Pola Asuh Orang Tua Dalam Mendidik Anak

pola asuh orang tua dalam mendidik anak di rumah

Tindak kekerasan tak hanya dilakukan orang-orang dewasa. Sekarang ini sering dijumpai tindak kekerasan dilakukan anak-anak terhadap teman-temannya. Seperti kasus yang dilakukan Tug(13) terhadap teman sekolahnya Bastomi (13).

Yang menjadi masalah ialah, mengapa tindak kekerasan bisa mewarnai kehidupan anak-anak? Kemudian, bagaimana peran dan Tanggung jawab seorang guru dalam mendidik anak? Sehubungan dengan masalah itu, berikut hasil wawancara dengan beberapa pakar.

4 jenis pola asuh Anak

Dalam Ilmu Psikologi terdapat 4 tipe pola asuh orang tua terhadap anak – permisif, otoritatif, lalai (tidak peduli terhadap anak) , dan otoriter – didasarkan pada karya psikolog perkembangan Diana Baumrind dan peneliti Stanford Eleanor Maccoby dan John Martin.

Setiap jenis dan pola asuh orang tua memiliki dampak yang berbeda pada perilaku anak-anak dan dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu, seperti responsif (seberapa hangat dan sensitif orang tua terhadap kebutuhan anak-anak mereka) dan tuntutan (tingkat kontrol yang diberikan orang tua pada anak-anak mereka dalam upaya untuk mempengaruhi anak-anak mereka) perilaku mereka).

Lima faktor utama Pemicu Anak Berlaku agresif

DR H Arief Rachman, M Pd : “Jangan Hanya Menyalahkan Pendidik” Tindak kekerasan yang marak dilakukan anak usia dini menurut pakar pendidikan, DR H Arief Rachman, M Pd, dipicu oleh lima faktor utama.

  1. Faktor psikologis anak.Ketidakstabilan jiwa anak sangat berpengaruh pada pembentukan pribadinya. Anak yang memiliki sifat dasar pendendam, pemarah, tingkat emosional tinggi akan mendorongnya untuk berbuat sesuatu hal yang kurang baik.
  2. Faktor pola asuh orang tua. Anak yang sering diperlakukan tidak adil dan sering dipukul tanpa sebab yang jelas akan membuat anak melakukan hal yang sama terhadap temannya atau bahkan terhadap adiknya sendiri. Baginya penyelesaian suatu masalah dilakukan melalui kekerasan.
  3. Faktor teman.Teman bermain juga menjadi salah satu unsur yang bisa mempengaruhi perkembangan anak. Jika sehari-hari anak terbiasa dengan lingkungan yang kasar maka sikap, perilaku dan tutur katanya pun otomatis akan terbawa kasar.
  4. Faktor sosial yang tidak adil.Seorang anak yang miskin dan memiliki rumah yang bersebelahan dengan tetangga yang memiliki rumah mewah, akan menimbulkan rasa ketidakadilan ekonomi dalam diri anak.
    Akibatnya anak akan mencari keadilan tersebut dengan jalan tidak benar, la akan menunjukkan jati dirinya dengan cara yang tidak wajar, seperti mencuri atau melakukan hal tidak baik lainnya.
  5. Faktor pengaruh media massa.Banyaknya tayangan atau media yang menampilkan kriminalitas akan mendorong anak untuk melakukan hal yang menjurus pada tindakan kriminal. Bahkan menurutnya, permainan komputer atau sejenisnya yang berbau sadisme pun akan berakibat buruk terhadap perilakunya.

Menurut Arief Rachman, faktor pola asuh orang tua dalam mendidik anak yang terakhir inilah yang paling berpengaruh. Menurut pengamatannya, hampir 80% anak mengatakan bahwa dirinya melakukan tindakan kriminal setelah melihat tindakan kriminal dari media.

Untuk mencegah tindak kekerasan pada anak-anak, perlu adanya pola dalam mendidik anak secara sistematis. Orang-orang yang terlibat dalam program pola asuh orang tua yang baik, tidak hanya pihak sekolah saja, tetapi juga orang tua dan masyarakat.

