Anton-Nb
kontes balap merpati

Merpati Balap: Putra Madura Tercepat di Surabaya

Sekitar 100 m menjelang finish, Putra Madura menyentakkan sayap lalu meluncur turun dan terbang menyusur tanah. Gerakan itu membuatnya unggul 1 m di depan lawan. Ekor Putih saingannya mencoba mengejar. Namun, sprinter milik Kholil memacu kecepatan. “Hap”, burung itu hinggap tepat di pelukan Kamil, sang joki. Naas bagi Ekor Putih, selain tertinggal juga gagal ditangkap dengan sempurna oleh Luken.

Spontan sorak-sorai nan riuh rendah terdengar dari pendukung merpati juaradi temaram senja. Segera saja, Paul dan Kholil—pemilik burung dan timnya dari Lumajang, menyerbu sang joki. Mereka berjabat tangan, berpelukan, dan melonjak-lonjak. Kegembiraan kian memuncak saat diserahkan piala bergilir Anniversary Cup.

Itulah penebus kekecewaan mereka setelah gagal meraih juara pada 2 kali lomba sebelumnya. Menurut Kholik, dari 9 merpati yang disertakan, hanya Putra Madura yang berprestasi maksimal.

Di hari terakhir itu. Putra Madura memang bertarung mengesankan. Setiap lawan dikalahkan dengan telak. Misal di babak ke-5 atau 38 besar ia menyisihkan Inul dari Semarang. Di babak ke-6, ia menyingkirkan Putra Dangdut dari Bandung juga secara telak. Nasib baik pun berpihak kepada burung berusia 2 tahun itu di babak ke-7 alias 11 besar. Ia menang undian sehingga lolos ke semi final tanpa bertanding. Ia menantang Obor. Burung balap dari Yogyakarta itu pun dikalahkan dengan mutlak oleh sang juara.
balap merpati 1024x576 Merpati Balap: Putra Madura Tercepat  di Surabaya

Kegagalan membawa berkah

Di hari pertama Putra Madura gagal ketika berlaga pada jarak 500 m. Ia kembali jadi pecundang pada lomba 1.000 m pada hari kedua, meski banyak dijagokan penonton. Lomba hari ke-2 itu diikuti 576 merpati yang dibagi atas 36 grup dari A hingga ZI. Kekalahan ini bagi Putra Madura adalah kegagalan mengulang sukses di Jember tahun lalu. Waktu itu ia juara 1 dari hari pertama hingga ke-3.

Beruntung Putra Madura punya kesempatan berlomba di kelas utama pada hari ketiga yang diikuti 509 peserta. Lomba itu lebih keras, karena .pertarungan berlangsung satu lawan satu lewat sistim gugur. Untuk mencapai babak akhir, finalis harus bertanding hingga 9 kali sejauh 1.200 m.

Di kelas utama itu, terdapat 2 juara dan 3 runner up grup lomba hari kedua yang menapak hingga babak ke-7. Mereka ialah Bajing Ireng juara grup B dan Micoli juara grup V. Sedangkan Bintang Jakarta.

Milenium, dan Mistik, masing masing runner up grup B, C, dan f. Putra Madura langsung tancap gas pada hari ke-3. Lawan-lawannya hingga perempatfmal dilibas dengan telak. Ia baru menemukan lawan tangguh ketika memasuki babak semifinal. Di situ ada Ekor Putih. Obor, dan Top Speed. Namun, dengan tenaga prima ia melaju mulus hingga babak akhir melawan Ekor Putih.

Putra Madura bisa menyimpan tenaga lantaran pada hari pertama dan kedua tak sampai masuk babak akhir. Lawannya, ekor putih merpati temakan Makita BF, sebetulnya cukup bagus, tapi kalah pengalaman.

Santoso Wirya, pemiliknya, memang lebih menjagokan Insaghi dan Cut Bray ketimbang Ekor Putih untuk bertarung pada lomba utama mereka lebih berpengalaman. Apalagi keduanya mampu membuktikan keperkasaan dengan menyabet juara pada kelas C dan E. Sayang, kedua andalan itu hanya bertahan hingga babak ke-5.

