Anton-Nb

Meong…, sang Belahan Hati

Kesibukan Vanni Asvianti meningkat 3 bulan terakhir. Usai kontes di Bandung, Jawa Barat, pada Oktober, ia harus mempersiapkan beberapa persia andalannya ke kontes di Jakarta. Belum lagi 2 induk bunting dan menyusui anak di rumahnya di Pademangan, Jakarta Utara, yang perlu perawatan ekstra. Keletihan itu sirna kala Rosemery dan Vandelin acap meraih prestasi.

Kontes kucing memang menjadi agenda rutin pemilik Batavia Cattery . Maklum, ajang bagus-bagusan itu hampir setiap bulan digelar di beberapa daerah. Kondisi ini jauh meningkat dibandingkan pada tahun sebelumnya. Pantauan Trubus saat itu frekuensi kontes 2—4 kali/tahun. Itu pun hanya Cat Fancy Indonesia (CFI) yang menyelenggarakannya.

Namun, sejak ada Indonesian Cat Association (ICA) seolah ada angin segar di dunia perkucingan tanah air. Apalagi ICA telah diakui sebagai asosiasi penyayang kucing di Indonesia menurut SK Keputusan Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan No. 82/KPTS/OT.160/F/0904.

Itu terlihat di kontes ICA Cat Festival di Blok M Mali pada Juni . “Sebanyak 70 penyayang kucing baru ikut bergabung dalam asosiasi,” kata Russy Erwin, sekretaris ICA. Hingga kini tercatat 130 orang bergabung di ICA.

kucing Meong..., sang Belahan Hati
Di kontes muncul hobiis baru

Jumlah peserta pun semakin meningkat. Cat show di gedung Moliis, Bandung, medio Oktober diikuti 90 peserta. Bandingkan dengan jumlah peserta setahun silam yang hanya 20— 30 ekor. Itu pun didominasi kelas nonpedigree. Kini, peserta beragam di kelas impor, lokal (LO), dan nonpedigree.

Bertambah

Meningkatnya jumlah peserta mendorong hadirnya pembiak kucing (cattery) di beberapa daerah. Menurut catatan Russy di Jakarta saja ada sekitar 11 cattery baru; pada tahun ini 6 cattery. “Di Semarang dan Yogyakarta juga ada beberapa cattery baru dari semula tidak ada. Itu belum termasuk pembiak baru yang belum terdaftar di ICA,” kata pemilik Raflesia Cattery itu.

Munculnya cattery baru itu jelas untuk memenuhi permintaan kucing yang semakin meningkat. Meski tidak pernah menghitung, Ermita Hadi, pemilik Mitacats Cattery di Bandung, Jawa Barat, juga merasakan peningkatan permintaan kucing. “Anakan umur 2 bulan saja sudah ada yang memesan,” ujar ibu 1 anak itu.

Bayu Rudro Susetyo, pemilik Mioong The Cat Empire di Depok, Jawa Barat, pun mengalami hal sama. Penjualan kucing mulai meningkat sejak tahun ini. Saat ini ia bisa menghasilkan 450 anakan dari 74 induk setiap tahun. “Semua anakan kok ludes terjual. Bahkan ada yang rela pesan dulu untuk mendapatkannya,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu.

Maraknya kucing juga terlihat dari makin banyaknya produk pakan. Lihat saja, beragam merek cat food dijual di pet shop. Dulu hanya ada Whiskas, kini muncul produk baru, seperti Sciencediet, Proplan, Nutra Gold, dan Meow Mix. Permintaannya pun meningkat. “Kadang stok saya habis dan belum ada pengiriman,” kata Bayu yang juga menyediakan cat food di rumahnya di Pesona Depok Estate, Depok, Jawa Barat.

Persia makin dominan

Kucing salah satu pilihan tepat binatang kesayangan di rumah. Menurut Heri Marwanto, pemilik Pandanwangi Cattery, dari beberapa jenis kucing yang populer di Indonesia persia yang dominan. Meski tidak banyak, ragdoll, birman, dan himalayan juga mulai diminati. “Mereka disukai karena sosoknya menawan, mudah digendong, dan dibawa ke mana saja. Kelucuan dan kemolekan itulah yang membuatnya semakin diburu hobiis,” katanya.

Untuk kualitas kontes, persia yang dicari berkepala besar dan hidung pesek segaris dengan mata. Namun, kebanyakan tipe yang berkembang di Indonesia hidung agak turun atau tidak sejajar dengan mata. Tak heran bila beberapa cattery mulai mengimpor indukan. Russy misalnya, mendatangkan beberapa induk terbaik dari Amerika serikat dan Eropa. Sementara Ermita tak kalah dengan indukan barunya yang didatangkan dari Rusia, Belanda, dan Jerman.

Tak hanya kualitas kontes yang diburu. Sebagian hobiis mencari kucing untuk peliharaan di rumah, hadiah karena anaknya naik kelas, atau kado ulang tahun. Bahkan, beberapa orang membeli kucing itu untuk sebagai teman. “Pembeli datang ke sini banyak yang mencari kucing untuk hadiah buat kolega,” kata Bayu.

kucing kontes Meong..., sang Belahan Hati
Yang dicari anakan 3 bulan

Kebanyakan yang dicari umur 3 bulan karena sosok dan perilakunya lucu. Alasan lain, karakter anakan kucing belum terbentuk sehingga lebih mudah diarahkan. Contohnya, melatih buang kotoran di tempat yang sudah disediakan. Lain halnya yang sudah berumur 6 bulan perlu penanganan khusus untuk melatihnya.

Prospek yang cerah

Dibanding popularitas anjing, kucing memang ketinggalan. Maklum, anjing diperkenalkan di Indonesia sejak 1950; kucing, 1990. Namun, Heri melihat prospek kucing cerah di masa datang. “Kalau melihat animo di setiap kontes, kucing pasti bekal berkembang. Banyak hobiis yang kesengsem persia, meski masih terbuka juga untuk jenis lain yang belum populer di sini,” kata peternak sejak 1994 itu.

Russy pun optimis kucing bakal marak di tanah air. Ia mengibaratkan hobiis di Indonesia seperti bayi yang baru belajar merangkak, ketinggalan jauh dibandingkan Amerika Serikat. Di sana kucing sudah menjadi “industri” maju. Pantas, bila persia terbaik berasal dari negara adi kuasa itu. Peserta kontes di sana bisa mencapai 300 ekor; di Indonesia, separuhnya saja belum ada.

Soal pemasaran pun tak melulu di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Hobiis di luar Jawa, seperti Medan, Pontianak, dan Bali sangat potensial sebagai pasar baru. “Kalau kualitas kucing kita bagus, ekspor ke luar negeri tak masalah,” kata ibu 2 anak itu.

Yang jelas begitu telanjur jatuh hati pada kucing, sangat sulit dipisahkan lagi. Itulah yang dialami Ratna Pani, hobiis yang tinggal di Gema Pesona, Depok, Jawa Barat. Begitu 2 persia kesayangan mati, 4 persia lain dibeli untuk mengobati duka laranya. Bembe, Sindy, Putih, dan Gel nama persia  selalu menemaninya setiap hari.

Sesekali suara mereka terdengar, “Meong…, meong…, meong.” Suara itu begitu menyayat hati Ratna untuk semakin sayang padanya. Mereka digendong, lalu dielus secara bergantian. “Gel, kamu minta dipangku, ya,” kata ibu 3 anak itu sambil mengangkat persia seharga Rp2-juta itu. (Sunandar Agus)

Sunandar Agus

Add comment

Most popular

Most discussed