Ramuan Tradisional Larutkan Gula Darah

Gambar Gravatar
  • Whatsapp

Siapa sangka Soenyono bakal mengidap kencing manis. Sejak usia sekolah pria 54 tahun itu rajin berolahraga. Semasa sekolah ia pernah membuka cabang perguruan pencak silat. Di lingkungan PT Telkom tempatnya bekerja ia aktif membina olahraga beladiri Taekwondo. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan setiap 6 bulan membuktikan tubuhnya tak bermasalah. Gula darah puasanya hanya berkutat pada angka 90 sampai 100 mg/dl.

Kecelakaan lalulintas pada pertengahan 1999 disinyalir sebagai awal penderitaan. “Benturan hebat di bagian dada saat kecelakaan diduga menyebabkan organ dalam tubuh terganggu,” papar Soenyono kepada Kami. Buktinya, setelah kecelakaan itu jantung Soenyono sampai dikateter lantaran terganggunya fungsi organ itu.

Bacaan Lainnya

Sejak saat itu Soenyono cepat merasa lelah dan lesu. Aktivitas olahraga juga tak lagi rutin dilakukan. Padahal, pola makan tak pernah dikontrol. “Semua makanan kesukaan tetap dimakan,” tuturnya. Mulai dari manisan, kue, hingga sate kambing, semua pasti disambar. Minum sore pun selalu ditemani kopi atau teh manis bergula tebu. Tanpa sadar ia pun mulai menimbun gula dalam darah.

Diet karbohidrat


Suatu saat ia hendak berbelanja ke Plaza Hero, Bekasi, mendadak kepalanya terasa pusing. Tangan tiba-tiba mati rasa tanpa sebab, la pun meminta sang isteri mengantarkan ke rumah sakit terdekat Mitra Keluarga Bekasi. Namun, baru saja menjejakkan kaki di depan gerbang rumah sakit itu, Soenyono jatuh lemas. Ia langsung dibawa ke bagian unit gawat darurat. Pemeriksaan tim medis menyimpulkan, ia mengalami serangan jantung dan harus menjalani rawat inap selama 14 hari.

Soenyono menjalani pemeriksaan medis lengkap. Vonis dokter, ia mengidap kencing manis. Hasil Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) menunjukkan, kadar glukosa darah puasa mencapai 238 mg/dl. Padahal, dalam kondisi normal kadar glukosa darah puasa hanya 100 sampai 140 mg/dl. Barulah Soenyono menyadari keluhan yang selama ini dirasakan adalah gejala penyakit mematikan itu.

Sejak itulah mantan Manager Sekuriti PT Telkom itu harus melakukan diet ketat. Konsumsi nasi ditakar, tak boleh lebih dari 200 g. Ia dilarang mengkonsumsi gula murni. “Saya hanya boleh mengkonsumsi gula reduksi,” paparnya. Buah-buah lezat seperti nangka dan durian juga terlarang dimakan. Sate kambing yang selama ini menjadi makanan favoritnya terpaksa ditinggalkan.

Semua saran dokter diikutinya, termasuk melakukan olahraga ringan dan pemeriksaan rutin ke dokter langganan. Namun, undangan makan bertubi-tubi dari para kerabat dan relasi, membuatnya tak mampu mengontrol makan. Bahkan, undangan makan yang menumpuk di penghujung 2003 memaksanya harus menginap di rumah sakit lantaran kadar gula darah naik sampai 300 mg/dl.

Sehari 3 kali


Saat tergolek lemas di balik dinding rumah sakit itulah Soehanas sang mertua yang berdomisili di Malang, Jawa Timur, datang menjenguk. Setelah tahu Soenyono mengidap kencing manis, ia menyarankan pengobatan dengan ramuan tradisional. Di dalam ramuannya Soehanas menggunakan sambiloto Andrographis paniculata, kumis kucing Orthosiphon aristatus, kulit pule Alstonia scholaris, biji duwet Syzygium cuminii, dan lidah buaya Aloe vera.

Sayangnya, ketika dihubungi Kami pria 8 anak itu tak bersedia mengungkapkan dosis obat. “Dosis dan jenis tanaman tergantung kondisi tubuh pasien. Kalau ada komplikasi penyakit hati misalnya, kumis kucing tak boleh dipakai,” paparnya.