Banjir peminat

Ajang balap burung di Lapangan Laguna, Surabaya Utara itu dibanjiri peminat. Sekitar 204 hobiis mengikuti kontes yang disebut-sebut terbesar itu. Mereka datang dari Medan, DKI, Jawa Barat (Bandung, Tasikmalaya, Cirebon), Jawa Tengah (Semarang, Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Purwokerto, Magelang), dan Jawa Timur (Ngawi, Madiun, Kediri, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Gresik, Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan Bangkalan), Bali, dan Makassar.

Tak berlebihan “Inilah lomba merpati balap yang ditunggu-tunggu peserta,” kata Iwan Sutandio, Sekretaris Persatuan Penggemar Merpati Balap Sprint Indonesia (PPMBSI) Pengda Jatim. Hadiah yang disediakan pun mencapai Rp40-juta. Selama ini jumlah peserta paling banyak 400 ekor dengan total hadiah Rp23-juta.

Jago-jago balap dari berbagai daerah turut berpartisipasi. Misalnya Petir Muda (Bandung), Bobo Ho dan Hantu andalan Akas (Probolinggo), Anak Yatim milik Hero Herlambang (Surabaya), serta Virus dan Escudo kebanggaan H Rizky. Namun, mereka gagal tampil sebagai yang terbaik. “Burung memang seperti itu, kadang tampil cemerlang, kadang tampil buruk,” ujar Iwan dari Makita BF.

Sayangnya, Leonard dari Bandung yang memimpin perolehan angka 172 poin sepanjang tahun, tidak turun berlomba. Menurut Ching Sen, andalannya sedang rontok bulu. Sebagai gantinya, ia menurunkan Waga-waga, Pesat, dan Leonard Junior.

Harapan Ching Sen tertumpu pada Waga-waga karena pernah merebut juara I junior nasional. Namun sayang, turunan Marlon yang penuh prestasi itu gagal mengemban tugas. Yang justru berprestasi bagus Leonard Junior yang baru berumur 9 bulan. Bakat sprint orang tuanya ternyata menitis, sehingga mampu bertengger di peringkat ke-6 dari 509 ekor.

Mereka yang tercepat
Juara Nama merpati Pemilik Asal
1 Putra Madura Paul /Kholik Lumajang
2 Ekor Putih Tim Makita Jakarta
3 Obor Oong Yogyakarta
4 Top Speed Ache Bandung
5 Micoli Cun Cun Bandung
6 Leonard Junior Ching Sen Bandung
7 Mistik H Arif Surabaya
8 Milenium Trisna Wijaya Jakarta
9 Robin Hood Cholik Surabaya
10 Bajing Ireng Acen Semarang
11 Bintang Jakarta Trisna Wijaya Jakarta

Peserta Merata

Beberapa peserta lain juga membawa burung remaja minim pengalaman. Misal Suyitno, pemilik Kelana Bird Farm di Bandung. Ia menyertakan 5 ekor keturunan dari Kelana, peraih rangking pertama pada 1997. Hasilnya cukup menggembirakan. Di antaranya Gelang dan Cris Cros tampil sebagai juara pada hari pertama. Pada hari kedua, Cris Cros kembali juara bersama Kelana dan Venus.

Sedangkan H Rizky, yang menurunkan 13 burung menempatkan Virus pada posisi ke-16 di lomba utama dan runer up grup K. Andalan lain, Arjuna, menjuarai kelas N, dan Bintang Jakarta juara ke-2 di Perang Bintang.

Ketidakhadiran jago-jago senior membuat persaingan menjadi ketat karena terjadi pemerataan kekuatan. Buktinya tak satu pun daerah atau bird farm mendominasi. Pada lomba hari ke-II peserta dari Jawa Barat dan Jawa Timur masing-masing merebut 15 dari 36 kelas yang dipertandingkan. Sisanya direbut oleh DKI dan Jateng, masing-masing meraih 3 gelar.

Persaingan masih berlanjut pada lomba utama di hari terakhir. Hingga babak ke-6 yang diikuti 11 merpati, Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI menempatkan masing-masing 3 peserta. Sedangkan Yogyakarta dan Semarang menempatkan 1 wakil. Di babak 8 besar, Jawa Timur tinggal diwakili Putra Madura dan Mistik. Toh akhirnya Jawa Timur yang berjaya lewat Putra Madura. (Syah Angkasa)

Sunandar Agus

Add comment

Most popular

Most discussed