Service Dog: Sahabat Sejati Para Penyandang Cacat

Kevin, setia menunggu di luar toko

Setelah membayar semua belanjaan di kasir, Chika Yoshiara bergegas ke luar pasar swalayan. Tiba-tiba tak sengaja tas belanjanya terjatuh. “Toru (bahasa Jepang, ambil, -red),” perintahnya pada Kevin yang menunggu di luar. Labrador jantan itu langsung mengambil tas dan menyerahkan ke pangkuan empunya. Chika bukan pemalas yang enggan mengambil tas.

Kevin bukan pengantar sembarangan. Dia sangat terlatih membantu penyandang cacat. Chika Yoshiara sebagaimana ditulis oleh Tomohiro Takahashi dan Makoto Yamaguchi di Pasific Friend, menderita kelainan otak sehingga hidupnya tergantung pada kursi roda. “Sejak itu ia menjadi tertutup dan enggan ke luar rumah seperti layaknya anak kecil lain. Namun, kehadiran Kevin membuat aktivitas Chika kembali normal,” papar ibunya.

Bagi Chika, Kevin adalah sahabat dan asisten setia. Anjing itu dapat diperintah setiap saat dan berkomunikasi. Itu yang membuat gadis berumur 21 tahun itu lupa pada penyakit yang dideritanya.

Kevin terlatih sebagai anjing penuntun bagi orang cacat. Mereka sering menyebut service dog. Selain membantu aktivitas Chika, iajuga berfungsi sebagai pengawal. Ketika ada orang berniat usil, ia menggonggong membuat mereka kocar-kacir.

Anjing Mempunyai Sifat Setia

Membuka pintu pun bisa

Tugas anjing berumur 2 tahun itu membantu pekerjaan yang tidak bisa dilakukan Chika seperti mengambil barang jatuh atau meyalakan lampu. Tak hanya itu. Pagi hari anjing pintar itu membangunkan dan membantu Chika mengenakan pakaian. Usai sarapan Kevin pun bersiap mengantarkan sang majikan ke kantor.

Sayang, anjing berbulu cokelat itu tidak diperkenankan masuk area kantor. Saat jam kerja usai, Kevin kembali menemani Chika pulang ke rumah. Dengan langkah tegap labrador itu berjalan di sisi kiri Chika dan menyalak jika berubah arah. Sampai di rumah Gun dog itu langsung meraih gagang pintu dan membukanya. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam dan menyalakan lampu. Itulah rutinitas Kevin setiap hari.

“Dulu sebelum bekerja, kami menghabiskan waktu bersama lebih banyak,” ujar Chika. Kini kegiatan di studio musik P & P, Kyoto, Jepang cukup banyak menyita waktu. Namun, pulang dari kantor mereka selalu menyempatkan diri berjalan-jalan ke taman atau berbelanja di pasar swalayan. Di sana Kevin duduk setia mengawasi gerak-gerik sang tuan. Jika majikannya mengalami kesulitan ia langsung menghampiri.

Aturan baru

Chika & Kevin pasangan tak terpisahkan

Lingkungan sosial di negara Eropa, Jepang, dan Amerika memang surga bagi penyandang cacat. Keterbatasan kemampuan fisik mereka bukan kendala untuk bersosialisasi. Sejak 20 tahun silam, di Jepang penyandang cacat seperti Chika atau tunanetra tidak lagi menggunakan alat bantu tongkat. Mereka lebih memilih anjing. Kini 9 pusat pelatihan anjing di Jepang kewalahan melayani kebutuhan service dog itu. Masing-masing tempat hanya mampu mencetak 100—130 anjing pintar per tahun. Hewan itu dianggap lebih setia dan bersahabat ketimbang manusia.

Menurut Toru Nakamura, pelatih di pusat pelatihan Kanagawa, kebanyakan tunanetra dan pengguna kursi roda yang memanfaatkan anjing pintar itu. Pamor anjing pelayan itu makin meningkat sejak Oktober 2002 dengan diberlakukannya aturan yang melindungi hak pengguna jasa anjing terlatih.

Yoshihiro Muramatsu, menteri Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang menuturkan, penyandang tunanetra, tunadaksa, dan cacat fisik bisa ditemani anjing pintar ke beberapa tempat umum. Syaratnya anjing itu harus lulus pelatihan.

Penggunaan anjing pelayan juga mewabah di Inggris. Asosiasi anjing penuntun tunanetra menyediakan 250 ekor dan 900 pupies tiap tahun. Total lebih dari 4.000 anjing penuntun ada di Inggris. Sama seperti di Jepang, tunanetra peminat terbanyak anjing terampil itu.

Jangan harap menemukan service dog di Indonesia. Di sini anjing dianggap hewan liar yang mudah menyerang. Tunanetra yang menuntun anjing malah dijauhi dan diganggu. “Di tanah air hanya 1—2 orang yang menggunakan jasa anjing pintar. Itu pun jarang dibawa ke tempat umum,” ujar Ridwan Kuswara, pelatih anjing di Bandung. Padahal Indonesia memiliki pelatih andal yang mampu mencetak anjing pintar seperti Jepang.

Rutinitas

Rutinitas, kunci pintar

“Melatih service dog itu mudah, sama seperti melatih anjing penjaga. Tetapi tidak berkembang karena penggunanya tidak ada,” ujar Rachmatdi Hatmosrojo, pelatih anjing di Chambaraya DTC. Waktu yang dibutuhkan relatif singkat hanya 10 bulan. Sejak puppies, anjing bisa mulai dilatih. Dan ketika berumur 10 tahun anjing dipensiunkan, karena kekuatannya menurun.

Pilih anjing bertemperamen tenang, pemberani, pendengaran tajam, tidak mudah stres, kuat, inisiatif tinggi, cekatan, tidak agresif, dan mudah dikontrol. Sifat itu biasanya ditemukan di labrador, golden retriever, atau german sherperd.

Rutinitas, kunci anjing menjadi pintar. Sebelum dididik sebagai pelayan orang cacat, anjing harus menguasai latihan dasar kepatuhan. Setelah itu diajarkan latihan keterampilan dan ketangkasan. Anjing harus melewati berbagai halangan dengan mulus. Ajak anjing ke tempat ramai agar mentalnya terasah. Selain itu juga melatih konsentrasi.

Jika dianggap sudah siap kerja, ia bisa disosialisasikan dengan pemilik baru. Menjodohkan anjing dengan pemilik baru tak gampang. Setelah bertemu dengan anjing yang diinginkan, ia harus menjalani psikotes dan tes kecocokan. Jika tes berhasil, mereka dilatih bersama.

Waktu latihan tergantung kebutuhan si pemilik baru. Untuk tingkat 1 butuh 10— 2 hari, anjing dilatih menuntun. Tingkat II, lebih dari 20 hari, anjing mahir membuka dan menutup pintu dan menyalakan lampu. Pada fase III, tugas anjing lebih berat, hampir seluruh hidup si pemilik tergantung padanya.

Anjing dengan cepat menguasai lingkungan baru. Lantaran rumah penyandang cacat biasanya di desain khusus. Misal untuk telepon dipasang yang bunyinya nyaring dan berlampu. Untuk gagang pintu dan lampu dibuat cara kerjanya hanya naik dan turun sehingga memudahkan kerja anjing.