Anton-Nb

Yang Mewarnai Hari dengan Teh

Ritual itu berulang setiap hari. Di sebuah rumah di kawasan elite Puncak Dieng, Kota Malang, ketika jam berdentang 6 kali.

Takarannya selalu sama, dua jumput teh hijau dimasukkan ke dalam teko cina berwarna kecokelatan. Kemudian air mendidih dituangkan ke dalamnya. Aroma segarnya segera tercium, saat berarak mengiringi uap dari lubang teko yang meruncing. Lalu dari lubang yang sama mengucur teh segar yang ditampung di cangkir mungil.

Begitulah bagi Ramlan Siswopranoto, pemilik perusahaan furniture di Krian, Sidoarjo dan Surabaya. Ia selalu mengawali hari dengan menyeruput teh. Meski tanpa gula sedikit pun, teh terasa manis. “Setiap pagi saya yang bikin teh sendiri. Orang lain belum tentu tahu takarannya,” katanya. Setelah ritual itu berakhir, sebuah Mercy mengantarkannya ke Surabaya.

Kemudian ritual itu berulang di kantornya. Ia merasa minum teh di rumah saja belum cukup. Di ruang keijanya yang resik, pria 63 tahun yang tetap gagah itu juga menyediakan peranti ngeteh. Teko, pemanas air, dan tentu saja teh hijau. Sepanjang hari, ayah 5 anak itu senantiasa minum teh yang sama. Tak ada minuman lain yang masuk ke mulutnya, selain teh.

Meski sibuk mengatur lalu lintas pengiriman barang ke manacanegara, ia sempatkan untuk meminum teh. Begitu pun usai makan siang. Bahkan menjelang pulang tetap seduhan daun tanaman anggota keluarga puspa-puspaan yang diteguk. Malam menjelang, sembari membaca Ramlan sesekali menyeruput teh dari cangkir kecil. Hari-harinya diwarnai
dengan teh dan teh.

Teh hijau

Rutinitas Ramlan meminum teh bukan baru berlangsung pada hari kemarin, tetapi sejak 15 tahun lampau. Terus-menerus tak pernah putus. Daun Camellia sinensis itu telah menjadi bagian dari hidup ayah 5 anak. Yang dikonsumsinya bukan sembarang teh. Ramlan memilih teh hijau yang khusus didatangkan dari Taiwan. Harganya memang relatif mahal, Rp 1 juta per kg.

Namun, faedah dan kenikmatannya benar-benar terasa. Buktinya, selama mengkonsumsi tanaman anggota famili Theaceae itu Ramlan tak pernah ke rumah sakit. Lima belas tahun silam, ia amat tersiksa dengan gangguan jantung yang kerap berdebar kencang. “Kalau sudah begitu, nyeri sekali. Saya tak dapat melakukan apa-apa,” kata penggemar olahraga jalan kaki itu mengenang.

Ketika itu berkali-kali ia berurusan dengan dokter. Suatu siang rekan bisnisnya dari Taiwan datang di kantornya. Di ruang keija Ramlan, sang tamu minta air mendidih setelah mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya. Dua jumput diambil dan diseduh air mendidih. Beberapa saat teh pun mengembang.

teh 1024x719 Yang Mewarnai Hari dengan Teh
Peranti ngeteh milik Yang Cheng Chung

Ramlan mencicipinya. Itulah kali pertama ia merasakan kelezatan teh yang lain. Bukan teh yang biasanya ia rasakan. “Sekarang lidah saya sudah dapat membedakan rasa macam-macam teh,” katanya. Sejak itulah teh hijau asal Taiwan selalu hadir di rumah dan kantornya.

