Perburuan Ikan MasKoki Hingga Ke Negri China

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Pasar maskoki kelewat bagus,” kata Jap Khiat Bun. Setiap bulan eksportir kawakan di Cibinong, Bogor, itu mengirim 20.000 maskoki antara lain ke Perancis, Belanda, Italia, Australia, dan negara-negara di Timur Tengah. Jumlah itu hanya 20% dari total permintaan yang mencapai 100.000 ekor per bulan. Harap mafhum, mencari maskoki bermutu terlampau sulit.

Maskoki ikan abadi yang selalu diminta pasar dunia. Volumenya memang tidak banyak dibanding jenis tetra atau botia andalan Indonesia. Namun, hampir setiap eksportir menyertakan ratu ikan hias air tawar itu minimal sebagai pelengkap. Berdasarkan pengamatan Jap Khiat Bun, pasar maskoki dari tahun ke tahun tumbuh sebesar 20%. Ia diminati di banyak negara di Amerika, Eropa, Australia, bahkan Asia yang disebut-sebut sebagai gudangnya maskoki.

Bacaan Lainnya

Harlequin Aquatics rutin mengekspor 4 sampai 5 kali dalaTn sepekan sebanyak 7 sampai 8 boks. ‘Setiap boks rata-rata berisi 100 ekor. “Pada September pengiriman biasanya meningkat hingga 10 sampai 12 boks per kirim,’’ ujar Hendra Iwan Putra, direktur. Para pembelinya di Amerika, Eropa Timur, dan Australia menginginkan ikan berukuran 5 sampai 12 cm. Sementarajenis tidak dibatasi. Kecuali Lithuania yang lebih banyak meminta oranda.

Permintaan Yang Tak terlayani

“Angka permintaan ekspor maskoki sebetulnya besar, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa,” ungkap Iwan Dermawan, managing director PT Tropical Fish Indonesia. Sebulan lalu pelanggan dari Jerman datang ke farm di Cariu, Bogor, minta pasokan 30.000 ekor, di antaranya mutiara, tosa, lion head, bubble eye, dan red cap.

Terkabul? Jelas, tidak. Sebab, untuk memenuhi pengiriman rutin seminggu 1 sampai 2 boks saja/berisi sekitar 40 sampai 60 ekor/boks, perusahaan yang berkantor di Cibubur itu kelimpungan. Tulungagung satu-satunya sentra yang menjadi tumpuan para eksportir tak sanggup menyediakan maskoki kualitas ekspor. Maskoki untuk ekspor harus berwarna cerah, tubuh bulat, sirip utuh dan mekar, serta daya tahan tinggi.

Para eksportir bukannya berpangku tangan. Pada 2000 Jap Khiat Bhun membagikan puluhan induk asal Cina kepada 3 pengepul di Tulungagung yang selama ini memasoknya. Oleh mereka “paket” itu diteruskan ke peternak. Meski kualitas meningkat, tetap saja belum dapat memenuhi permintaan.

Langkah serupa ditempuh YB Hariantono, ketua Klub Maskoki Jakarta. Ia pernah menyodorkan indukan impor kepada beberapa peternak di Tulungagung. Kelak produksi ditampung untuk kemudian disalurkan kepada pelanggan. Namun, harapannya tak terwujud.

Berburu ke Cina

Peluang itulah yang dicium Iskandar di Ciledug , Tangerang. Pemilik Metro Lou Han itu sejak awal 2003 rajin menyambangi Cina. Di balik obsesi menjadi penjual terbesar ikan hias, Is, sapaan akrab, terselip niat mengangkat pamor maskoki lokal. Ekspor maskoki selama ini terhambat kualitas. Iwan Dermawan merasakan betul akan hal itu. Pengalaman menunjukkan, hanya 10% pasokan peternak yang layak ekspor.

Menurut Khiat Bun ikan bermutu A di sini setara dengan B atau C di Cina. Apa boleh buat, demi mutu Yongki pun berburu ke Cina. Ketika Kami berkunjung ke kiosnya di Gadingserpong, Tangerang, tampak rak-rak yang berbaris rapi sudah didominasi akuarium maskoki. Itu untuk melayani permintaan pasar lokal yang mulai menggeliat.