Semua bahan itu dimasukkan ke dalam selongsong kapsul sebelum diminum. Alasannya, “Rasa bahan-bahan itu benar-benar pahit,” ungkap Soenyono. Hanya segelas lidah buaya yang langsung diminum. Lidah buaya direbus dalam 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Tepung sambiloto dan kumis kucing dioplos dengan perbandingan 3:1, lalu dimasukkan ke dalam kapsul. Sedangkan kulit pule dan biji duwet dikapsulkan terpisah. Semua obat diminum 3 kali sehari.

Khasiat ramuan itu ternyata bukan sekadar isapan jempol. Buktinya, kadar gula darah berangsur normal setelah mengkonsumsi ramuan obat itu. Memang, penurunan tidak berlangsung drastis, melainkan bertahap. Seminggu setelah minum obat, kadar gula turun menjadi 190 mg/dl. Pada minggu kedua kadar gula darah tinggal 160 mg/dl. Kadar gula benar-benar mencapai titik normal hanya mencapai 146 mg/dl setelah 1 bulan mengkonsumsi ramuan tradisional.

Kini ia bisa melakukan aktivitasnya seperti semula. Bahkan, makanan kegemarannya pun mulai berani disentuh. Toh, meski melanggar pantangan, “Gula darah hanya naik paling tinggi 186 mg/dl,” katanya. Kalau sudah begitu, ia pun kembali minum ramuan itu untuk menurunkan kadar gula darah.

Pakai Tanaman Bersifat Dingin!

Menurut R Broto Sudibyo, banyak tanaman berkhasiat menyembuhkan kencing manis. Sambiloto Andrographis paniculata, duwet Syzygiumcuminii, pule Alstonia scholaris, kumis kucing Orthosiphon aristatus dan lidah buaya Aloe vera hanya beberapa di antaranya [1].

Menurut dr Setiawan Dalimartha, proses hipoglikemia(menurunkan kadar gula dalam darah, red) belum jelas. Namun, berdasarkan sudut pandang pengobatan timur, diabetes muncul akibat kekurangan yin (air) pada ginjal. Disertai pula makan tidak teratur dan emosi labil, sehingga yin makin berkurang dan meningkat. Karena itu pakar pengobatan tradisional timur menggunakan tanaman obat bersifat dingin untuk mengatasi kencing manis. Umumnya tanaman obat bersifat dingin memiliki rasa pahit.

Sambiloto, duwet, pule, kumis kucing, dan lidah buaya, semuanya mengandung zat pahit. Sambiloto misalnya, mengandung zat pahit andrografolid yang memiliki efek hepatoprotektor. la juga memperbaiki fungsi pankreas dan menurunkan gula darah. Bersama kumis kucing efek hipoglikemik sambiloto dapat meningkat 1,5 kali.

Biji duwet mengandung asam betulinat, eugianin, friedelin, epifriedelanol, stigmasterol, asam asetil oleanolat,asam elagat, mirisetin, cyaniding rhamno-glucoside, petunidin, maluidin, dan jambolin. Menurut Dorling Kindersley dalam The Encyclopedia of Medicinal Plants, senyawa kimia yang dikandungnya merangsang pankreas memproduksi Insulin dengan efek mengurai gula darah.

Petai cina antara lain mengandung alkaloid ferrodxin, D-ononitol, leucenol, quercetagetin, dan patuletin. Kulit batang pule mengandung polifenol,flavonoid, saponin, detamin, echitamine, dan zat pahit: echicerine, echitine, dan echeretine. Sedangkan lidah buaya kaya aloin, barbaloin, isobarbaloin, aloe-emodin, aloenin, dan aloesin. Namun, semuanya memberikan efek berbeda terhadap pasien penggunanya.

Broto Sudibyo, menuturkan senyawa pahit memang berperan meningkatkan jumlah insulin yang mengurai gula darah. “Zat pahit dapat memperbaiki fungsi pankreas serta merangsang produksi insulin untuk mengurai gula dalam darah,” paparnya. Sedangkan sifat sejuk dan dingin meredam panas yang muncul akibat terganggunya fungsi organ tubuh. Namun, untuk memberikan efek terbaik yang saling mendukung, Broto menyarankan kombinasi tanaman obat. Karena alasan itu pula Soehanas mengkombinasikan beberapa tanaman untuk pengobatan diabetes.

Referensi

[1]Sudibyo, R., 2006. Ramuan tradisional ala Eyang Broto. Jakarta: Penebar Swadaya.

Pos terkait