Akan sia-sia jika apa yang diajarkan dan diterapkan di sekolah tidak dilanjutkan pelaksanaannya di lingkungan rumah dan masyarakat.

Sama halnya dengan budi pekerti. Meskipun dimasukkan dalam pelajaran tapi tidak ditanamkan pada anak-anak saat di rumah atau lingkungan maka semua itu tidak akan berjalan dengan baik.

Akhirnya anak akan berperan ganda, ia akan berlaku baik jika berada di sekolah saja. Perlu adanya kesamaan tata krama di sekolah, rumah dan lingkungan, tegas Arief Rachman.
Oleh karena itu agar tidak menyalahkan pihak sekolah atau guru seratus persen jika ada perilaku anak yang menyimpang.

Pihak pertama yang mengasuh dan mendidik anak adalah orangtua, bukanlah sekolah atau masyarakat. Untuk mencegah perilaku yang lebih buruk pada anak, diperlukan pengendalian dan pengawasan yang ketat dari semua pihak.

Menurutnya, jika ada seorang anak yang berperilaku buruk perlu diselidiki apa penyebab utamanya. apakah dari kesalahan pola asuh orang tua? Apabila dari faktor teman maka ia harus menghentikan pertemanan tersebut, tapi jika dari keluarga diperlukan komunikasi yang baik antara anak, orang tua dan sekolah.

Sedangkan jika pemicu muncul dari kepribadiannya, maka perlu ditanamkan oleh guru dan orang tua pada anak tersebut bahwa sifatnya itu kurang baik.

anak

Dr Seto Mulyadi, Psikolog: “ Anak Meniru dari Lingkungan”

Pengaruh Lingkungan Sekitar

Menurut psikolog Dr Seto Mulyadi. beberapa kasus tindak kekerasan yang dilakukan anak dapat diindikasikan sebagai gejala meningkatnya agresivitas pada anak.

Menurut Kak Seto, begitu panggilan akrab Seto Mulyadi, banyak faktor yang bisa menyebabkan anak melakukan tindak kekerasan. Namun, satu yang paling menentukan dalam keberhasilan mendidik anak ialah pengaruh lingkungan sekitar.

Perlu dimengerti, dalam diri anak ada kencenderungan untuk meniru apa yang dilihat dari lingkungan sekitar. Jika lingkungan sekitar merupakan lingkungan dimana sering terjadi tindak kekerasan, maka memungkinkan anak meniru hal serupa

“Saya melihat di beberapa daerah konflik seperti Aceh dan Atambua, banyak anak yang terkena imbas konflik tersebut. Misal saat anak disuruh menggambar dia lebih suka menggambar pembunuhan. Atau anak kelas 1 SD memukul temannya,” jelas Kak Seto.

Proses meniru itu, menurut Kak Seto, tak hanya dari lingkungan saja, tetapi juga karena anak meniru dari media masa, misalnya TV. Banyaknya stasiun-stasiun televisi yang menyajikan film-film kekerasan, secara tidak disadari memberikan contoh yang buruk pada anak untuk melakukan hal serupa.

“Jika setiap hari anak menonton hal-nal yang berbau kekerasan hampir bisa dipastikan si anak akan meniru melagukan hal seperti itu,” jelas Kak Seto.

Karena itu, Kak Seto sangat menyesalkan media massa yang menyajikan hal-hal yang berbau kekerasan pada anak.

Pola asuh orang tua yang tepat dalam mendidik anak sangat penting Untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan pada anak, menurut Kak Seto. hal itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Artinya, hal itu tidak menjadi tanggung jawab pendidik semata dalam mengedukasi, tetapi juga tanggung jawab orang tua dan masyarakat.

Pihak sekolah harus memberikan kurikulum yang baik mengenai pola asuh orang tua yang memungkinkan anak tidak stres akibat beban pelajaran yang berat. Juga perlu adanya upaya dalam mendidik anak melalui pelajaran tentang budi pekerti.

Kemudian, untuk orang tua, harus mampu menciptakan lingkungan rumah yang nyaman dan mampu memberikan perilaku teladan bagi anak.

Bagi masyarakat juga harus memberikan contoh perilaku yang baik, termasuk media masa untuk tidak menyiarkan film-ilm anak yang berbau kekerasan