Anton-Nb

Ramuan Alami Lawan Tanding Kanker Nasofaring

Pendulum jam dinding itu baru saja berdentang delapan kali. Seperti malam-malam sebelumnya, Bramantyo Wisesa yang bersangkutan enggan disebut namanya memasuki ruang doa di dalam kamar. Belum juga doa dipanjatkan, gumpalan darah mengucur deras dari kedua lubang hidung.
Tangan dikatupkan dan didekatkan ke hidung agar darah tak berceceran. Peristiwa pada awal Januari setahun silam itu menandai terjadinya kanker nasofaring (nasopharynx cancer)[efn_note]What Is Nasopharyngeal Cancer? https://www.cancer.org/cancer/nasopharyngeal-cancer/about/what-is-nasopharyngeal-cancer.html. Accessed 26 Mar. 2021.[/efn_note] di saluran napas Bramantyo.
Untuk mengatasi darah yang bercucuran, pengusaha kontraktor itu bergegas ke kamar mandi. Berkali-kali ia mengguyur kepala dengan air. Sayang, upaya itu tak membuahkan hasil. Hampir 5 jam lamanya darah bagai tak terbendung. Pukul 01.00 dinihari seorang tetangga memberikan 2 lembar daun sirih Piper betle [efn_note]Tedjasulaksana, Regina, et al. Effectivity of Betel Leaf (Piper Betle L.) Gel Extract in Shortening Bleeding Time After Deciduous Tooth Extraction. 2017. core.ac.uk, doi:10.15562/bmj.v6i1.374.[/efn_note].
Kerabat lada itu digulung memanjang. Bagian ujung tangkai dimasukkan ke lubang hidung. Setengah jam berselang aliran darah terhenti. Meski demikian Bramantyo tak mampu memejamkan mata. Ia terjaga lalu duduk di tepi ranjang. Namun, itu hanya sesaat.
Ketika daun sirih dilepas pada pukul 03.00 darah mengucur lebih deras. Meski demikian, “Saya menganggap mimisan biasa. Saya ngga berpikir yang aneh-aneh,” ujar ayah 3 anak

Frekuensi Mimisan Makin meningkat

Nasopharyngeal  Ramuan Alami Lawan Tanding Kanker NasofaringJika semula keluarga tenang, pagi itu berubah panik. Itulah sebabnya saat fajar menyingsing di ufuk timur Bramantyo segera dibawa ke Rumah Sakit Siloam Gleneagles di Tangerang. Di ruang gawat darurat ia berbaring. Dokter yang merawat menampon memasukkan gulungan kain kassa yang telah dicelupkan dalam larutan obat ke kedua lubang hidung.
Untuk sementara ia hanya diperkenankan berbaring. Darah memang berhenti mengalir sehingga ia diizinkan pulang. Namun, usai makan siang pada keesokan hari darah kembali menderas. Pria 45 tahun itu mendatangi dokter ahli THT. Perlakuannya sama: ditampon. Celakanya, frekuensi pendarahan malah kian meningkat. Hampir setiap jam darah mengucur.
Apa boleh buat, ia akhirnya memutuskan opname. Lubang hidung kembali ditampon. Beberapa jam kemudian aliran darah memang berhenti dari hidung, tetapi dari mulut darah seperti digelontorkan. Penggantian tampon beberapa kali tak juga menyelesaikan masalah. Pikiran Bramantyo membuncah. Pria tinggi besar itu mendesak agar dokter ahli THT yang menangani harus diganti.

Sehari Habis 48 batang

Pada hari ke-5 opname, Bramantyo diseasing. Hasilnya, ada massa di saluran pemapasan. Menurut dr Paulus Wahyudi Halim massa itu antara lain akibat merokok berkepanjangan. Maklum, Bramantyo memang tergolong perokok berat Sehari ia mampu mengisap 48 batang. “Kalau lagi mancing malah lebih banyak. Saya ngga merokok kalau lagi tidur,” tuturnya. Ia merokok sejak 1982 atau selama 20 tahun hingga ia terserang kanker nasofaring.
Ia tak pernah menduga di balik kenikmatan semu merokok, maut tengah menanti. Istrinya bukan tak pernah memperingatkan. Sayang, ia tak acuh. Untuk mengatasi ia mesti dioperasi. Namun, keluarga tak menyetujui jalan penyembuhan itu.
“Kakak saya bilang, Sudah jangan diselesaikan secara medis” ujar Bramantyo mengulang ucapan kakaknya. Malamnya dr Paulus Wahyudi Halim sebelumnya menangani gangguan ginjal Bramantyo dengan ramuan tanaman obat menjenguk. Setelah memeriksa seluruh rekor medis, ia menyarankan untuk pulang. “Jangan sampai terjadi penyinaran atau biopsi. Nanti malah ngga keruan,” ujar Paulus seperti ditirukan Bramantyo.

