Anton-Nb

Reptil Purba Rindu Pantai

“Kalau telur terkena air laut, banyak yang ngga jadi (menetas, red),” kata Andi. Dekatnya jarak antara sarang dan gelombang itulah yang membuat Andi cemas. Selain lokasi sarang, “keanehan” lain adalah posisi penyu yang menghadap ke pantai (arah selatan). Biasanya satwa berkarapas itu membelakangi pantai atau menghadap utara ketika bertelur. Andi menyimpulkan penyu itu baru sekali bertelur.
Pukul 22.35 WIB telur pertama keluar. Setelah itu susul-menyusul telur seukuran bola pingpong keluar dan jatuh di lubang sarang. Intervalnya hanya beberapa detik. Penyu tampak mengejan setiap kali bertelur. Sesekali terdengar suara mirip rintihan. Wajahnya kelihatan sedih, dari kedua mata tampak keluar air mata. Sebetulnya itu bukan air mata, tetapi cairan garam untuk menyeimbangkan kadar garam dalam tubuhnya.
Andi dan Bambang Sasongko Jati anggota staf TNMB, secara bergantian memungut telur itu. Begitu sebutir telur muncul, Andi dan Bambang langsung mengambilnya. Tujuannya ketika penyu herbivora itu selesai bertelur, semua sudah terangkat. Malam ini penyu berkarapas sepanjang 102 cm dan lebar 95 cm itu menghasilkan 60 butir. Naluri mengubur sarang tetap terpelihara, meski semua telur sudah diambil. Keempat sirip penyu secara bergantian menimbun lubang peneluran.
Jika lubang yang sebenarnya tertutup pasir dan rata dengan pasir di sekitarnya, induk penyu membuat gundukan sebagai kamuflase. Lokasinya di sekitar sarang sejati. Tujuannya satu: menyelamatkan calon generasi penerus itu. Pukul 00.15 WIB lubang dan sarang kamuflase sempurna ditutup. Sejak pembuatan sarang sampai penyu kembali ke laut kira-kira 2 jam 15 menit. Malam itu setidaknya 7 penyu hijau mendarat. Namun, tak semuanya bertelur karena sebagian memeti atau observasi lokasi sebelum bertelur.

Bertelur Pada Malam hari

Gambar telur111 1024x575 Reptil Purba Rindu Pantai
Penyu betina membutuhkan waktu 2 jam 15 menit sejak mendarat, bertelur, dan kembali ke lautan lepas

Penyu bertelur pada malam lantaran suhu dingin dan tanpa predator. Satwa itu mendarat setelah terjadi kopulasi 2 pekan sebelumnya. Sel sperma disimpan di oviduk sebelum membuahi telur. Proses pembuahan hingga mengerasnya cangkang telur memakan waktu 2 pekan. Kira-kira 2—4 pekan kemudian induk betina itu mendarat ke pantai untuk bertelur.
Setelah proses bertelur rampung, Andi men-tagging di sirip kanan depan. Tagging dilakukan pada penyu yang baru mendarat untuk pertama kalinya dan hanya sekali seumur hidup. Manfaatnya untuk mengetahui migrasi satwa yang menghuni bumi 150-juta tahun lampau. Penyu hijau yang berenang 2,5 km per jam itu kembali ke laut kemudian dijemput gelombang yang tak pernah lelah berkejaran. Di bawah siraman terang bulan, ia pergi meninggalkan pantai Sukamade.
Trubus kembali ke penginapan, 400 meter dari bibir pantai. Untuk tiba di lokasi peristirahatan, Trubus harus menaiki rakit bambu selebar 4 m. Sejak peristiwa tsunami pada 1994, pantai Sukamade yang semula menyatu dengan daratan hutan menjadi berubah. Kini pantai dan daratan dipisahkan oleh muara Sungai Sukamade selebar 15 meter. Panjang muara sungai kira-kira 3 km. Artinya sepanjang itu pula daratan dan pantai yang terpisahkan oleh sungai.
Lokasi peneluran penyu di Sukamade dicapai selama 7 jam dari Kabupaten Jember, Jawa Timur. Semula perjalanan amat nyaman dengan mobil Strada. Namun, menjelang pos Sarongan, ketua TNMB Ir Hary Subagiadi MSc menyarankan agar kami berganti mobil karena ada warga Sarongan berdemontrasi.
Mobil operasional TNMB bercat hijau itu akhirnya diparkir di pos Sarongan. Tim eksplorasi meneruskan perjalanan dengan truk yang melayani warga yang hendak ke Sukamade. Dari Sukamade truk hanya berangkat sekali pada pukul 08.00 WIB dan kembali dari Sarongan pukul 16.00 WIB. Beruntung^sore itu truk belum melintas sehingga kami dapat meneruskan perjalanan. Jalan di TNMB cuma pas untuk sebuah badan truk, meliuk-liuk, dan berbatu-batu. Oleh karena
itu laju truk amat pelan sekitar 5 km per jam sehingga jarak 15 km ditempuh selama 4jam.
Selain ke TNMB, 3 hari berselang tim eksplorasi juga mengunjungi Taman Nasional Alaspurwo (TNAP), Kabupaten Banyuwangi. Lokasi peneluran di Ngagelan dicapai 4jam dari pusat pemerintahan kabupaten di ujung timur Pulau Jawa itu. Malam purnama April 2007 itu Suhadi Ponihadi, PEH TNAP, menemukan 3 penyu abu-abu atau lekang Lepidochelys olivacea yang bertelur di blok Pancur.
Masing-masing di HM 52 sebanyak 54 butir, HM 55 (115 butir), dan HM 135 (95 butir). Satu HM setara 1 km. Pada musim bertelur, penyu betina rata-rata Dari 7 spesies penyu di dunia, ukuran lekang terkecil. Bobot dewasa cuma 30 kg sehingga lebih cepat bergerak di pasir. Jenis terbanyak penyu yang mendarat di TNAP memang penyu lekang dan penyu belimbing Dermochelys coriacea. Ada pula penyu sisik Eretmochelys imbricata yang bertelur di sekitar rerumputan di tepi pantai, tetapi frekuensi pendaratannya amat jarang. Begitu pun penyu hijau yang mampu menyelam 5 jam jarang mendarat di TNAP.