Usir demam

Yang juga maniak teh adalah pembawa acara Emrico Safinka atau populer sebagai Rico Ceper. Seperti Ramlan, Rico juga menikmati teh ketika pagi sebelum berangkat siaran di sebuah stasiun radio di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat. “Biasanya sembari memakai sepatu, pelan-pelan saya minum teh. Panasnya pas,” kata sulung 4 bersaudara. Pukul 05.30 ia meninggalkan rumah di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

Di sisi kanan kemudi mobilnya, ia meletakkan bekal sarapan dan teh yang dimasukkan dalam wadah stainless steel. Keduanya bakal dinikmati di antara kesibukan siaran. Segelas teh kembali dikonsumsi setelah makan siang. “Sepanjang ada teh, saya tetap memilih teh,” ujar kelahiran Jakarta 8 Desember 1973 itu.

Begitu pun ketika menjamu rekanan bisnis di kafe, alumnus Universitas Prof Dr Mustopo (Beragama) itu tetap memilih teh. Kebiasaan Rico Ceper mengkonsumsi teh berlangsung sejak duduk di bangku SMP. Saat itu jika gejala demam dirasakannya, “blasteran” Padang-Bogor itu buru-buru minum teh panas. Seiring dengan keringat yang mengucur, demam pun berangsur-angsur hilang.

Pengalaman semacam itulah yang mendorong pemain sineteron Pelangi di Rumah Susun tetap memilih teh sebagai minumannya. Toh, bagi Rico teh tak sekadar pengusir dahaga. Namun, juga andil dalam menjaga kebugaran mantan atlet atletik yang beberapa kali berlaga di Pekan Olahraga Nasional.

ramuan teh hijau 300x178 Yang Mewarnai Hari dengan Teh
Teh hijau

Wajar sebagai anak muda ia kerap nongkrong di Sapo Oriental di Plaza Pondok Indah, Jakarta Selatan. Musababnya Sapo Oriental menyajikan hidangan teh cina. Kafe itu dikunjungi setidaknya 135 orang per hari hingga tutup pada pukul 22.00. Diiringi musik khas Cina, teh itu dihidangkan di teko persis di negeri leluhurnya.

Sekilo Rp45-juta

Banyak orang seperti Ramlan dan Rico Ceper yang menggilai teh. Sebut saja Dragon Fang. Pengusaha perikanan di Jakarta Barat itu juga mengawali hari dengan menyeruput teh hijau asal Taiwan. Mereka bukan sekadar ingin mereguk kenikmatan, tetapi juga berharap kesehatan. Maklum, senyawa polifenol bersifat antikarsinogenik yang mencegah penyakit degeneratif.

Namun, faedah itu amat terasa jika kebiasaan ngeteh berkesinambungan. Itulah yang disampaikan oleh Yang Cheng Chung. Ia tak akan pernah mau minum, selain teh. Tehnya pun khusus didatangkan dari sebuah pegunungan yang produksinya terbatas, cuma 60 kg per tahun. Seluruh produksi itu diborong Yang, yang juga eksportir phalaenopsis.

Harganya? Per boks berbobot 100 g, “hanya” NT 15.000 atau setara Rp4,5-juta. Ya, Rp4,5-juta, Anda sedang tidak salah baca. Artinya harga sekilo teh hijau yang dikonsumsinya Rp45-juta. Namun, ia merasakan betul faedah minum teh: kesehatan dan kebugaran. Di usianya menjelang separuh abad, ia tampak mengatakan tak pernah sakit berat.

“Itu istri saya, tampak langsing kan? Padahal dulu gemuk,” katanya seraya menunjuk perempuan yang tengah membawa pot phalaenopsis. Ketika Truhus mengunjungi Spring Sun Horticultura, nurseri miliknya di Pingtung, Taiwan, Yang menjamu dengan seduhan teh hijau. Saat dicicipi, awalnya terasa kelat dan agak pahit. Lama-kelamaan manis tercecap di ujung lidah. Teh menjadi bagian dari kehidupan karena telah memberikan kenikmatan. Pun kesehatan. Reguklah keduanya sepanjang hari dari secangkir teh. (Sardi Duryatmo/Peliput: Bertha Hapsari)

Add comment

Most popular

Most discussed