Peranan Dan Fungsi Guci Dari Tanah Liat Dari Waktu Ke Waktu

guci

Masyarakat di sepanjang jalan penghubung dua provinsi Siem Reap dan Battambang di Kamboja itu memanfaatkan guci sebagai penampung air. Bagi masyarakat siem rap fungsi guci umumnya dipakai sebagai tempat penampungan air. Air memang mudah didapat lantaran penduduk setempat masing-masing mempunyai sumur. Namun, mereka terbiasa menimba air lantas memasukkan ke dalam guci dari tanah liat.

Dengan demikian mereka tak harus terus-menerus menimba air. Fungsi guci persis torrent alias penampung air di perumahan perkotaan.

Table of Contents

Kegunaaan Guci Di Masa Lampau

fungsi guci dari tanah liat sebagai jambangan hiasanManfaat guci di Kamboja persis sama dengan zaman Kerajaan Majapahit. Penduduk Trowulan, ibukota kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya itu, juga memanfaatkan guci untuk menyimpan air menggunakan guci dari tanah liat.

Pada musim kemarau, kerajaan terbesar di Indonesia itu kerap kesulitan air. Penelitian yang dilakukan Dr Heriyanti Untoro, ahli guci dari Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia, guci terbuat dari bahan tanah liat peninggalan Majapahit di Trowulan tetap utuh meski terpendam dalam tanah selama beribu-ribu tahun.

Itu lantaran guci terbuat dari bahan tambang bernama kaolin berwarna putih atau keabu-abuan. Setelah dibentuk menjadi guci, perajin membakar kaolin hingga suhu 1.500°C. Teknik pengglasiran atau melapisi guci dengan sejenis kaca berwarna kian memperkuat guci.

Pantas jika wadah itu melintasi berbagai generasi. Sebagai wadah air, minyak, dan minuman yang diawetkan seperti anggur, guci sudah dimanfaatkan pada 500 tahun silam sebagaimana catatan ahli tumbuhan Rumphius.

Memang menyebut fungsi guci langsung teringat pada anggur. Menurut budayawan Eka Budianta, berbagai bangsa di dunia seperti Italia, Mesir, Palestina, dan Tiongkok memanfaatkan guci sebagai wadah penyimpanan wine.

Mereka biasanya mengebunkan Vitis vinifera dan mempunyai budaya minum anggur. Sedangkan masyarakat Jepang memanfaatkan guci dari tanah liat sebagai wadah sake minuman hasil fermentasi beras.

Pada masa itu, abad ke-16, guci alat paling praktis untuk membawa perbekalan. Pada abad ke-8, para pedagang Tiongkok yang masuk ke Indonesia juga membawa arak dalam guci. Menurut kurator keramik Museum Nasional Jakarta, Dra Ekowati Sundari MHum, guci ibarat kardus atau keranjang masa lalu.

“Ketika itu belum ada plastik. Kayu pun belum dimanfaatkan sebagai wadah bergerak. Jadi bahan pembuatan guci yang dipakai untuk wadah adalah guci berbahan tanah liat,” ujar Dr Boedi Mranata, kolektor guci terlengkap di dunia.

Barang Koleksi

keramik Alih-alih membeli arak yang diperdagangkan itu, nenek moyang kita justru tertarik membeli wadahnya sebagai benda koleksi. Preferensi konsumen itu memicu perniagaan guci dari tanah liat.

Jadilah guci-guci dari mancanegara mengalir ke Indonesia. Oleh karena itu guci-guci tua yang ditemukan di Nusantara adalah yang terindah model dan warnanya, bahkan melebihi yang di China sekalipun.

Seperti dinukil Tempayan di Indonesia, tempayan alias guci besar peninggalan dinasti Ming dan Qing ditemukan di makam dan mesjid di Jawa dan Sumatera. Di makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat, umpamanya, terdapat tempayan yang kini dikeramatkan. Pun keraton-keraton di tanahair, biasanya memiliki guci-guci tua, salah satunya Kesultanan Kutai Kartanegara.