Perbedaan jenis penyu

Gambar telur1 1024x604 Reptil Purba Rindu Pantai
Pelepasan tukik ke laut lepas

Perbedaan jenis penyu yang mendarat di tepi pantai antara lain dipengaruhi oleh jenis pasir. Saat ini jenis penyu terbanyak yang mendarat dan bertelur di Alaspurwo adalah lekang rata-rata 312 ekor dengan 29.475 butir per tahun (lihat boks). Padahal, pada 1972 tak ada seekor penyu pun mendarat untuk bertelur di Alaspurwo. Saat itu lokasi peneluran penyu dimanfaatkan sebagai lahan budidaya palawija oleh masyarakat. Menurut Suhadi Ponihadi, setelah lahan palawija direlokasi dan sosialisasi konservasi penyu, akhirnya reptil itu kembali mendarat.
Baik di TNMB dan TNAP telur-telur penyu itu ditetaskan. Penetasan buatan relatif aman dari predator seperti biawak, anjing hutan, dan manusia. Di masyarakat berkembang mitos, khasiat sebagai afrodisiak telur penyu 6 kali lebih hebat ketimbang telur ayam kampung. Keruan saja itu tanpa dukungan riset ilmiah yang sahih. Mitos itulah yang mendorong terjadinya pencurian telur yang kemudian diperniagakan secara gelap.
TNMB menetaskan telur penyu hijau di ember plastik; TNAP, di tepian pantai dengan memagari lokasi penetasan. Andi mengambil ember-ember plastik berdiameter 80 cm dan mengisinya dengan pasir laut kering hingga berketebalan 5 cm. Kemudian 25 telur ditata memenuhi sebuah ember. Di lapisan atas, ia kembali memberi pasir laut kering berketebalan 20 cm. Ada pun di TNAP, Ponihadi membuat lubang-lubang berkedalaman 70 cm. Di lubang itu pria kelahiran 31 Desember 1949 meletakkan 100 butir.

Suhu Dan Jenis kelamin Penyu

Gambar telur11 848x768 Reptil Purba Rindu Pantai
Tukik-tukik berumur 70 hari—setelah plasenta lepas siap dilarung ke laut

Telur penyu menetas rata-rata 57 sampai 70 hari. Indikasinya pasir di lubang atau ember tampak amblas membentuk cekungan-cekungan. Itu akibat telur yang semula berbentuk bulatan, kemudian pecah. Daya ingat penyu sangat kuat. Terbukti ia akan bertelur di pantai tempat ia dulu “dilahirkan”. Ketika keluar sarang itulah para tukik alias anakan penyu menembus ketebalan pasir sehingga plasenta sepanjang 10 cm berwarna putih itu pun putus.
Suhu sangat mempengaruhi jenis kelamin tukik. Pada suhu rendah—kurang dari 29°C tukik cenderung berjenis kelamin jantan dan sebaliknya. Oleh karena itu penetasan pada musim hujan lebih banyak menghasilkan penyu jantan. Tukik-tukik itu kemudian diletakkan di bak penampungan berisi air laut. Setiap hari air diganti untuk mencegah serangan cendawan. Selain tukik penyu lekang, tukik spesies lain dibesarkan hingga 2—3 bulan.
Pakan tukik penyu lekang terbatas hanya ubur-ubur yang sulit diperoleh. Tukik penyu lain biasanya diberi pakan berupa ikan lemuru yang dicacah halus tanpa duri. Pada umur 3 bulan, tukik-tukik itu dilepas dan kembali ke habitat yang sesungguhnya: lautan. Sayang, tingkat kelulusan hidup tukik amat rendah. Dari 1.000 tukik yang sukses menjadi dewasa atau berumur 30—40 tahun untuk penyu hijau atau 15 tahun untuk penyu sisik, cuma satu ekor.
Ya, hanya seekor. Predator seperti elang dan ikan-ikan raksasa acap memangsa tukik. Itu memang alamiah. Namun, celakanya manusia yang mestinya melindungi satwa purba, malah turut menyantapnya.
Di Provinsi Bali, misalnya, sebelum 1995 penyu yang diperdagangkan mencapai 19.000 ekor per tahun. Satwa laut yang bernapas dengan paru-paru itu digunakan sebagai pelengkap upacara keagamaan. Setelah World Wild Fund WwF) mengkampanyekan pelestarian penyu, gubernur Bali menetapkan kuota 5.000 pertahun. Sekarang di Pulau Dewata itu tak ada lagi perdagangan penyu. Namun, di beberapa daerah penyu dan telurnya masih menjadi komoditas yang diperniagakan.
Menurut Dewi Satriani dari WWF penyu harus dilindungi lantaran keseimbangan ekosistem. “Penyu makan lamun sehingga mengontrol populasi lamun.” ujar alumnus Universitas Indonesia itu. Padang lamun yang terlampau padat menyebabkan beragam ikan tak dapat masuk ke dalamnya untuk mencari pakan. Jika perannya begitu penting, taksemestinya manusia membantai satwa yang lebih dulu ada sebelum dinosaurus itu. (Sardi Duryatmo)

Most popular

Most discussed