“Sejak Maret, penjualan maskoki menanjak 10 sampai 20% per bulan,” ujar pemilik Aquanesia itu. Setiap bulan teij ual 50 sampai 100 ekor berukuran besar, 10 sampai 15 cm, dan 200 ekor berukuran 5 cm. Maskoki-maskoki impor dari Cina dan Thailand itu dijual mulai dari Rp75.000 sampai Rp3-juta per ekor, tergantung jenis dan ukuran. Yangjelas, jenis ranchu dibandrol lebih mahal, 2 sampai 3 kali lipat daripada tosa atau mata balon.

Di Cina peternak mampu menghasilkan minimal 80% kualitas ekspor. Sisanya, 20% terserap pasar lokal. Dan hanya 10 boks yang dipasok ke para pedagang di Fang Cun,” ujar Lou Rule, peternak terbesar kedua setelah Tung Hoi Ltd di Guangzhou

Farmnya seluas 8 ha berlokasi di Tung Kwan Se Lung, Shipai, Dangguan, terlihat kosong saat Kami berkunjung pertengahan Juni. Itu lantaran 60% baru dipanen beberapa hari lalu. Kolam-kolam berukuran 20mxl0mxl,5m yang masih berisi ikan dibiarkan menghijau. Itulah teknik pria berbadan tegap agar warna maskoki lebih cerah. Di kolam-kolam yang dibangun pada 1990 itu 40 jenis maskoki dibesarkan.

“Maskoki dari Cina bagus karena di sana memang tempatnya,” tutur Iskandar. Pertengahan Juni ia datang ke Fang Cun, pusat perdagangan ikan hias di Guangzhou. Sebanyak 11 boks maskoki beragam jenis berukuran 6 sampai 14 cm di boyong ke tanah air.

Hong Chu Cheng, peternak di Tung Kwan Kao Pu, Dangguan, memproduksi lion head alias tze tou, red cap (hong tou),black moor (hni lung), kaliko (tee wu kwa liu ching), lion head merah bertubuh merah putih (hong pai), dan mata balon (soe shing) di kolam seluas 2 ha. “Farm saya termasuk kategori kecil. Setiap minggu hanya memanen 2 sampai 3 boks untuk dikirim ke eksportir,” ujar Hong.

Manjakan pelanggan

Tak hanya Iskandar dan Yongki, para hobiis dan pedagang lain pun berhamburan ke Cina berburu maskoki. Ahim Hindartha dan YB Hariantono, semuanya di Jakarta, kerap bolak-balik mengunjungi Fang Cun dan farm-farm maskoki di seputar Guangzhou.

Sebuah gerai milik Xia Lu berukuran 3 m x 3 m di Fang Cun selalu dipadati pembeli dari mancanegara. Lebih-lebih pada Sabtu dan Ahad. Maskoki mutiara, pompon, oranda, red cap oranda, dan mata balon mengisi akuarium. Lu, perempuan berusia 30 tahun, itu menjualnya Rp20.000 per ekor berukuran 15 cm. Lebih kecil daripada itu, 5 sampai 8 cm, dihargai Rp8.000 sampai Rp 10.000, dan yang terkecil 2 sampai 3 cm Rp3.000 sampai Rp5.000 per ekor. “Setiap minggu terjual rata-rata 1.000 ekor,” kata Xia Lu.

Hindartha datang ke Thung Hoi, Cina sebulan sekali sejak Maret 2003 semata untuk memenuhi keinginan pelanggan. Tung Hoi adalah farm maskoki terbesar dan termodern di Cina. Total area 9 ha, terbagi di 3 lokasi di Guangzhou

“Harga agak mahal, tapi maskokinya prima,” tambahnya. Namun, untuk membeli Carrasius auratus dari peternak besar di Cina sulit karena mereka sangat selektif dan profesional. Pengalaman Hindharta, sejak melacak alauaat lewat internet hingga terjadi transaksi butuh waktu 3 bulan. Selama itu ayah 2 anak itu intensif berkorespondensi. “Kita diminta mengirimkan data farm atau kios selengkap-lengkapnya. Misal, jarak tempuh dari bandara, kondisi air, dan jumlah karyawan,” tambahnya.

Maskoki yang didatangkan berukuran 12 sampai 30 cm (diukur dari ujung ekor hingga mulut). Terbanyak ukuran 12 sampai 13 cm karena paling laku. Ia tak mengambil yang kecil, 6 sampai 7 cm, lantaran daya tahan kurang sehingga banyak yang mati dan warna sering berubah. Untuk memanjakan pelanggannya yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, anak ke-9 dari 11 bersaudara itu memasukkan 2 sampai 3 boks setiap bulan.

