Menikmati Secangkir Teh Hangat Di Pagi Hari

teh jepang

Setelah memikul hasil panen berhari-hari, banyak pedagang berhasrat memulihkan tenaga yang terkuras. Mereka istirahat sejenak di sebuah kedai teh hangat di tepi hutan Fangcun, Guangzhou, Cina Selatan.

Secangkir kecil teh hangat diseruput dan seketika keletihan berangsur-angsur mereda. Itu memang ritual ratusan tahun silam. Namun, hingga hari ini Fangcun tetap disambangi pedagang dan penikmat teh hangat. Di sana ribuan penjaja memasarkan Camellia sinensis ke seluruh penjuru dunia.

Tentu saja di Fangcun kini pedagang tak lagi menjajakan daun teh di kedai-kedai sederhana. Bangunan mewah, resik, dan permanen berdiri di atas lahan ratusan hektar.

Lokasinya terbelah jalan Fangchun Dadao Xi yang dapat dicapai 50 menit dari Baiyun International Airport. Di sisi kiri dan kanan jalan itu menghampar ribuan toko.

Ukuran setiap kios bervariasi seperti 8m x 5m atau 12m x 6. Namun, banyak pedagang yang mengelola 2 sampai 3 kios sekaligus sehingga tampak lebih leluasa. Di sanalah puluhan jenis daun teh tersedia.

Teh-teh itu dikebunkan di Provinsi Hokian dan Szechwan di sebelah utara Guangzhou. Setelah diolah dan kering, barulah diangkut ke pusat perdagangan teh terbesar di dunia.

Teh Hangat Dari Hokian

Kemudian beragam daun teh bubuk yang tahan simpan hingga tahunan itu dipajang di kios-kios. Calon pembeli tinggal menyebut jenis teh yang diinginkan dan bobot kemasan.

Biasanya pemilik kios menyediakan mesin pengemas khusus teh. Di toko Swang Jing Wang Xing alias Sepasang Daun Emas menyediakan kemasan berbobot 0,5, 1, dan 5 kati. Satu kati setara dengan 500 g.

Sepasang Daun Emas yang dikelola oleh Gao Gen Wang menyediakan beragam jenis teh. Ada puel dan wu lung yang harganya hanya beberapa ribu sampai puluhan ribu rupiah hingga tay kwan in berharga jutaan rupiah per kati. Ragam itu dipengaruhi oleh bahan dan cara olah. Tay kwan in, umpamanya, hanya diambil dari pucuk-pucuk daun teh. Pantas harganya lebih mahal.

Gao Gen Wang mengekspor daun anggota famili Theaceae itu ke berbagai negara seperti Malaysia dan Jepang. Volume ekspor setiap bulan setidaknya 20 ton. Pasar domestik juga menyerap minimal 50 kg teh kering setiap hari.

Tradisi minum teh hangat memang telah mendarah daging bagi masyarakat Cina. “Cha demikian orang Cina menyebut teh mampu menggelontor lemak. Orang terhindar dari kolesterol jahat,” kata perempuan muda itu.
teh hijau hangat

Serba teh

Tak melulu teh hangat yang dijajakan di Fangcun. Ada bermacam-macam bunga kering yang lazim menjadi campuran teh hangat agar aroma menguar lebih harum. Saat menikmati pun lebih sedap. Beragam peranti yang berhubungan dengan tradisi minum teh juga mudah didapatkan. Contohnya beragam bentuk dan bahan cangkir, teko, serta nampan khas Cina.

Dengan ramah para pedagang memanggil pengunjung untuk singgah.

Biasanya secangkir teh langsung dihidangkan sebagai minuman selamat datang. Jika sudah terbiasa, pengunjung dapat memesan jenis daun teh tertentu. Awal musim semi tahun ini, Kami berkunjung ke sana. Ketika suhu bertengger pada kisaran 15 sampai 18°C, berkabut, dan gerimis tak kunjung reda, minum teh hangat merupakan kenikmatan tersendiri.

Tradisi minum teh

Tradisi minum teh hangat berawal dari tepian hutan di Cina. Angin menerbangkan daun Camellia sinensis dan jatuh di atas air yang mendidih. Saat hangat barulah sang raja yang tengah beristirahat usai berburu meminumnya.

Ketidaksengajaan itu terjaga hingga detik ini dan berlangsung di lima benua. Sekarang sang bayu tak lagi dapat diharapkan untuk menyajikan secangkir teh hangat. Lagi pula menghadirkan minuman itu suatu seni tersendiri.