Kunyit putih

Catharanthus roseus Ramuan Alami Lawan Tanding Kanker Nasofaring
tapak dara

Dokter alumnus Universita’ Degi Studi Padova, Italia, itu mengecek kondisi Bramantyo. Kemudian ramuan terdiri atas daun benalu, daun dewa, tapak dara, dan rimpang temuputih diberikan. Paulus menambahkan meniran dan kejibeling untuk mengatasi gangguan ginjal. Semua bahan itu dicuci bersih dan direbus bersamaan. Dosis berubah-ubah, “Tergantung kebutuhan tubuh,” tutur dokter ahli bedah itu (baca boks: Kuartet Antikanker).
Ramuan itu diminum 3 kali sehari masing-masing 1/3 gelas setelah makan. Sepekan kemudian darah keluar lagi meski hanya sedikit. Enam bulan berselang pendarahan itu tak pernah terjadi. Walau demikian sampai sekarang Bramantyo tetap mengkonsumsi ramuan itu. Kanker nasofaring merupakan tumor ganas. Nasofaring atau epifaring adalah bagian faring teratas.
Fungsi epifaring meneruskan udara pemapasan dari hidung ke laring. Epifaring terdiri atas 3 lapisan yakni selaput lendir, otot, dan jaringan ikat.
Menurut dr Setiawan Dalimartha ras Mongoloid paling banyak terserang kanker itu. Laki-laki terutama golongan umur 40 sampai 60 tahun 2 sampai 3 kali lebih rentan ketimbang perempuan. Makanan yang diasin, dipanggang, dan makanan awetan.

Kuartet Antikanker

Setiap mengobati, dr Paulus Wahjudi Halim mengecek kondisi kesehatan dengan menangkap gelombang yang dipancarkan tubuh pasien. Cara itu dikenal sebagai radiastesi medis.
Menurut dokter ahli lepra itu tubuh manusia memberi sinyal yang dapat ditangkap. “Dengan radiastesi medis masalah kesehatan seseorang dapat ditelusuri sampai ketika ia masih dalam kandungan.”
“Obat juga sama. Tumbuhan akan diuraikan dalam bentuk ion yang nantinya membuat seimbang sel-sel yang semula tak terkendali,” ujar kelahiran Padang 10 April 1946. Itulah sebabnya jenis tumbuhan dan dosis yang diterapkan untuk pasien berlainan kendati penyakit sama. Pada kasus Bramantyo misalnya, ia menganjurkan agar pasien berkonsultasi setiap bulan.

Komplementer

temuputih Ramuan Alami Lawan Tanding Kanker Nasofaring
Kunyit putih

Setelah mengecek kondisi kesehatan, ia memberikan resep baru. Tumbuhan yang digunakan boleh sama, tetapi seringkali dosisnya berubah. “Setiap tubuh, mempunyai bioritme atau jam biologis tersendiri. Masing-masing individu pada jam tertantu butuh lebih banyak, tetapi pada jam lain hanya membutuhkan sedikit (dosis, red),” ujar ayah 4 anak itu. Artinya, dosis yang diberikan harus sesuai kebutuhan.
Suami Losjie Andriyani itu mencontohkan, pemberian ramuan pada pukul 10.00 dengan dosis sepersepuluh saja, efeknya sama dengan 10 kali lipat jika diberikan pukul 12.00. Sebab, “Tubuh manusia bukan seperti mobil keluaran tahun tertentu yang mempunyai kesamaan karakter. Tapi manusia keluaran tahun segitu tak sama. Itulah sebabnya penanganan kanker sangat individual,” ujarnya.
Menurut Paulus pasien kanker di Indonesia yang dibedah hasilnya jelek. Angka kematian tinggi meski teknik bedah semakin maju. “Kita banyak gagal melawan kanker,” tutur dokter yang pernah bertugas di Uganda itu. Itulah sebabnya pengobatan komplementer sangat diperlukan untuk mengatasi kanker. Sebab, kalau mengandalkan, misalnya hanya jamu efeknya lambat Sementara pertumbuhan sel kanker sangat cepat.

Antikanker

Bahan ramuan yang digunakan Paulus umumnya sudah lama dikenal sebagai antikanker. Kunyit putih Curcuma zedoaria mengandung curcumol dan ecurdione. Sedangkan tapak dara Catharanthus roseus dimanfaatkan untuk kemoterapi. Anggota famili Apocynaceae itu mengandung lebih dari 70 macam alkoloid. Yang dikenal sebagai antikanker antara lain vinblastin, vinkristin, vinkadiolin, dan katarantin.
Daun dewa Gynura procumbens mengandung alkoloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Pada benalu setali tiga uang. Tumbuhan parasit itu mengandung quersitrin yang ampuh menghambat pertumbuhan sel kanker. Paulus memanfaatkan lebih dari 8 jenis benalu seperti benalu mangga, cemara, randu, dan teh. Jenis yang digunakan sesuai kebutuhan tubuh pasien.

Most popular

Most discussed