Pemanfaatan Sarang Semut (Myrmecodia) Sebagai Tanaman Hias

Pemanfaatan sarang semut sebagai tanaman hias memang sudah banyak dilakukan hobiis di Benua Amerika, Eropa, dan Australia

myrmecodia

Andrew Tay sah-sah saja memproklamirkan diri sebagai kolektor sarang semut. Koleksinya di Singapura tergolong lengkap. Lima genus sarang semut dari jenis yang tersebar luas seperti myrmecodia hingga endemik squamellaria asal Kepulauan Fiji ada di sana. Untuk koleksi-koleksi itu Andrew Tay tak perlu berkeringat menerobos hutan belantara, la cukup berkunjung ke Chatucak Weekend Market di Bangkok, Thailand.

Chatucak? Ya, hanya dengan membeli di pedagang tanaman hias di Chatucak Andrew bisa mengumpulkan sarang semut sejak 5 tahun silam. Hingga awal Januari  koleksi riam gi sebutan sarang semut di Vietnam sudah mencapai lebih dari 20 jenis.

Anggota Green Culture Singapore itu memang kolektor tanaman unik. Selain sarang semut, ia juga mengumpulkan anggrek spesies, tilandsia, dan beberapa tanaman langka dari hutan tropis.

Koleksi-koleksi itu dipelihara dalam pot plastik berdiameter 15 cm. Andrew hanya menggunakan cacahan kulit kayu sebagai media. Meski demikian semua perutak sebutan di Semenanjung Malaysia  itu terlihat sehat.

Sarang semut kesayangannya, seperti Hydnophytum formicarium dan Myrmecodia tuberosa tampak berdaun hijau segar. Beberapa di antaranya mengeluarkan bunga putih dan biji berwarna jingga.

Huntington Botanic Garden banyak menjual sarang semut (myrmecodia) asal Papua Nugini
Huntington Botanic Garden banyak menjual sarang semut asal Papua Nugini

Komunitas Tanaman Hias Nepenthes

Nun di Washington DC, Amerika Serikat, Leeanne Elizabeth Alonso memiliki kegemaran serupa. Beberapa jenis sarang semut turut dikoleksi seperti Myrmecodia tuberosa, Myrmecodia papuana, Myrmecodia pendans, dan Myrmecodia erinacea.

Tidak berlatar belakang seperti Andrew, kelahiran Ontario di Kanada 41 tahun silam itu justru seorang peneliti. Untuk memperoleh gelar doktor biologinya dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, ibu 2 putri itu memang menyelidiki hubungan simbiosis dan ekologi sarang semut di Malaysia dan Papua Nugini.

Menurut Dr Muhammad Ahkam Subroto M.App. Sc, APU., dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, hobi mengumpulkan sarang semut sudah lama ada. Sepengetahuannya, meski di negeri Kangguru itu belum ada perkumpulan khusus penghobi sarang semut, mereka biasanya bergabung bersama komunitas nepenthes.

Dari lacakan Kami melalui dunia maya, perdagangan sarang semut sudah lama berjalan. Contoh di Amerika Serikat. Salah satu nurseri besar, Huntington Botanic Garden di San Marino, California banyak menjual jenis-jenis asal Papua Nugini seperti Hydnophytum sp, Myrmecodia tuberosa dahlii, M. t. kutubensis, dan Myrmecodia paradoxsa. Yang disebut terakhir misalnya dijajakan seharga 12 euro setara Rp 130.000/ tanaman dengan panjang umbi 5 cm.

Myrmecodia Di mancanegara dipakai sebagai tanaman hias
Di mancanegara sebagai tanaman hias

Nurseri-nurseri besar lain di Amerika tidak banyak menawarkan sarang semut sebagai salah satu barang dagangan utama. Maklum jenis yang dilabeli sebutan exotic rare plant itu tidak selalu tersedia. Dalam situs top tropicals plant catalog misalnya hydnophytum selalu ditulis none alias kosong.

Perbanyakan dengan metode kultur jaringan

Dengan alasan konservasi, kini beberapa institusi mulai memperbanyak sarang semut dengan kultur jaringan. Contohnya Australia National Botanic Garden. Badan di bawah pengawasan Department of the Environment and Heritage Pemerintah Australia itu bahkan sudah melepas hasil produksinya ke pasaran.

Terutama jenis endemik M. beccarii dari utara Australia. Wajar jika harga M. beccarii pun turun. Jika semula dijual US$15,56 setara Rpl50.000/umbi ukuran 5 cm, kini hobiis di negeri Kanguru itu dapat membeli dengan harga US$3 setara Rp30.000/umbi.

Produksi massal juga sudah dilakukan oleh Department Ecology & Evolutionary Biology University of Connecticut di Amerika Serikat. Memanfaatkan hasil penelitian, mereka memperbanyak beberapa genus hynophytum dan mrymecodia melalui biji. Percobaan lain dengan potongan umbi bermata tunas gagal lantaran tanaman ternyata tidak mau mengeluarkan umbi baru.

Pemanfaatan sarang semut sebagai tanaman hias memang sudah banyak dilakukan hobiis di Benua Amerika, Eropa, dan Australia. Khusus di Asia, ia tidak banyak dimanfaatkan. Beberapa literatur menunjukkan di Asia ia hanya dipakai sebagai obat sakit kepala.

Itu pun belum benar-benar teruji. Mungkin baru Andrew Tay di Singapura yang sepakat dengan hobiis di benua lain. Sarang semut baginya adalah tanaman hias yang breathtaking in their ugliness alias menggetarkan hati meski bertampang buruk.

Tinggalkan komentar