Anton-Nb

Merebut Kampiun Kontes Internasional Perdana

Dua gelar prestisius ditorehkan oleh lou han 17 cm milik Seng Ti di kontes Indofish 2020. Setelah mengumpulkan poin 1.369 ia dinobatkan sebagai yang terbaik di kelas kemalau A. Sembilan juri akhirnya sepakat menabalkannya menjadi grand champion menyisihkan 7 pesaing. Dua puluh meter dari arena lomba bagus-bagusan itu berlangsung kontes cupang, diskus, gupy, dan maskoki.

Mutiara penuh, warna cerah perpaduan merah menyala di bagian kepala dan kekuningan di sekujur tubuh. Kemalau yang menghuni akauarium CKE A013 itu dinilai banyak peserta layak menyandang gelar terhormat. “Ikan itu pantas menang. Ia unggul di first impression (kesan pertama, red),” ujar Effendy Husain, peserta dari Jakarta.

ikan1 1024x566 Merebut Kampiun Kontes Internasional Perdana
Golden bate terbaik

Hal serupa disampaikan Soerianto Kusnowirjono. Juri kontes itu menuturkan, warna, bentuk tubuh, dan mutiara sangat istimewa. Walau begitu bukan berarti ia sempurna. Kekurangannya pada marking. Menurut Markus Ahadi, anggota dewan juri, kemalau bermarking amat jarang lantaran lebih dominan pada mutiara.

Tak berkutik

Yang berhak merebut gelar grand champion adalah juara pertama di kelas A untuk seluruh kategori berupa cinhua, cencu klasik, cencu modem, cencu kemalau, golden base, nonmarking, free marking, dan red slayer. Beberapa ikan peraih grand champion di kontes sebelumnya memperketat persaingan. Sayang, mereka kandas di putaran 20 besar. Perfect harmoni kebanggaan Sinatra Liman, misalnya, terdepak saat penilaian 20 besar. Di ajang Aquatrend 2020 pada Juni silam ikan milik Head of Land Purchasing Department Grup Pondok Indah itu menyabet tahta grand champion.

Nasib apes dialami cinhua peraih grand champion di Bandung. Ikan milik Noer T Prawiropermono itu gagal masuk 20 besar. “Waktu juri pas menilai, ikannya ngga tampil. Ikan diam, sirip tak berkembang. Bagaimana mau dinilai?” tutur Markus Ahadi. Meski demikian Markus menginstruksikan agar para juri untuk sementara menilai ikan lain. Harapannya, setelah berputar kondisi ikan itu membaik.

Meski 3 kali berputar, kondisi ikan belum berubah. Namun, menurut Markus idealnya ikan peraih grand champion mestinya bisa lolos 20 besar jika peserta hanya 40 sampai 50 ekor. Bentuk tubuh, kepala, atau mutiara yang tampak menjadi pertimbangan saat menilai. Sayangnya dewan juri yang terdiri atas 3 orang 2 lainnya Yooke F Dotulong dan Erwin Mursalim tak berwewenang menilai.

Jawara umum

Gelar bergengsi berupa juara umum direngkuh Tim Perjuangan, sehingga berhak memboyong piala Presiden. Piala bergilir itu diperuntukkan bagi peserta yang mendulang poin terbanyak. Sebagai gambaran juara pertama diganjar nilai 250, 2 (125), 3 (75), 4 sampai 10 (25). Prestasi itu sudah diprediksi sebelum kontes digelar. Pantas saja gelar itu diraih lantaran mereka menurunkan 70 ekor di berbagai kelas, kecuali red slayer.

Tim itu menggandeng hobiis dari Jakarta, Bandung, Bogor, Karawang, Semarang, Purworejo, dan Cilacap. “Dari obrolan ringan, kami serius berkoalisi satu setengah bulan sebelum kontes,” ujar Effendy Husain. Dengan biaya pendaftaran Rp1,5-juta per ekor, tim ituI merogoh kocek hingga Rp105-juta. Hasilnya, mereka mendominasi di kelas cinhua A, cinhua B, cencu modern A, cencu modem B, golden base, dan free marking.

Rival terdekatnya Lou Han Club Surabaya (LCS) hanya menyertakan 25 ekor. Mereka merangkul hobiis dari Bali dan kota-kota di Jawa Timur. Jawara pertama direngkuh LCS di 3 kelas yakni cencu kemalau B, free marking B, dan red slayer. Di kontes Indofish 2020 kedua tim’ irulah yang paling berpeluang merebut juara umum. Soalnya, peserta terbanyak datang dari kedua tim itu. Sedangkan peserta lain turun sebagai individual yang ndak bergabung dalam sebuah tim.

