Obat Tifus Dari Kebun Pisang

Gambar Gravatar
  • Whatsapp
Salmonella paratifus
Salmonella paratifus dalam jaringan tubuh

Tertatih-tatih badan lemah itu mengambil cangkul, dan menghunjamkannya ke tanah dekat rumpun pisang. Lima ekor cacing tanah yang menggeliat ditangkapnya. Setelah dibersihkan, air rebusannya dibubuhi teh dan diminum tiga kali sehari. Legowo (bukan nama sebenarnya) yang kesal dengan tifusnya, nekat mencoba resep warisan nenek moyang. Sakitnya langsung sembuh.

Entah kapan dan siapa yang memulainya, berita cacing mengobati tifus sudah terlanjur berkumandang. Hal itulah yang menjadi inspirasi Legowo asal Solo, Jawa Tengah, ketika tifus yang dideritanya lima minggu tak kunjung sembuh. Padahal pergi ke dokter dan minum obat sudah dilakukannya berulang-ulang.

Setelah minum rebusan cacing, tifusnya sembuh total. “Kalau obat dokter sudah tidak mempan mengobati tifus, cobalah rebusan cacing,” papar sarjana hukum itu.

Di Indonesia, cacing tanah memang diakui sebagai bahan obat. Masyarakat Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, sudah turun temurun menggunakannya untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dikenal satu resep manjur. Tujuh ekor cacing dijemur, setelah kering ditumbuk (digerus). Campur dengan kuning telur ayam kampung, dan minumlah.

Penyebab tifus

gambar infeksi Salmonella dalam tubuh manusia
infeksi Salmonella

Tifus yang dapat diberantas dengan cacing itu disebabkan salmonella, bakteri dari kelas Enterobacteriaceae. Kuman ini menimbulkan infeksi, baik pada hewan maupun manusia, disebut Salmonellosis. Bagian tubuh yang diserang adalah alat pencernaan. Infeksi ringan hanya ditandai diare, tanpa menunjukkan gejala umum, seperti menggigil, demam tinggi mencapai 40°C, peradangan tenggorokan, dan muntah.

Awalnya penderita merasa kurang enak badan, seperti gejala flu biasa. Dengan obat penurun panas, gejala demam akan hilang. Namun, setelah reaksi obat berhenti, demam kembali muncul. Biasanya gejala demam timbul pada satu waktu, misalnya pada pagi atau sore hari.

Pada kondisi ini, penderita merasa mual dibarengi dengan muntah. Untuk memastikan penyakit itu benar-benar tifus, analisis laboratorium perlu dilakukan.

Pemeriksaan serum darah (serologi) dengan metode widal, dapat mendeteksi tingkat infeksi Salmonella. Adanya salah satu dari enam anak virus Salmonella paratifus, akan menunjukkan ada atau tidaknya infeksi. Kisaran ambang batas kepositifan pada angka 1/600,1/360,dan 1/160.

Pecahan pertama adalah gejala awal perkembangan virus. Keadaan puncak, bila satu virus sudah berada di antara 1/160 sel. Bersamaan dengan itu, pemeriksaan hematologi trombosit juga dilakukan. Ambang batas normal trombosit pada kisaran angka 150 sampai 300. Bila di bawah ambang, berarti positif ada infeksi.

Terkenal Akan khasiatnya sejak dulu kala

Aristoteles, filsuf Yunani, menyebut cacing tanah perutnya bumi. Semasa memerintah Mesir pada 69 sampai 30 SM, Cleopatra menganggap cacing tanah sebagai dewa kesuburan. Rakyatnya dilarang menyentuh cacing tanah. Penghargaan ini, juga berlaku di Cina. Dalam catatan klasik Tiongkok, cacing tanah disebut tilung atau naga tanah. Pengobatan tradisional Cina tak luput menggunakan cacing dalam berbagai ramuannya.

Cacing tanah termasuk dalam kelas Oligochaeta, dibagi lima famili. Di antara kelima kerabat cacing itu, yang paling penting adalah Megascolidae dan Lumbricidae. Sedangkan yang paling banyak dibudidayakan manusia dari jenis Lumbricus, Esenia, Pheretima, Perionyx, Diplocardia, dan Lidrillus. Cacing tanah hidup di antara sisa-sisa bahan organik, seperti kotoran hewan dan tumbuhan yang telah membusuk.

Pembudidayaan cacing tanah (Lumbricus rubellus), juga telah lama dilakukan di Indonesia. Selain digunakan sebagai pakan ternak unggas dan ikan, media bekas pemeliharaan cacing (Kascing) digunakan untuk pupuk (vermic). Yang tak kalah penting, cacing tanah dipakai sebagai bahan baku obat dan kosmetik. Tepung cacing yang telah diproses dan dicampur dengan bahan-bahan obat lain dimasukkan ke dalam kapsul. Berbagai macam penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, asma, tifus, rematik, dan wasir, dapat disembuhkan dengan obat itu.

Berkhasiat Menurunkan panas

cacing tanah
Cacing tanah dalam gedebog pisang

Ekstrak cacing tanah mengandung Lumbrifebrine, Lumbricin, Terrestro lumbrolysin, dan Hypoxanthine. Beberapa referensi menyebut, cacing tanah memiliki kandungan asam amino lebih tinggi dibanding bahan hewani lain. Di antaranya mengandung arginin 8,9%, lysine 8,1%, dan valine 6,4%. Selain itu, cacing tanah juga mengandung enzym selulose dan lignase, sehingga berfaedah memperbaiki pencernaan.

Penelitian yang dilakukan Bambang Sudiarto peramu obat berbahan dasar cacing, menyebut beberapa kandungan zat berkhasiat. Zat tersebut dapat menghambat perkembangan 5 jenis kuman penyebab penyakit, antara lain Salmonella typhimurium, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Listeria monocytogenes. Dengan dasar ini, pakar cacing di Bandung itu, meramu obat untuk berbagai penyakit, termasuk tifus.

Zat aktif yang tak kalah penting adalah archidonic acid, sangat efektif menurunkan suhu tubuh akibat infeksi. Suhu badan tinggi yang tak kunjung turun, salah satu gejala umum tifus. Buku Satwa Berkhasiat Pengobatan menyebutkan, larutan air cacing tanah, mempunyai sifat penurun panas yang baik, dengan bereaksi terhadap sistem saraf pusat pengatur suhu tubuh. Panas buatan pada hewan percobaan, yang diinfeksi dengan baksil coli dan malaria, dapat diturunkan.

Cacing tanah tidak saja menyembuhkan penyakit infeksi, Enzim peroksida dan katalase yang terkandung di dalamnya bermanfaat menyembuhkan penyakit degeneratif. Antara lain diabetes, kolesterol tinggi, dan rematik. Agar .memudahkan penggunaannya, kini telah tersedia ekstrak cacing tanah berbentuk kapsul. Jadi tak perlu lagi membayangkan geliatnya.

https://www.rug.nl/research/portal/files/2980769/thesis.pdf
http://revista.isciii.es/index.php/bes/article/view/713/762