Karena daun teh telah menyebar ke berbagai negara, cara menyeduhnya pun beragam. Budaya setempat mempengaruhinya. Misalnya kaum hawa menengah atas di Jepang yang menyelenggarakan upacara minum teh Cha No Yu. Dengan takzim para undangan yang duduk tenang di atas tikar tatami menjalankan ritual itu.

Sampai-sampai ada sekolah teh yang membekali muridnya cara minum teh yang baik dan benar. Menyajikannya memang bukan sekadar menyiram air panas ke atas rajangan daun teh.

Ada tata cara yang mesti “dipatuhi” agar kelezatannya dapat dinikmati. Perlengkapan yang digunakan amat beraneka dari atas teko hingga pengaduk . Inilah salah satu cara menghidangkan minuman kesehatan itu yang berlangsung di Cina.

Yang Mewarnai Hari dengan Teh

Ritual itu berulang setiap hari. Di sebuah rumah di kawasan elite Puncak Dieng, Kota Malang, ketika jam berdentang 6 kali.

Takarannya selalu sama, dua jumput teh hijau dimasukkan ke dalam teko cina berwarna kecokelatan. Kemudian air mendidih dituangkan ke dalamnya. Aroma segarnya segera tercium, saat berarak mengiringi uap dari lubang teko yang meruncing. Lalu dari lubang yang sama mengucur teh segar yang ditampung di cangkir mungil.

Begitulah bagi Ramlan Siswopranoto, pemilik perusahaan furniture di Krian, Sidoarjo dan Surabaya. Ia selalu mengawali hari dengan menyeruput daun teh. Meski tanpa gula sedikit pun, teh terasa manis. “Setiap pagi saya yang bikin teh hangat sendiri. Orang lain belum tentu tahu takarannya,” katanya. Setelah ritual itu berakhir, sebuah Mercy mengantarkannya ke Surabaya.

Kemudian kebiasaan minum teh itu berulang di kantornya. Ia merasa minum teh di rumah saja belum cukup. Di ruang keijanya yang resik, pria 63 tahun yang tetap gagah itu juga menyediakan peranti ngeteh. Teko, pemanas air, dan tentu saja daun teh hijau. Sepanjang hari, ayah 5 anak itu senantiasa minum teh yang sama. Tak ada minuman lain yang masuk ke mulutnya, selain teh.

Meski sibuk mengatur lalu lintas pengiriman barang ke manacanegara, ia sempatkan untuk meminum teh. Begitu pun usai makan siang. Bahkan menjelang pulang tetap seduhan daun tanaman anggota keluarga puspa-puspaan yang diteguk. Malam menjelang, sembari membaca Ramlan sesekali menyeruput teh dari cangkir kecil. Hari-harinya diwarnai
dengan teh dan teh.

Teh hijau

Rutinitas Ramlan meminum teh hangat bukan baru berlangsung pada hari kemarin, tetapi sejak 15 tahun lampau. Terus-menerus tak pernah putus. Daun Camellia sinensis itu telah menjadi bagian dari hidup ayah 5 anak. Yang dikonsumsinya bukan sembarang teh hangat. Ramlan memilih daun teh hijau yang khusus didatangkan dari Taiwan. Harganya memang relatif mahal, Rp 1 juta per kg.

Namun, faedah dan kenikmatannya benar-benar terasa. Buktinya, selama mengkonsumsi tanaman anggota famili Theaceae itu Ramlan tak pernah ke rumah sakit. Lima belas tahun silam, ia amat tersiksa dengan gangguan jantung yang kerap berdebar kencang. “Kalau sudah begitu, nyeri sekali. Saya tak dapat melakukan apa-apa,” kata penggemar olahraga jalan kaki itu mengenang.

Ketika itu berkali-kali ia berurusan dengan dokter. Suatu siang rekan bisnisnya dari Taiwan datang di kantornya. Di ruang kerja Ramlan, sang tamu minta air mendidih setelah mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya. Dua jumput diambil dan diseduh air mendidih. Beberapa saat teh pun mengembang.

Ramlan mencicipinya. Itulah kali pertama ia merasakan kelezatan teh yang lain. Bukan teh yang biasanya ia rasakan. “Sekarang lidah saya sudah dapat membedakan rasa macam-macam daun teh,” katanya. Sejak itulah teh hijau asal Taiwan selalu hadir di rumah dan kantornya.