Asing absen

Kontes Indofish diselenggarakan berbarengan dengan perhelatan akbar Indonesia International Ornamental Fish and Accesssories Expo 2020. Adu indah ikan hias itu dilangsungkan di Semanggi Expo, Jakarta Selatan, pada 21 sampai 24 Agustus. Tercatat 228 lou han memamerkan keindahannya di sana. Panitia sejatinya menargetkan 400 peserta. Menurut ketua panitia kontes lou han Indofish 2020, Rusli Mabuti, 11 peserta dari mancanegara membatalkan kehadirannya.

Itu terjadi beberapa hari setelah Hotel W Mariott di Kuningan, Jakarta Selatan, dilumat bom pada 5 Agustus. Jarak lokasi edakan dengan Semanggi Expo hanya beberapa kilometer. Jadilah kontes internasional perdana di tanah air itu hanya diikuti pemain lokal. “Beberapa juri dari 4 Malaysia dan Taiwan yang sudah dikonfirmasikan juga membatalkan diri,” ujar Rusli.

Selain lou han panitia Indofish juga menggelar kontes berbagai ikan hias seperti cupang. Ada 146 ekor yang berlomba di 6 kelas, yakni dasar, maskot, dan l kombinasi masing-masing pada i kategori senior dan j unior. Kontes itu memang hanya menyediakan kelas bagi cupang crowntail. “Kalau kategori halfmoon dan doubletail dibuka peserta lebih banyak lagi,” ujar Ever Tagoli, juri kontes.

ikan hias cencu 1024x591 Merebut Kampiun Kontes Internasional Perdana
Gelar terbaik direbut oranda

Menurut Bambang Eka Perkasa, juri, kualitas cupang yang dilombakan cukup ‘agus. Wajar jika juri kesulitan ditentukan para jawara di setiap kelas. Cupang dewasa yang biasa merajai dalam perebutan grand champion kali ini bertekuk lutut. Gelar itu direbut junior maskot milik Yoppie dari Temanggung, Jawa Tengah. “Yang membuat dia meraih grand champion adalah kerapian sirip dan warna serasi,” ujar Ever Tagoli. Cupang mungil itu mempersembahkan piala Presiden dan uang Rp1O-juta kepada Yoppie.

Cakram dan guppy

Diskus juga meramaikan kontes Indofish 2020. Hobiis dari Bandung, Jakarta, Semarang, bahkan Malaysia dan Singapura menyertakan ikan cakram kebanggaan. Tercatat 86 peserta beradu indah di 8 kelas seperti solid blue and green, solid white and yellow, spotted form: leopard skin. Tiga juri menobatkan leopard skin milik pemain gaek, Djudju Anthony, sebagai grand champion.

Ikan di akuarium 42 itu mengumpulkan angka 910. Ia sekaligus merebut jawara pertama di kelas spotted form: red spotted leopard skin. Dengan begitu 2 piala sekaligus juga diboyong: Piala Presiden dan Menteri .Kelautan dan Perikanan. Tentu saja plus uang Rp 10-juta. Kompetitor terdekatnya ikan milik Robert Sutanto hanya mengantungi poin 895. Guna Karsa, juri kontes, yang dihubungi Trubus menuturkan, “Secara keseluruhaan baik warna, bentuk, cara berenang, mental, terlihat lebih prima”.

Dari lima jenis ikan hias yang dilombakan, guppy paling minim peserta. Hanya terdapat 64 akuarium yang terdiri atas 10 ekor per akuarium. Kontes sebelumnya setiap akuarium diisi 3 sampai 5 ekor. Peserta datang dari Jakarta, Padang, Singapura, dan Thailand. Mutu guppy yang turun di arena kontes cukup bagus.

Namun, gelar grand champion direbut gupy lokal milik Ir Gunawan. Guppy hasil tangkaran Mulyadi dari Padang itu merupakan spesies baru. Menurut Edy Sugandi, juri, guppy itu layak meraih prestasi tertinggi. Musababnya, warna, bentuk, struktur sirip, dan ekor sempurna dan serasi.

Maskoki yang mulai digandrungi hobiis tanah air juga dilombakan. Ada 107 peserta yang memperebutkan piala Presiden. Mereka beradu molek di 8 kelas seperti ranchu senior, ryukin senior, dan lion head senior. Harsono, hobiis asal Pulomas, Jakarta Timur, memborong gelar dengan merebut 7 jawara di arena itu. Beberapa di antaranya adalah di kategori open, breeder, dan oranda senior, yang merebut juara pertama.

Kebanggaannya kian lengkap setelah oranda di akuarium 41 merebut grand champion. “Itu ikan luar biasa. Seluruh sirip tampil sempurna dan tubuh membulat. Selain sehat, gaya berenangnya enak dilihat. Secara keseluruhan ia maskoki yang istimewa,” tutur Patrick Tan, juri asal Malaysia (Sunandar Agus)

Sunandar Agus

Add comment

Most popular

Most discussed