Tingkatkan kualitas

Perburuan ke negeri Tirai Bambu itu, lantaran, “Maskoki lokal dari Tulungagung tak bisa mengisi hobiis untuk kalangan menengah atas karena mutu rendah,” ujar Hariantono. Menurut Hariantono sudah waktunya peternak maskoki Indonesia memperhatikan kualitas. Sebab, pasar domestik cukup besar, apalagi pasar dunia.

“Kalau kualitas bisa diatasi, pasar luar negeri tak ada masalah. Maskoki ibarat kacang gorengnya ikan hias,” kata Iwan Dermawan. Disinyalir sulitnya mendongkrak kualitas karena tak ada kendala dalam pemasaran. Serapan pasar lokal mencapai 90%, sehingga para peternak merasa tak hirau terhadap peningkatan kualitas. Makanya, dari Indonesia hanya ada 2 jenis yang bermutu ekspor yakni tosa dan mutiara.

“Ngapain menggunakan induftan impor, harganya mahal. Toh harga jual sama saja,” ungkap Sudomo, ketua Kelompok Tani Mina Indah. Peternak sejak 1985 yang kini mengelola 1/4 ha kolam itu mudah saja menjual maskoki. Jenis apa pun yang diproduksi dicari pengepul.

Apalagi pada Juni sampai Agustus, para pengepul berebut karena produksi sedikit. Perbedaan suhu siang dan malam tinggi menyebabkan telur yang menetas sedikit. Kalaupun jadi burayak, angka kematian besar. “Jago-jagonya merawat, pada bulan-bulan itu tingkat kelulusan burayak hingga siap jual umur 2 sampai 3 bulan hanya 25%,” kata Sayuti, peternak di Desa Bangoan, Kedungwaru, Tulungagung. Itulah kendala alam yang hingga sekarang belum dapat diatasi.

Yuwono, Sukarman, dan Komarodin, para pedagang besar di Tulungagung membenarkan kesulitan mendapatkan maskoki. Setiap tahun mereka mengalami masa paceklik produksi selama 2 sampai 3 bulan. Untungnya pada saat itu permintaan juga menurun seiring melemahnya daya beli masyarakat. Pedagang besar di Bangoan itu memasok 5.000 maskoki per minggu ke Cirebon, Sumedang, dan Bandung setiap Jumat.

Bangkit

Pemasaran maskoki sempat tersendat ketika lou han mewabah, tapi sekarang mulai kencang lagi. “Kemungkinan harga pun naik, di tingkat peternak maskoki berukuran 5 sampai 7 cm dari Rp 1.000 jadi Rp 1500 sampai 2.000/ekor,” kata Yuwono ketika ditemui di Desa Ringinpitu, Kedungwaru, Tulungagung. Lelaki yang memasok bandar dan sebagian besar kios-kios di seluruh Jakarta itu menyerap 6.000 sampai 10.000 ekor/minggu berukuran 5 sampai 15 cm untuk 2 kali pengiriman dalam sepekan.

“Semua jenis maskoki laku. Cuma untuk mata balon dan ranchu sulit didapat,” ujar Sukarman, peternak merangkap pemasok salah satu bandar di Ciracas, Jakarta Timur. Ranchu dan mata balon jarang yang mengusahakan lantaran keterbatasan induk dan produktivitas rendah. Sekali memijah paling 500 ekor; maskoki lain mencapai 2.000 ekor. Tidak aneh jika harga ranchu dan mata balon 3 kali lipat tosa atau mutiara.

Di 8 kolam berukuran 6 m x 12 m milik Sukarman di Desa Ringinpitu tidak ada ranchu maupun mata balon. Bahkan sejak mulai beternak pada 1993 hingga sekarang ia belum pernah mencoba kedua maskoki itu.

Fenoma itulah yang mendorong masyarakat Tulungagung bergeming mengusahakan maskoki. Setidaknya 20-juta ekor/per tahun (senilai Rp 10-miliar) membanjiri kota-kota besar di Jawa dan luar Jawa. Potensi itu harus terus dikembangkan hingga bisa merambah pasar dunia. Tidak perlu takut dengan Cina, karena maskoki Indonesia tropical gold fish, adaptif di daerah dingin maupun panas. Sementara dari Kanada, Cina, Jepang, dan Israel maskoki cold water fish hanya baik di daerah dingin.

Keistimewaan itu menjadi sia-sia, jika peternak tak menghiraukan mutu. Pasar ekspor dan domestik yang menganga butuh imbangan ikan jempolan. Peningkatan mutu adalah kata kunci yang tak dapat ditawar lagi.

Pos terkait