Peranti ngeteh

Peranti ngeteh milik Yang Cheng Chung

Teh Hangat Pengusir demam

Yang juga maniak daun teh adalah pembawa acara Emrico Safinka atau populer sebagai Rico Ceper. Seperti Ramlan, Rico juga menikmati teh hangat ketika pagi sebelum berangkat siaran di sebuah stasiun radio di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

“Biasanya sembari memakai sepatu, pelan-pelan saya minum teh hangat. Panasnya pas,” kata sulung 4 bersaudara. Pukul 05.30 ia meninggalkan rumah di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

Di sisi kanan kemudi mobilnya, ia meletakkan bekal sarapan dan teh yang dimasukkan dalam wadah stainless steel. Keduanya bakal dinikmati di antara kesibukan siaran. Segelas teh hangat kembali dikonsumsi setelah makan siang. “Sepanjang ada teh hangat, saya tetap memilih teh,” ujar kelahiran Jakarta 8 Desember 1973 itu.

Begitu pun ketika menjamu rekanan bisnis di kafe, alumnus Universitas Prof Dr Mustopo (Beragama) itu tetap memilih teh. Kebiasaan Rico Ceper mengkonsumsi teh berlangsung sejak duduk di bangku SMP. Saat itu jika gejala demam dirasakannya, “blasteran” Padang-Bogor itu buru-buru minum teh panas. Seiring dengan keringat yang mengucur, demam pun berangsur-angsur hilang.

Pengalaman semacam itulah yang mendorong pemain sineteron Pelangi di Rumah Susun tetap memilih teh sebagai minumannya. Toh, bagi Rico daun teh tak sekadar pengusir dahaga. Namun, juga andil dalam menjaga kebugaran mantan atlet atletik yang beberapa kali berlaga di Pekan Olahraga Nasional.

teh herbal

Teh hijau

Wajar sebagai anak muda ia kerap nongkrong di Sapo Oriental di Plaza Pondok Indah, Jakarta Selatan. Musababnya Sapo Oriental menyajikan hidangan teh hangat cina. Kafe itu dikunjungi setidaknya 135 orang per hari hingga tutup pada pukul 22.00. Diiringi musik khas Cina, daun teh itu dihidangkan di teko persis di negeri leluhurnya.

Sekilo Rp45-juta

Banyak orang seperti Ramlan dan Rico Ceper yang menggilai teh. Sebut saja Dragon Fang. Pengusaha perikanan di Jakarta Barat itu juga mengawali hari dengan minum teh hijau asal Taiwan. Mereka bukan sekadar ingin mereguk kenikmatan, tetapi juga berharap kesehatan. Maklum, senyawa polifenol bersifat antikarsinogenik yang mencegah penyakit degeneratif.

Namun, faedah itu amat terasa jika kebiasaan ngeteh berkesinambungan. Itulah yang disampaikan oleh Yang Cheng Chung. Ia tak akan pernah mau minum, selain minum teh hangat. Tehnya pun khusus didatangkan dari sebuah pegunungan yang produksinya terbatas, cuma 60 kg per tahun. Seluruh produksi itu diborong Yang, yang juga eksportir phalaenopsis.

Harganya? Per boks berbobot 100 g, “hanya” NT 15.000 atau setara Rp4,5-juta. Ya, Rp4,5-juta, Anda sedang tidak salah baca. Artinya harga sekilo teh hijau yang dikonsumsinya Rp45-juta. Namun, ia merasakan betul faedah minum teh: kesehatan dan kebugaran. Di usianya menjelang separuh abad, ia tampak mengatakan tak pernah sakit berat.

“Itu istri saya, tampak langsing kan? Padahal dulu gemuk,” katanya seraya menunjuk perempuan yang tengah membawa pot phalaenopsis. Ketika Kami mengunjungi Spring Sun Horticultura, nurseri miliknya di Pingtung, Taiwan, Yang menjamu dengan seduhan daun teh hijau. Saat dicicipi, awalnya terasa kelat dan agak pahit.

Lama-kelamaan manis tercecap di ujung lidah. tradisi minum teh hangat menjadi bagian dari kehidupan karena telah memberikan kenikmatan. Pun kesehatan. Reguklah keduanya sepanjang hari dari secangkir teh. (Sardi Duryatmo/Peliput: Bertha Hapsari)