Ingat objek wisata Guci seluas 210 ha di kaki Gunung Salamet, Tegal, Jawa Tengah? Legenda menyebutkan, air panas di ketinggian 1.050 m dpl itu pemberian Walisongo kepada orang yang mereka utus untuk menyiarkan agama Islam ke Jawa Tengah

Tanah bukan hanya untuk budidaya tanaman. Tanah kaya kaolin bermanfaat sebagai bahan pembuatan guci. Toh, fungsi guci dari tanah liat tak dapat dipisahkan dari urusan pertanian: penyimpan benih, anggur, bankan untuk membuat beragam pangan olahan seperti asinan dan tempoyak. Sejak ratusan tahun silam, fungsi guci itu bertahan. Yang membedakan, kini guci jadi simbol status sosial.

bagian barat. Karena sang wali memberikannya dalam guci, masyarakat menyebut tempat pemberian air itu dengan sebutan guci.

Perannya tentu saja bukan sekadar wadah air atau minuman. guci dari tanah liat itu boleh dibilang multimanfaat. la tak bisa dipisahkan dari urusan pertanian. Selain sebagai wadah air, guci juga berfungsi sebagai penyimpan benih sekaligus simbol kesuburan.

Masyarakat Dayak Kayan di Putusibau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, meletakkan guci-guci di dalam lumbung dengan harapan panenan selalu melimpah. Tradisi itu berlangsung sejak ratusan tahun silam dan hingga kini tetap bertahan.

Dimanfaatkan Sebagai Sarana Penyimpanan

adonan

adonan tanah liat

Kiki Mathilda menuturkan kerabatnya di Kecamatan Jangkang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, fungsi guci untuk menyimpan benih padi. Masyarakat juga memanfaatkan pasu’ alias guci dari tanah liat untuk mengolah tempoyak. Mereka memasukkan daging buah durian yang telah terpisah dari biji ke dalam guci.

Di situlah terjadi proses fermentasi hingga daging Durio zibethinus itu kian lezat. Pemanfaatan dan fungsi guci untuk mengolah makanan memang bukan tradisi zaman modern. Tujuh ratus tahun lampau, guci juga digunakan untuk mengolah asinan.

Itulah tradisi masyarakat Martaban dan Pegu di negeri yang kini bergolak: Myanmar. Mereka mengolah asinan berbahan baku lada, jeruk, mangga, dan garam untuk bekal perjalanan laut. Proses itu dilaporkan oleh Ibnu Batuta. Pada usia 46 tahun, penjelajah asal Berber, Maroko, itu melaporkan proses pembuatan asinan dalam guci di Myanmar bagian selatan.

Penduduk Martaban dan Pe memproduksi guci sendiri. Di kota Martaban fungsi guci umumnya dipakai sebagai jambangan porselen yang sangat besar dan bagus, juga gerabah berglasir berwarna hitam dan diekspor sebagai barang perdagangan menurut Duarte Barbosa, orang Portugis yang melihat langsung proses pembuatan guci dari tanah liat di sana.

Saking sohornya sebagai sentra pembuatan guci,sampai-sampai orang Inggris menyebut guci sebagai martavan. Itu untuk mengenang kota Martaban yang kini berganti nama Mottama; Pegu, berganti Bagu.

Fungsi guci tak melulu berkaitan dengan kehidupan manusia, tetapi juga kematian.Buktinya masyarakat Dayak menggunakan tempayan untuk menyimpan tulang kerabat dan handai tolan yang meninggal dunia.

Tempayan berisi tulang itu diletakkan di lamin alias rumah panjang. Dari dalam guci, kebaikan hati kerabat yang telah berpulang itu tetap dikenang. Bahkan kematian pun tak juga memisahkan manusia dan guci.