai menurunkan metabolisme basal tubuh. Yang hilang lebih banyak lemak, bukan jaringan otot. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, tambahkan dengan olahraga yang teratur sesuai dosis dalam kegiatan sehari-hari.

Olahraga yang tepat akan mampu membakar cadangan energi tubuh yang mayoritas berupa lemak. Selain itu, juga dapat mengencangkan tonus otot, meningkatkan metabolisme tubuh, serta ampuh menurunkan rasa lapar. Olahraga yang sesuai untuk program melangsingkan tubuh yaitu yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, jogging naik sepeda.

Langkah yang perlu dilakukan selanjutnya, budayakan kebiasaan “jalan” dalam kehidupan sehari-hari. Jangan bermalas-malasan. Sindrom yoyo biasanya bisa ditangkal dengan diet justru yang tidak terlalu ketat. Dengan tingkat penurunan berat badan per minggu maksimum 1,5% dari berat badan serta kombinasikan dengan olahraga aerobik yang cocok.

Perlu Upaya Lain

Agar berat badan bertahan, perlu pula dipertimbangkan beberapa hal lain. Misalnya, merubah kebiasaan makan. Kalau tadinya biasa makan serba kilat, cobalah lebih lambat mengunyahnya. Makan tergesa-gesa sering membuat kita lupa. Sebenarnya sudah kenyang, tapi acara makan masih dilanjutkan terus.

Meletakkan sendok garpu saat mengunyah makanan rupanya juga ada kiat tertentu dalam upaya mengurangi porsi makan. Ini menurut anjuran para ahli. Jadi, memberi kesempatan agar makanan dapat dikunyah lebih baik lagi dan sempurna, serta memberi waktu istirahat ketika makan. Minum saat makan pun disarankan untuk mengerem kecepatan makan dan membuat cepat kenyang.

Bila sebelum waktu makan timbul rasa lapar yang tak tertahankan, makanlah buah-buahan yang kandungan airnya tinggi atau yang agak keras. Potong sekitar seukuran dadu, ambil satu per satu dengan cara mengunyah pelan-pelan. Maksudnya, agar porsi yang dimakan tidak terlalu banyak dan mempermudah tubuh mengeluarkan “isyarat” kenyang.

Langkah berikutnya, buatlah catatan harian. Catat apa saja yang dimakan dan perkirakan jumlah kalori yang masuk ke dalam tubuh. Yangjuga patut dipertimbangkan, bila merasa lapar, renungkan sesaat, apakah memang betul-betul lapar, ataukah cuma iseng, atau saat itu jam-jamnya kita biasa makan. Jika cuma karena kebiasaan saja, cobalah tunda barang satu atau dua jam lagi untuk makan.

Lain halnya bila kita keranjingan makanan tertentu. Perlu dipikirkan, apakah ada sangkut-pautnya dengan “pengalaman pahit” pada masa kanak-kanak. Atau itu merupakan hadiah dari orangtua karena kita mau mengerjakan hal yang sebetulnya kurang disukai tetapi orangtua menginginkannya. Bila demikian, cobalah alihkan hadiah-hadiah itu bukan ke soal makanan, tapi ke bentuk lain. Seperti minta dibelikan tiket pertunjukan, baju baru, hadiah buku, atau majalah. Mungkin cara seperti ini perlu direnungkan kembali dan coba dijajagi.

Pos terkait